Erine berdiri di depan kompor, masih dengan hoodie longgar dan rambut dikuncir asal. Wajahnya serius, fokus nyari tahu mana yang duluan, air mendidih atau Oline selesai mandi. Sampai akhirnya dia cuma nebak-nebak doang.
Gak lama suara langkah pelan terdengar di belakangnya, tapi Erine terlalu fokus buat sadar.
Oline datang diam-diam, sudah ganti baju pinjaman dan rambutnya dicepol asal. Matanya nyorot usil. Target terkunci.
Dia ngendap dari belakang, pelan, pelan…
Lalu HOP! dia peluk Erine dari belakang.
“Hei—!!”
Erine kaget hampir loncat, sendok kayu yang dipakai ngaduk telur orak-arik nyaris mental.
“OLINE!”
Oline ketawa cekikikan sambil nyenderin dagunya di pundak Erine. “Dikit ajaaa... healing peluk. Kamu masih wangi habis mandi, Rin…”
“Dasar gila,” gumam Erine, tapi gak langsung lepasin diri.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu, “Lepas. Aku lagi masak.”
“Tapi kamu gak nolak,” bisik Oline sambil senyum penuh kemenangan.
Erine cuma mendengus. Tapi saat Oline gak juga lepas, dia tarik tangan Oline pelan dan mendorongnya mundur.
“Satu menit. Cukup. Nanti telornya gosong.”
Oline melangkah mundur sambil masih senyum. Dia gak nekat-nekat banget. Gimana kalau ketahuan kan!Tapi begitu duduk di meja, dia matanya nggak lepas dari punggung Erine.
“…Kamu lucu banget kalau lagi marah tapi gak tega.” ucap Oline masih natap punggung Erine yang sibuk masak.
Erine nggak jawab. Tapi dia senyum kecil. Sedikit. Nyaris gak keliatan. Setelah masak selesai, Erine naruh dua piring di meja.
“Makan. Tapi kalau kamu colek aku lagi, aku suapin kamu sambil berdiri di depan Mamaku.”
Oline melongo. “Berani, Rin?”
“Coba aja liat.”
“…Iya, iya, gak akan deh...” Tapi mulut Oline gak berhenti nyengir.
Dan di antara sendok, telur, dan tatapan mencuri-curi... pagi itu akhirnya terasa seperti pagi yang damai. Chaos—tapi damai.
Suasana baru, mulai adem, tentram, damai. Oline udah mulai makan, Erine duduk di seberangnya, diem-diem ngeliatin Oline yang dengan cueknya nyuap nasi dan telur kayak gak ada masalah semalem. Sedikit awkward tapi nyaman.
Sampai…
Ckrek
Pintu dapur kebuka. Muncul sosok Mama Erine—dengan daster, rambut cepol setengah rapi, dan senyum licik khas mama-mama yang tahu lebih dari seharusnya.
Oline nyaris kecekek nasinya.
“P-pagi tante…” Sapanya dengan susah payah menelan makanan yang sudah dalam mulutnya.
“Pagi… Udah pada sarapan ternyata,”
"I-ya tante,"
Erine ngangkat alis sebentar ke arah mamanya, tapi balik lagi ngaduk nasinya.
Mama Erine jalan pelan ke arah meja, ngelewatin Oline. Lalu—dengan gerakan halus penuh senjata tersembunyi—dia mengedipkan mata sambil tersenyum yang lebih mirip ejekan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
FanfictionBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)