[29] Imbas

2K 245 28
                                        

Lorong lantai dua terdengar riuh, akibat musik dari ruang latihan terdengar keluar karena pintu sedang terbuka.

Lampu-lampunya gak semuanya nyala, cuma beberapa membuat suasana remang. Angin dari arah tangga berdesir pelan, membawa kesejukan.

Dua anak gen 11 duduk selonjoran di lantai, milih istirahat dilorong, masih pakai baju latihan, masih keringetan, lagi ngadem. Lagi mengistirahatkan diri, dari latihan yang hampir mirip latihan militer dan dari bising teman-temannya yang lain di dalam.

"Kalian ngomongin siapa kemarin?"

"Eh kak!" Dua-duanya kaget. Gak ada suara langkah kaki tapi tiba-tiba ada suara manusia.

"Jadi... Kemarin saya dengar nama Oline, Erine... terus 'pacaran beneran', ya?" Staf itu langsung to the point. Nadanya tenang. Terlalu tenang, malah.

"HAH!"

Cathy sampai reflek nyembunyiin botol minumnya ke belakang. Padahal itu botol minuman gak ada salahnya, bukan barang terlarang juga. Mukanya pucat kayak kehabisan darah. Gendis nyaris loncat dari duduknya, nahan napas, tangan langsung meremas lutut.

Dihadapannya kini salah satu staf senior yang biasanya megang evaluasi dan etika member, berdiri dengan tatapan galak. Wajahnya datar. Matanya tajam. Dan di tangan kirinya, ada earphone wireless yang tadi dia copot dari telinganya.

Cathy langsung panik. Matanya membesar. Jadi kemarin... ada yang dengerin omongan mereka?

Staf itu mengangkat alis, menunggu jawaban.

Cathy meneguk ludahnya kasar, menyadari tidak mungkin ngeles melihat wajah staf yang terlihat serius.

"Bukan, kak, maksudnya kami tuh kayak—" Suaranya terbata, nyaris gak keluar.

"Bercanda doang!" sambung Gendis cepat. "Cuma analisa fans, gitu, kak. Kan fans juga banyak yang suka ngarang-ngarang. Suka halu. Kita ngomongin itu."

Staf itu menatap mereka lama. Lama banget. Sampai Gendis dan Cathy gak berani napas keras-keras. Takut salah nafas, bukannya masuk paru-paru malah masuk lambung.

"Analisa fans ya," ulang kakak staf

Keduanya mengangguk cepet, kelewat cepet malah. Jelas banget mereka lagi dalam mode bertahan hidup.

"Kalau begitu, saya akan tanya satu kali lagi. Dan tolong jawab jujur."

Gendis dan Cathy kaku. Jantung mereka kayak ngetuk keras di dada. Serius. Ini bukan vibe biasa. Ini lebih nyeremin daripada di briefing sama GM Melody Nur Ramdhani Laksani.

"Kalian pernah dengar atau lihat langsung... interaksi mencurigakan dari Oline dan Erine? Yang bisa masuk kategori... melanggar kontrak?"

Suasana makin sunyi. Bahkan suara dari dari ruang latihan dance tiba-tiba musiknya gak terdengar ke sini. Seolah dunia sengaja diem buat ngasih ruang ke percakapan horor ini tanpa gangguan.

Gendis dan Cathy saling lirik. Pandangan mereka sama, panik. Bimbang. Bingung.

Mereka gak tau harus jujur atau gak. Di satu sisi, mereka gak yakin soal 'bukti' apa yang dihitung sebagai pelanggaran. Tapi disisi lain, mereka tau memperkuat kecurigaan staf bisa jadi awal dari... konsekuensi serius. Dan entah bagaimana nasib tidak berpihak, mereka lah jadi pemicunya.

Akhirnya Cathy buka suara. Pelan. Hati-hati banget.

"Kak... kami gak pernah liat yang kayak gitu. Cuma... mereka memang deket. Tapi semua member juga punya sahabat deket, kan kak?"

Sang staf hanya menatap, masih belum ngomong. Tapi dia buka HP-nya, dan ngetik sesuatu. Gendis menelan ludahnya. Apakah ini pertanda buruk?

"Member yang saling deket itu udah biasa kan, kak?" Cicit Gendis mencoba menyelamatkan keadaan.

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang