Minggu berikutnya setelah Oline dan Erine baikan, hubungan mereka kembali seperti semula, bahkan mungkin lebih baik dari sebelumnya. Namun, suasana di antara mereka sedikit berbeda—lebih lembut, lebih penuh perhatian. Seolah pertengkaran itu justru membuat mereka semakin menghargai satu sama lain.
Malam semakin larut saat Oline dan Erine akhirnya keluar dari area teater. Lampu-lampu mall yang mulai redup menandakan kalau tempat ini sebentar lagi akan benar-benar sepi. Hanya ada beberapa pegawai yang masih beres-beres, sesekali terdengar suara troli yang didorong, menciptakan gema kecil di tengah lorong yang luas.
Oline dan Erine berjalan beriringan menuju lobbi Fx Sudirman, setelah selesai latihan di teater. Inilah rutinitas mereka, terlihat ringan, biasa aja, cenderung dianggap mudah oleh banyak orang, padahal lelahnya luar biasa.
Meskipun lelah, senyum tidak pernah lepas dari wajah mereka. Oline, yang biasanya lebih banyak bicara ketika berdua, kali ini lebih banyak mencuri pandang ke arah Erine.
Oline berjalan santai di samping Erine, tangan dimasukkan ke dalam kantong hoodie-nya. Sementara Erine, meskipun terlihat tenang, sebenarnya tubuhnya mulai terasa lelah setelah latihan seharian. Tapi seperti biasa, dia gak pernah mau kelihatan lemah di depan orang lain.
“Kamu kenapa sih senyum-senyum sendiri?” tanya Erine sambil melirik ke arah Oline.
Oline terkekeh kecil, menoleh ke arah Erine sambil memasang ekspresi sok misterius. “Nggak, cuma seneng aja. Akhirnya kita udah nggak berantem lagi.”
Erine menghela napas panjang.Bukan karena kesal, tapi lebih karena perasaannya sendiri yang juga campur aduk. “Iya, aku juga.” Erine pun mensyukuri itu, meskipun dendamnya ke Delyn masih tersimpan.
Mereka berdua terdiam sebentar, menikmati momen langka di mana mereka gak perlu berbicara banyak tapi tetap merasa nyaman. Angin malam yang masuk dari pintu kaca membuat suasana terasa lebih adem. Oline tiba-tiba meraih tangan Erine, membuat gadis itu tersentak kecil.
“Lin…” Erine menatap Oline, yang kini tersenyum lembut.
Oline cuma tersenyum lembut, genggamannya hangat, beda dari biasanya. "Erine, minggu lalu kita berantem lama banget, dan aku sadar aku bener-bener nggak suka kalau harus jauh dari kamu."
Erine diam, memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Oline.
"Jadi… aku mau kita lebih jujur satu sama lain mulai sekarang. Nggak ada lagi salah paham kayak kemarin. Tolong ingetin aku juga, kalau aku mulai keras kepala," lanjut Oline, suaranya lebih pelan, hampir seperti bisikan di tengah malam yang tenang.
Erine menatap mata Oline dalam-dalam sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Aku juga nggak suka kalau kita berantem. Rasanya nggak nyaman. Lain kali kalau ada apa-apa mending kita omongin pelan-pelan ya," katanya, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.
Oline mengangguk mantap. "Berarti kita sepakat?"
Erine tersenyum tipis sebelum akhirnya menggenggam balik tangan Oline, kali ini lebih erat. "Sepakat."
Langkah mereka terhenti di lobi, tempat di mana biasanya mereka menunggu jemputan. Erine melirik Oline yang terlihat senyum-senyum sendiri. Dia mengernyit curiga.
Seakan momen itu jadi penutup yang pas, klakson mobil berbunyi pelan di depan lobi. Owen baru saja tiba.
"Ya ampun, akhirnya!" keluh Owen begitu melihat adiknya dan Erine berjalan ke arah mobil. Wajahnya sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan, ditambah lagi dengan perjalanan pulang yang akan lebih panjang.
Erine sempat ragu saat melihat Owen di balik kemudi, bukan sopir Oline. Sejujurnya, dia gak enak karena harus merepotkan kakak Oline buat mengantarkannya juga. Tapi Oline seakan bisa membaca pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
FanfikceBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)