[32] Belum Siap Nerima!

2.2K 339 102
                                        

Kamar Erine sunyi. Lampu meja kecil menyala redup, tapi cahaya dari layar HP lebih terang dari apapun. Pikirannya berkecamuk, antara melanjutkan semuanya seolah itu murni pilihannya atau menceritakan yang sebenarnya.

Hati kecilnya mengingatkan, merahasiakan semua ini dari Oline hanya akan membuat hubungan mereka berada pada kubangan yang semakin curam. Namun disisi lain, Erine tau Oline, anak itu gak mungkin tinggal diam saja jika tau. Oline bisa mengambil keputusan gila dan mengorbankan dirinya sendiri, sebagai contoh seperti dulu, saat ketahuan sang wakil GM ketika itu, Oline lebih memilih menanggung semuanya sendiri. Erine tak ingin Oline melakukan hal yang serupa.

Matanya kembali menatap layar ponsel, chat dari Oline masih terbuka. Belum terbalas.

[Kamu beneran nutup diri dari aku? Bahkan di luar kegiatan kita sebagai member?]

Chat kedua tiba-tiba datang,

[Aku setuju buat jaga jarak, meskipun itu murni keputusan kamu sendiri, tanpa nanya pendapat aku. Aku tau saat ini, jaga jarak adalah hal terbaik buat dilakuin menurut kamu. Aku terima. Tapi di cuekin di chat bahkan telpon juga diabaikan, apa ini adil?]

Erine menghela nafas. Dia tau ini memang tidak adil untuk Oline. Dia sendiri sedang bimbang, bingung dan juga takut.

Banyak hal yang dia pertaruhkan saat pada akhirnya memilih bergabung menjadi member. Dirinya yang biasanya aktif berkegiatan, organisasi bahkan banyak perlombaan, akhirnya memilih melanjutkan sisa studinya dengan homeschooling. Cukup dengan kegiatan belajar seminggu tiga kali dan kegiatan jkt48. Meninggalkan semua rutinitas yang dulu dia banggakan.

Sekarang.... Saat harus melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah, dirinya memilih kampus yang kemungkinan memudahkan dalam memberi toleransi dengan padatnya kegiatan jkt48 nantinya.

Dia tidak bertarung untuk mendapat kampus ternama maupun kampus negeri seperti kebanyakan teman sekolahnya.

Dengan semua pengorbanan itu... Jujur–dirinya tidak akan sanggup jika namanya tercoreng. Dia tidak ingin turun, tidak ingin memiliki jejak digital yang akhirnya akan dia sesali. Selama ini, dia sudah dan selalu berusaha memberi yang terbaik.

Memilih antara masa depan dan perasaan tidaklah mudah. Dia juga terluka, dengan berjauhan seperti ini. Tapi harus gimana lagi??

Chat ketiga datang–

Erine menghela nafas. Dia bahkan masih bingung harus menjawab apa.

[Oke deh, kalau itu keputusan kamu. Aku gak akan maksa. Tidur yang nyenyak ya. Besok kita bareng sarapan kalau kamu sempat. Aku tunggu ditempat biasa.]

Kalimat yang ringan. Hangat. Tapi malam ini terasa kayak tonjokan lembut ke dada Erine.

Bukan karena salah.

Tapi karena terlalu baik... untuk dibalas biasa apalagi jika sampai tidak dibalas.

Jika orang lain di posisi Oline, mungkin dirinya sudah dicampakan, atau minimal menerima kemarahan yang meledak-ledak. Tapi ini Oline, yang menurut Moreen, Oline adalah member terpeka di generasi merekaa. Member yang selalu mengerti keadaan orang-orang disekitarnya, sayangnya dia lebih sering mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.

Erine gak langsung ngetik. Dia baca ulang isi chat itu. Beberapa detik, lalu tutup layar. Tapi cuma satu menit, dan dia buka lagi.

Tangannya ngetik perlahan.

[Lin, kita gak bisa terus kayak kemarin-kemarin.]

[Aku sayang kamu, kamu tau itu.]

[Tapi perhatian sekecil apapun dari kamu sekarang bisa jadi bom waktu.]

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang