[38] Ke-per-gok

2.9K 277 67
                                        

Oline masih berdiri, pandangannya turun, tapi matanya sesekali melirik ke Erine. Ada rasa gelisah yang nggak bisa dia sembunyikan, meski dia berusaha tegar.

"Kenapa? Hmm" Erine mengusap lengan Oline, dia tau banget kalo pacarnya ini masih belum sepenuhnya nerima untuk menahan diri.

"Aku..." akhirnya dia bersuara lagi, lebih pelan. "Aku nggak bisa pura-pura nggak peduli." Ucapnya serius setengah frustasi.

"Setiap kali liat mereka, aku inget apa yang mereka omongin ke kamu, aku... nyesek. Aku pengen langsung bilang ke mereka, biar ngerti. Tapi aku juga takut... takut kalau aku bikin semuanya salah."

Erine menunduk sebentar, tangannya masih menggenggam lengan Oline. "Aku ngerti, Lin. Aku juga pengen mereka berhenti, tapi kita nggak bisa paksain. Sekarang, yang bisa kita kontrol cuma diri kita sendiri."

Oline menghela napas panjang, bahunya sedikit merosot. "Aku cuma... pengen lindungin kamu, Rin. Tapi rasanya berat banget kalau cuma diem doang. Seolah aku nggak berguna—"

"Heiii!!" Erine langsung menggeleng. "Aku nggak suka kamu ngomong kayak gitu Lin,"

"Habisnya ak—"

Erine mengangguk, "Aku ngerti," matanya berkaca-kaca tapi dia tetap menahan diri. "Ini bukan salah kamu. Kalaupun ada yang salah, ini salah kita berdua karena udah berani memulai."

"Kamu nyesel?"

Erine memicingkan mata, "Kalau aku nyesel, kamu udah aku buang jauh-jauh hari."

Bibir Oline terangkat, senyuman kecilnya langsung terbit pas lihat muka pundung Erine. "Aku sayang kamu, sayang bangettttg.... Maaf ya kalau semuanya jadi berat." Tangan Oline terangkat mengusap pipi Erine pelan.

"Cukup ya Oline Manual. Nggak perlu minta maaf." Erine menyandarkan pipinya di telapak tangan Oline.

"Aku juga berat, Lin. Tapi kita harus sabar. Sekali lagi, ini demi kita berdua. Demi jaga nama kita, dan... demi nggak bikin masalah tambahan."

Oline mengangguk, kedua telapaknya kini m3nangkup pipi menggemaskan didepannya.

"Aku tau—Tapi rasanya kayak ada yang hilang dari aku kalo nggak bisa ngomong apa yang aku rasain ke mereka."

Erine menarik napas dalam, pelan tapi tegas. Dia tau Oline memang selalu vokal, anak ini kadang terlalu berani. Namun sekarang situasinya, tidak benae-benar tepat.

"Aku nggak minta kamu hilangin apa yang ada di diri kamu sendiri. Aku cuma minta kita berdua tahan dulu. Kita masih bisa saling ngerti... bahkan tanpa ngomong ke orang lain."

Oline akhirnya menatap Erine, tatapannya lembut tapi berat. Dia menghela nafas pelan."Kamu bener, Rin. Aku bakal sabar. Tapi jangan salahkan aku kalau di dalam hati aku tetap kesel sama mereka."

Erine tersenyum tipis, hampir nggak terlihat. "Aku juga sama, Oline. Tapi itu rahasia kita aja ya."

"Dan cuma untuk kali ini, kalau lain kali mereka masih kayak gitu—aku gak bakal diem terus." Oline menatap serius, ada tekad kuat dalam tatapannya.

"Ya. Tapi setidaknya ngomong dulu ke aku. Jangan langsung kayak tadi."

Meski berat akhirnya Oline mengangguk. Lagian kapan dia bisa bantah omongan cewek satu-satunya yang paling dia dengerin ini.

Suasana ruangan sejenak hening, hanya suara napas mereka yang terdengar. Mereka berdiri berhadapan, jarak cuma centi,  terasa seperti dunia mereka sendiri. Dalam diam, mereka saling memahami, walau harus menahan diri, walau berat, mereka masih punya satu sama lain.

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang