[13]Cemburu

4.3K 298 19
                                        

"Kamu kenapa kok senyum-senyum gitu?" tanya Erine dengan nada curiga, matanya menyipit seolah sedang mencoba membaca pikiran Oline.

"Emang kenapa? Salah ya orang senyum?" balas Oline santai, sambil mencoba menahan senyum yang justru semakin merekah.

Erine menyandarkan dagunya di telapak tangan, menatap Oline dengan mata yang penuh selidik. "Kamu lagi ngeliatin gen 13, kan? Ada yang lucu ya? Atau... ada yang bikin kamu kesengsem?"

Oline mengangkat tatapannya ke arah Erine, menatapnya lamat-lamat sambil berusaha keras menahan tawa. Kalau bukan karena dia sayang sama si induk bebek satu ini, mungkin jidat Erine sudah jadi korban sentilan maut. "Astaga, Erine," gumamnya dalam hati, "kenapa sih kamu tuh hobinya bikin asumsi yang aneh-aneh banget? Mana harus aku lagi yang kena tuduh,"

"Rin," kata Oline akhirnya, dengan nada lelah yang sengaja dibuat dramatis. "Aku tuh senyum bukan karena gen 13. Ngapain juga? Lagi pula mereka kan anak-anak baru. Kecil banget kemungkinannya aku merhatiin mereka sampe segitunya. Perhatian aku ke mereka itu cuma ala kadarnya, sebagai senior."

"Tapi senyummu tadi tuh beda, Line." Erine memajukan tubuhnya sedikit, menatap Oline dengan mata yang makin tajam. "Aku bahkan ragu sama ala kadarnya yang kamu maksud itu gimana," Erine memutar matanya malas. Menusia buaya ini gak b8sa dipercaya.

"Sini, majuan lagi biar aku cium,"

"Heh! -"

Plak.

"Aduh!!"

Erine mendelik doang pas Oline mengusap lengannya yang habis dia geplak. Lagian salah siapa ngomong gak disaring dulu. Untung cuma tangan, gak wajahnya.

"Kenapa sih senyum-senyum, kayak ada sesuatu yang kamu sembunyiin?" Tanya Erine lagi, masih penasaran.

Oline mendesah pelan, menatap pacarnya yang selalu punya bakat luar biasa dalam membuat drama dari hal kecil. "Kamu tuh kenapa, sih? Selalu aja curiga nggak jelas. Aku senyum karena...." Dia sengaja menggantung kalimatnya, menikmati ekspresi penasaran di wajah Erine.

Ini sih, emang Oline yang hobinya iseng banget.

"Karena apa?" desak Erine, suaranya nyaris seperti bisikan.

Oline akhirnya tidak bisa menahan tawanya. Dia menepuk meja pelan sambil menatap pacarnya dengan penuh godaan. "Karena manajer kita tadi bilang kalau kita bakal promosi bareng Telkomsel di teater nanti. Itu alasan aku senyum-senyum."

"Hah?" Erine terlihat bingung. "Cuma itu? Jadi, senyum-senyummu tadi nggak ada hubungannya sama gen 13?"

"Ya nggak lah. Kamu pikir aku segitu kepo-nya sama mereka?" Oline menggeleng sambil tersenyum geli. "Kamu lucu banget sih, Rin. Suka banget bikin asumsi aneh-aneh."

"Erine bersandar ke kursinya sambil cemberut, tapi ada rona merah yang muncul di pipinya. "Ya... siapa tahu aja. Kamu kan suka bikin aku nggak tenang."

"Gimana aku bikin kamu nggak tenang?" Oline mendekat, menatap wajah Erine yang sekarang terlihat malu-malu. "Padahal aku senyum karena mikirin bakal ngabisin waktu bareng kamu, lho. Tampil bareng kamu cuma berdua. Jarang-jarang kan!" Oline menaik turunkan alisnya.

Mendengar itu, cemberut Erine perlahan berubah menjadi senyuman kecil. "Iya, sih. Tapi lain kali jangan senyum-senyum sendirian. Bikin deg-degan."

Oline tertawa kecil, lalu meraih tangan Erine dan menggenggamnya erat. "Kalau aku bikin kamu deg-degan, itu artinya aku masih berhasil jadi pacar yang menarik, kan?"

"Dih!"

Oline tergelak saat lihat Erine yang gak mau mengakui, tapi pipinya malah memerah.

"Jot lagi pengertian banget tumben-tumbenan ngasih waktu berdua buat kita,"

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang