Malam ini dingin dan tenang seperti biasa, bedanya jika malam-malam sebelumnya ketika dingin merayap, selimut lah yang menghangatkan Erine. Sedangkan sekarang, kehangatan itu datang dari seseorang yang beberapa waktu lalu membuatnya uring-uringan, hingga dinginnya malam pun kalah dengan perasaan dingin di hatinya kala itu.
"Kamu udah mau tidur?" tanya Oline pelan.
"Iya."
Hening sebentar. Oline melirik, ingin mengungkapkan sesuatu, tapi ragu. Takut kalau mengganggu persiapan tidur Erine.
"Kalau mau ngomong, ngomong aja. Kamu kira nggak kerasa dilirik kayak gitu," tegur Erine masih di posisinya tanpa menoleh.
"Keliatan ya?"
"Jelas banget, bukan sekedar kelihatan." Tandas Erine yang akhirnya gak tahan buat miringkan badan. "Kenapa?"
Ya gimana, lirikan Oline yang dalam banget gitu, pasti kerasa.
"Rin."
"Hm?"
"Tadi... aku beneran seneng."
Cahaya lampu meja jatuh tepat di wajah Oline yang kelihatan tenang banget.
"Apa?" tanya Erine pelan.
"Kamu ngajak aku nginep. Kamu kangen. Kamu mau aku ada disini." Suara itu rendah, jujur, tanpa drama.
Erine menelan napas kecil. "Aku... emang mau kamu di sini."
Oline senyum tipis. "Aku juga."
Pelan, tanpa minta izin, Oline narik selimut sampai nutup pundak mereka berdua.
"Rin."
"Apa lagi, Line."
"Boleh aku megang tangan kamu?"
Erine diem sebentar. "Cuma megang tangan?" Alis Erine terangkat, jelas banget ada ejekan di wajahnya.
Oline senyum pepsodent mamerin gigi gingsulnya. "Kamu maunya gimana?" Tanyanya balik.
Erine mencibir ringan, dia balikin badan, mepetin tubuh ke Oline. "Maunya dipeluk." Ucapnya sambil narik tangan Oline supaya melingkar di tubuhnya.
Oline jelas nggak nolak, dia langsung narik tubuh Erine lebih merapat, "Mau kayak gini sampe pagi," Gumam Oline sambil mejemin mata, meresapi ketenangan yang hadir.
"Tidur." Ucap Erine sambil tangannya bergerak menggenggam telapak tangan Oline yang melingkar di tubuhnya.
Tanpa kata lagi.
Jadi mereka tidur begitu saja, dua orang yang sudah sama-sama kelelahan, tapi sama-sama tenang karena ada satu sama lain. Hening, hangat, dan menenangkan.
. . . .
Pagi hari ini Bekasi cukup cerah, adem, dan setidaknya hiruk pikuk polusi belum tercium. Masih sejuk-sejuk belum ternoda.
Anehnya, di pagi yang mataharinya masih malu-malu untuk muncul suasana rumah Erine udahh sepi banget.
Mama Erine entah kemana, mungkin sengaja pergi biar dua bocah ini bisa "pacaran halal-halal aja" versi beliau.
Yaaa beliau nggak tau aja gimana tingkah dua orang itu selebihnya. Dan mudahan tetap nggak tau.
Setelah sarapan bareng yang lebih banyak isinya tatap-tatapan sambil senyun-senyum agak kayak orang gila, ketimbang ngobrol, mereka akhirnya mutusin buat jalan-jalan ke mall. Ngabisin waktu berdua, tanpa gangguan. Dan mudahan nggak ketemu anomali lain di mall.
Soalnya, kadang tanpa janjian puuuuuuunnn mereka sering banget, ketemu satu sama lain. Alias member lagi, member lagi.
Hari libur, suasananya lumayan ramai, tapi nggak sampai sesak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
Fiksi PenggemarBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)