[53] Toping

2.4K 249 19
                                        

Office JKT48 siang itu rame, suara staf manggil-manggil, ada yang ngarahin, ada yang breafing , beberapa juga lagi diskusi bahas perubahan gerakan.

Bunyi sepatu member yang keluar masuk, satu dua, tiga, empat- ada banyak.

Aroma kopi dari pantry semilir, aroma mie baru diseduh menguap, semua berjalan seperti hari biasa. Sibuk!

Erine di ruang latihan lagi review koreografi, sementara Oline baru selesai ganti sepatu, sebentar lagi giliran dia. Beberapa kali mereka saling curi pandang tiap ada kesempatan. Senyum tipis lewat gitu aja tanpa perlu kata. Manis banget lah pokoknya. Serasa dunia milik berdua, yang lain tak kasat mata.

Kedekatan mereka di kantor tetap seperti biasa.  Hangat, riuh riang tapi tidak berlebihan. Mereka udah kayak ketemu ritme yang bagus yang bisa dimengerti sama mereka berdua. Nggak jauh tapi juga bukan yang nempel banget.

Begitupun ketika berinteraksi sama member lain. Normal seperti biasa, rame, kadang manja-manjaan juga ke member-member lain, tapi memang nggak bisa dipungkiri, lirikan satu sama lain itu selalu ada.

Saat akhirnya latihan break, mereka siap buat keluar ruangan. Cari cemilan di luar, beli ice cream atau sekedar beli kopi. Tapi pas langkah mereka menuju lift, tiba-tiba seorang staf manggil, otomatis langkah keduanya langsung berhenti.

"Erine, Oline. Ci Shani minta kalian ke meeting room B. Sekarang ya."

Mereka berdua otomatis langsung freeze. Seolah singkrong langsung saling tatap dan wajah yang awalnya riang gembira itu langsung berubah pias. Soalnya wajah si staf keliatan panik.

Kesalahan apa yang sudah kita lakuin?

Pertanyaan itu sama-sama terbayang dalam kepala meski tak terucap.

Erine menatap Oline. "Line..."

"Aku tau." jawab Oline dengan nada yang datar tapi jelas deg-degan.

Mereka jalan bareng, tapi langkahnya sama-sama pelan. Erine narik napas panjang. "Kenapa ya? Kita... nggak bikin masalah, kan?"

"Kayaknya nggak." Tapi tangan Oline dan tangan Erine sempat bersentuhan, dan Oline cepat-cepat geser sedikit. Rasanya jadi nggak karuan, hiruk pikuk kebahagian sebelum ini kayak lenyap gitu aja.

Oline mencoba mengingat, dalam waktu belakangan tidak ada interaksi berlebih antara dirinya dan Erine. Mereka tidak lagi pernah dipergoki oleh sang wakil GM juga.

Lalu, untuk apa pemanggilan ini?

Kesalahan apa yang telah dilupakannya??

Debaran jantung itu makin berdebar kencang, seiring ruang yang dimaksud staff semakin dekat.

Begitu sampai, pintu meeting room sedikit terbuka. Di dalam, Shani duduk sendirian, laptop kebuka, wajahnya serius banget.

Oline refleks berdiri tegak. Narik nafa dalam, coba mengontrol debaran jantungnya.

Erine bahkan menelan ludah. Wajahnya terlihat semakin pucat.

"Masuk," kata Ci Shani tanpa ekspresi.

Mereka masuk.

Pintu menutup.

Suasana dingin.

"Duduk!" Perintah sang wakil GM dengan nada datar.

Keduanya menganggup bersamaan, menarik kursi pelan, seolah jika ada deritan karena gesekan kaki kursi, membuat amarah sang wakil GM bisa meledak.

Shani menatap mereka satu-satu. Lama. Tidak ada senyum. Wajahnya lebih serius daripada saat menegur member yang bercanda ketika GR.

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang