[17] Rusuh

2.6K 257 11
                                        

Lily berjalan cepat di koridor gedung latihan, mencari sosok yang baru saja ia lihat duduk santai di ruang tengah yang biasanya digunakan member buat Live streaming.

Napasnya sedikit terengah, bukan karena lelah, tapi karena emosinya yang memenuhi kepalanya. Dia tau Delyn itu gampang iseng, tapi untuk kali ini terlalu berlebihan.

Begitu matanya menangkap Delyn yang sedang asyik memainkan ponselnya di sofa, tanpa ragu Lily langsung menghampirinya.

“Kamu apain Oline?”

Delyn mengangkat wajahnya, sedikit mengernyit karena nada suara Lily terdengar tajam. “Aku gak ngapa-ngapain Oline.”

Delyn menatap Lily dengan kening berkerut, memang apa yang bisa dia lakukan ke bocah jangkung yang sering kelebihan gula itu. Yang ada bukan dia yang ngapa-ngapain Oline, tapi dirinya yang diisengin Oline terus-terusan.

“Jangan bohong,” desis Lily, menatapnya tajam. Ekspresinya terlihat serius.

Delyn menghela napas, menaruh ponselnya ke atas meja. “Aku gak bohong Lily, aku gak ngapa-ngapain Oline.” Jarang-jarang Delyn liat Lily gini, anaknya loh biasanya terlalu sabar, sampai buat Delyn gerigitan. Tapi ini kenapa jadi emosi gini?

Lily menyilangkan tangannya di dada. “Kata Oline kamu bohongin dia. Sampe buat dia dan Erine berantem. Mereka udah seminggu gak saling tegur loh, Delyn.” Lily menghela nafas. Gak bisa dia yang marah-marah gitu, tubuhnya gak mendukung, dia jadi kecapean sendiri.

Delyn mendengus pelan, lalu tertawa kecil. “Ooohhh itu, aku cuma iseng kok. Isengin Oline aja. Kalau mereka berantem bukan salahku. Sekali-kali balas Oline lah, dia kan sering iseng juga,”

Lily berdecak, tak percaya dengan jawaban santai Delyn. “Kamu tuh ya…”

Delyn masih santai, bahkan cenderung tak merasa bersalah. “Lah, emang salah aku mereka jadi kayak gitu? Mereka aja yang gampang kepancing. Sumbu pendek.”

“DELYN” Lily natap tidak percaya.

Delyn malah terkikik sendiri.

“Kamu mau kemana?” tanya Delyn saat melihat Lily tiba-tiba berbalik.

“Aku gak mau ngomong sama kamu, sebelum kamu buat Oline sama Erine baikan.”

Delyn buru-buru menahan tangan Lily. “Ihh, Lily kok gitu. Itu kan urusan mere—”

“Kalau kamu gak bohongin Oline, mereka gak akan berantem, Delyn. Kasian tau Oline, dia jadi murung gitu.”

“Tapi kan—”

“Gak cuman Oline, Erine semingguan ini juga keliatan gak semangat.” Potong Lily

“Ya tapi kan—”

“Pokoknya kalau kamu gak buat mereka baikan, aku gak mau ngomong sama kamu,” tukas Lily tegas.

Delyn mendesah, mengacak rambutnya dengan kesal. “Yah, Lily, jangan gitu dong… Aku kan cuma mau ngerjain Oline doang!!”

Namun Lily tak menghiraukannya. Dia sudah berjalan pergi, meninggalkan Delyn yang masih kebingungan dengan situasi yang tiba-tiba berubah pelik.

“Aelah! Kenapa jadi gini sih! Aku kan cuma mau ngerjain Oline doang!!” gerutu Delyn, menendang kecil kaki meja di depannya.

Kini, mau tak mau, dia harus cari cara untuk memperbaiki semuanya. Dan itu jelas bukan hal yang mudah. Si anak Bekasi itu kan pundungan, mana bujuknya susah lagi!!

Delyn mendengus, dengan cara apa dia bisa membuat dua orang itu berbaikan. Bujuk Oline itu mudah, bujuk Erine itu udah kayak nyari petaka.

===

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang