Backstage setelah show selalu punya energinya sendiri. Bukan sepi. Tapi juga bukan rame yang fokus ke satu titik. Banyak wanita, banyak acara.
Beberapa orang lagi ganti baju, beberapa lagi duduk sambil minum air sebanyak yang bisa ditampung tubuh manusia, beberapa lagi sibuk buat video pendek untuk mengisi feed media sosial mereka. Cukup sibuk.
Dan di satu sudut, ada satu kerumunan kecil yang baru kebentuk.
Pusatnya adalah artis centilnya jkt48, Muthe.
"Eh, Line," panggil Muthe, jalan santai ke arah Oline yang baru duduk buat minum air. Tangannya udah terbuka kayak mau ngerangkul. "Foto bareng dong." Ajaknya semangat.
Oline ngangguk gampang walaupun ekspresinya terlihat bingung. "Boleh."
Tapi Muthe nggak langsung narik Oline. Dia malah noleh dulu, nyari satu sosok tertentu di antara kerumunan kecil itu.
Ketemu.
Erine, yang lagi sibuk minum air di pojokan, nggak sadar lagi diliatin.
Muthe nyengir.
"Erine," panggilnya, suaranya dibuat sopan banget, sopan yang kelewat sopan sampe kedengeran mencurigakan. "Izin pinjem Olinenya ya, buat foto bareng."
Erine keselek.
"KAK—"
"Sebentar doang," Muthe lanjut, masih dengan nada manis yang sama, udah narik Oline ke sampingnya buat pose. "Nggak lama."
Oline mengerjap ringan,
Orang-orang di sekitar yang denger langsung nyengir. Bukan cuma denger, tapi juga ngerti banget maksud di baliknya. Muthe bisa aja langsung foto tanpa basa-basi izin segala. Tapi nggak. Dia sengaja.
Nah ini, firasat buruk yang Oline rasakan aneh tadi, bukan tentang fotonya tapi niat terselubungnya. Naasnya Oline cuma bisa nyegir, sambil garuk kepala.
"Kak Muthe—" Erine masih berusaha protes, walau suaranya udah nggak galak, lebih ke ngerengek.
"Hm?" Muthe nengok, masih sambil pasang pose buat kamera, ekspresinya innocent banget.
"Nggak usah izin-izin gitu." Cemberut Erine
"Lah kenapa? Sopan kan harus izin dulu." Wajah polos Muthe, bener-bener ngegambarin junior yang ngajak foto seniornya. Benar-benar akting yang sangat bagus.
"Itu bukan sopan, itu—" Erine nggak nemu kata yang pas. "Itu nyebelin."
"Loh, kamu nggak ngasih izin?" Muthe semakin mendalami perannya, sengaja.
"BUKAN GITU—"
"Berarti nggak boleh?" Muthe pura-pura mau lepas dari Oline, gerakannya dibuat dramatis banget.
"Boleh! BOLEH! Cepetan fotonya, yang banyak juga nggak apa-apa." Dengus Erine pelan
Muthe ketawa puas, langsung balik pose sama Oline yang dari awal diem aja, nggak protes, nggak ikut campur.
Oline cuma berdiri di situ, tangannya santai di saku, mukanya datar-datar aja kayak orang yang nggak ngerti sedang jadi objek perebutan izin.
Tapi matanya, kalau diperhatiin baik-baik, sesekali ngelirik ke arah Erine. Cuma sekilas. Cuma buat liat reaksinya. Ada secuil rasa takut, kalo Erine beneran ngambek karena terus di ceng-cengin. Meskipun, dia juga korban. Korban yang menikmati suasana.
Dan untungnya reaksinya masih sama. Erine yang berusaha keliatan kalem tapi telinganya udah merah duluan.
Oline nggak bilang apa-apa. Tapi dalem hati, dia menikmati banget situasi ini. Kapan lagi ya kan!
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
Fiksi PenggemarBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)