[4] Pundak Ternyaman

4.2K 298 4
                                        

Suasana ruang latihan sore itu seperti biasa dipenuhi dengan suara riuh rendah. Gelak tawa, canda, dan lantunan musik dari speaker menciptakan suasana khas yang sudah tidak asing lagi bagi para anggota JKT48 generasi 12. Oline berjalan perlahan dari satu sisi ruangan, menyelip di antara beberapa teman yang sedang sibuk mengobrol, dan akhirnya duduk di samping Erine. Padahal, awalnya dia duduk di ujung ruangan yang berlawanan.

Erine yang asyik dengan ponselnya sempat melirik sekilas, tapi tidak terlalu memperhatikan. Hingga tiba-tiba, kepala Oline bersandar di pundaknya.

"Ngapain?" tanya Erine tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

"Apa?" balas Oline dengan nada pura-pura tidak tahu.

"Ngapain kamu pindah kesini?" Erine mengerutkan dahi sambil melirik tajam ke arahnya.

"Ya, datengin pacar aku lah!" jawab Oline santai dengan senyum menggoda.

Erine langsung mendelik, wajahnya memerah seketika. "Ngomong apa barusan?!" sergahnya setengah berbisik, takut ada yang mendengar.

"He he he, piss!" Oline mengangkat dua jarinya membentuk tanda perdamaian. Wajahnya pasang raut polos, meskipun jelas-jelas dia sengaja. "Bercanda, kok. Beneran!" ujarnya sambil meringis, mencoba meredakan kemarahan Erine.

Erine memutar mata, kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar. Untungnya, member yang lain sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang berlatih gerakan, ada yang bercanda di sudut ruangan, dan ada juga yang fokus di depan cermin memperbaiki ekspresi mereka. Tak ada satupun yang tampaknya memperhatikan mereka.

Disisi lain, Oline memejamkan matanya, seolah tidak peduli pada apa pun. Dia memang lelah setelah latihan intens hari ini, dan kenyamanan pundak Erine terasa seperti surga kecil di tengah kesibukan.

Erine kembali fokus ke ponselnya, tapi perhatian itu teralihkan saat mendengar napas Oline yang teratur. Ia menoleh dan mendapati gadis itu benar-benar tertidur. Wajah Oline terlihat damai, dengan rambut sebagian menutupi pipinya. Erine diam-diam tersenyum kecil.

"Lah, beneran tidur," gumam Erine pelan. Ada sedikit keheranan di wajahnya, tapi juga rasa hangat yang sulit dijelaskan.

Sebenarnya, Erine sendiri masih tidak percaya bahwa ia dan Oline akhirnya menjalin hubungan-meskipun diam-diam. Hubungan itu bermula dari interaksi kecil yang tanpa disadari berlanjut menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Erine melamun sejenak. Kalau dipikir-pikir, hubungan ini tidak mudah meskipun belum lama terjalin. Bohong kalau dia baik-baik saja harus berpura-pura cuek di depan umum atau di media sosial.

Padahal, kadang ia juga ingin bebas bercanda, saling perhatian, atau bahkan sekadar memanggil nama Oline dengan lembut seperti anggota lain melakukannya. Tapi itu tidak mungkin. Setiap gerakan mereka selalu diawasi. Fans? Jangan tanya. Jika mereka melihat interaksi yang sedikit saja terlihat berbeda, habislah. Namanya akan jadi viral, bahan gosip, atau bahkan teori konspirasi di Twitter.

Ia memandang Oline yang masih terlelap, menyadari betapa ia menikmati momen seperti ini. Di sini, di ruang latihan yang ramai, mereka bisa menjadi diri sendiri tanpa terlalu terlihat. Setidaknya untuk saat ini.

Tidak lama kemudian, salah satu member tertuanya generasi 12, Lana melangkah mendekati mereka. "Erine, Oline ngapain tidur di pundakmu?" tanyanya sambil tertawa kecil. Terlihat jelas ada tatapan menggoda.

"Dia kecapekan, mungkin," jawab Erine singkat, berusaha terdengar santai.

"Hmm..." Lana mengerutkan dahi sejenak, tak lama dia tersenyum jahil. "Kalian ada apa-apa, ya?" godanya dengan lebih terang-terangan.

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang