[58] Runtuh

1.3K 207 43
                                        

Erine nggak langsung turun dari Pangkuan Oline. Dia cuma diam, tangan masih di bahu Oline, menopang keseimbangan yang sebetulnya sudah nggak perlu ditopang. Tapi dia belum bergerak. Dan Oline jelas nggak berniat mengusirnya. Dia menikmati momen itu. Sangat.

Di luar, suara malam Bekasi berlapis seperti biasa. Motor. Angin. Sesekali suara klakson yang volumenya nggak pernah diperkecil.

"Erine."

"Hm."

Oline nggak langsung melanjutkan. Tatapannya berubah dalam, tangannya bergerak pelan di pinggang Erine, bukan mempererat, hanya... ada.

"Kamu beneran nggak apa-apa?" Tanyanya pelan, ingin memastikan, bahwa semua memang baik-baik saja.

Erine membuka mulut. Sudah siap menjawab dengan cara yang biasa,

Iya, tenang, aku udah biasa, ini sudah menjadi bagian hidup kita, semenjak... semenjak memilih bergabung dalam dunia idol grup, tapi entah kenapa kali ini kalimat itu nggak keluar.

Pada akhirnya, dia menutup mulutnya lagi.

Oline menunggu. nggak mendesak.

"Aku..." Erine mulai, lalu berhenti.

Ini aneh. Dia nggak biasa berhenti di tengah kalimat seperti ini. Biasanya kata-kata penenang datang rapi, diukur, sudah disaring sebelum keluar. Tapi sekarang ada sesuatu yang mengganjal di antara apa yang ingin dia katakan dan apa yang biasa dia izinkan untuk diucapkan.

Mungkin tanpa disadari sang pemilik kepala, bahwa dirinya belakangan semakin berhati-hati dalam mengungkapkan isi kepaalnya sendiri. Bukan karena tidak nyaman, lebih pada tidak ingin ada huru-hara yang tidak seharusnya kembali terjadi.

"Capek," katanya akhirnya. Satu kata. Tapi nadanya berbeda dari tadi, lebih berat, lebih dalam, seperti diangkat dari tempat yang sudah lama sengaja dia tutup.

Oline nggak bergerak. "Capek yang tadi? Atau capek yang lain?" tanyanya lebih dalam.

Erine menatap titik di bahu Oline. nggak langsung menjawab.

"Yang lain," akunya pelan.

Kamar itu tiba-tiba terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Kejujuran itu akhirnya keluar.

"Sebenernya..." Erine menarik napas pendek. "Dari tadi malam aku udah baca semuanya." Ia menggeleng tipis. "Dan..." Erine menghela nafas, terdengar lelah, "Aku nggak tidur." pada akhirnya, dia memilih mengaku.

Oline menahan diri untuk nggak langsung bereaksi. Dia tahu kalau dia meledak sekarang, Erine akan berhenti bicara. Dan dia nggak mau itu terjadi.

"Aku baca satu per satu," lanjut Erine, suaranya masih terkontrol tapi ada getaran kecil di titik awal. "Dan aku... gak marah. Tapi gak baik-baik aja juga."

"Kenapa nggak bilang dari tadi?"

Erine akhirnya mengangkat kepalanya, menatap Oline. "Karena kamu sudah cukup kesel untuk kita berdua. Kamu sudah sangat emosi degan apa yang terjadi."

Oline terdiam.

"Kalau aku ikut keluar rasanya," lanjut Erine pelan, "Siapa yang memegang semuanya? Apa jadinya kalau kita berdua sama-sama meledak?"

Kalimat itu jatuh begitu saja. Sederhana. Tapi Oline mendengar apa yang ada di baliknya, kebiasaan panjang yang sudah jalan otomatis. Kebiasaan jadi yang tenang. Jadi nggak perlu bertanya-tanya.

"Erine." Suara Oline turun, lebih lembut. "Kamu nggak harus memegang semuanya."

Erine nggak menjawab. Matanya bergerak ke samping, menghindari.

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang