Erine duduk di kursi ruang tunggu staff, jantungnya berdebar nggak karuan. Tangan yang dari tadi dia taruh di paha bahkan berkeringat. Udah tiga kali dia tarik napas dalam-dalam, tapi tetap aja, dadanya sesak.
Di luar ruangan, suara beberapa member latihan masih samar-samar kedengeran. Tapi pikirannya gak di sana. Pikirannya cuma muter di satu hal, Oline. Cewek jangkung yang sering nyebelin tapi disayang itu benar-benar menjadi sumber gundah gulananya beberapa waktu terakhir.
Daaaannnn karena cewek itu pula dia ada disini!!!
Tiga hari lagi STS–show yang mengandung perayaan ulang tahunnya di teater. Biasanya, sebelum show theater itu datang, dia nggak kepo sama siapa aja yang bakal tampil. Line up member buat dia nggak pernah jadi masalah.
Tapi kali ini... entah kenapa, ada perasaan aneh yang nyangkut di dadanya. Dia khawatir bahkan saat jadwal line up belum diumumkan.
Semenjak kejadian di mall itu, dan kata-kata Delyn yang terus terngiang, Erine gak tenang. Dia gak bisa lagi pura-pura cuek. Dia mulai frustasi.
Akhirnya, setelah beberapa detik yang terasa kayak selamanya, pintu ruang staff kebuka. Shani keluar sambil nenteng map dan tablet, kelihatan sibuk banget tapi tetap senyum waktu lihat Erine.
"Oh, Erine? Lagi nunggu siapa?" Suara Shani lembut tapi tegas–khas dia banget.
Erine langsung berdiri kaku, refleks nunduk sedikit. "Eh, Itu ci, eee nunggu cici. Eh enggak–aku cuma mau... mau nanya sesuatu." Ucap Erine kaliatan kalo dia lagi gugup banget.
Masalhnya terakhir-terakhir ketemu sang wakil GM pasti dalam keadaan yang malu-maluin diri sendiri.
Shani ngangguk, matanya menatap ramah. Padahal dia ngerasa nggak pernah galak, tapi kenapa member banyak yang jadi gagu kalo ngomong sama dirinya, apakah dirinya ini orang yang menyeramkan bin menakutkan??
Shani mengerjap pelan, "Boleh, sini. Tapi sambil jalan ya, aku harus balik ke ruang kontrol bentar."
Erine nganguk, langsung ikut jalan di sebelahnya, tapi jelas gugupnya nggak ilang. Tangannya mainin ujung jaket, suaranya pelan waktu akhirnya buka mulut,
"Ci Shani... aku mau nanya soal pertunjukan theater nanti yang training boleh?"
"Hmm, kenapa?" Shani melirik sekilas.
Erine ragu sepersekian detik. Terlalu ragu, bahkan. Tapi akhirnya dia paksa juga suaranya keluar. Udah kepalang tanggung, udah disini juga.
"Member yang tampil... Oline ada gak, Ci?" pertanyaan itu akhirnya keluar, meskipun dia perlu mengumpulkan keberanian hingga diluar batas nyalinya.
Langkah Shani sempat melambat. Dia noleh, pandangannya lembut tapi tajam—kayak bisa langsung baca isi hati Erine.
"Kenapa nanyanya Oline? Kalian lagi berantem? Atau malah udah putus?"
Erine sempat terperangah tapi cepat-cepat geleng, senyum canggung. "Ah, nggak gitu ci, cuma... penasaran aja. Kan kemarin-kemarin dia jarang latihan. Takutnya dia gak tampil."
Shani diam sebentar. Terus dia senyum kecil, angguk pelan. "Jadi nggak putus ya..." senyum penuh arti Shani terbit. "Kalau gak ada perubahan jadwal, Oline tampil, kok. Tenang aja, kesayangan kamu itu, pasti ada di hari spesial kamu, masa kami pisah,"
Erine meringis pelan. Jawaban itu harusnya bikin Erine lega. Tapi yang muncul malah rasa campur aduk—antara lega, takut, dan... nyesek. Tapi juga ada malu-malunya. Kenapa sang wakil GM ngomongnya begitu membuat dirinya jadi salah tingkah diatas campur aduk perasaannya.
"O-oke, makasih ya, Ci,"
Shani masih ngeliatin dia beberapa detik, terus nepuk bahu Erine pelan.
"Erine."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
Fiksi PenggemarBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)