Oline menghela napas panjang. Rasanya hari ini dia sedang berjalan di atas es tipis—salah sedikit, dia bisa tenggelam dalam lautan amarah Erine. Tapi, kalau dia hanya diam saja tanpa mencari tahu, dia juga tidak akan mendapatkan jawabannya.
Dia menoleh ke arah Erine yang masih duduk bersama Aralie dan member lain. Wajahnya terlihat lebih santai saat berbicara dengan mereka, berbeda jauh dari ekspresi tajam yang tadi dia tunjukkan ke Oline. Entah kenapa, itu membuat dada Oline terasa sedikit sesak.
“Kenapa malah ngomong sama mereka sih, bukannya sama aku?” gumam Oline pelan, tapi cukup untuk didengar oleh seseorang yang lewat.
“Nah, sadar juga akhirnya,” suara Delyn tiba-tiba terdengar dari samping, membuat Oline sedikit terlonjak.
“Tante! Ya ampun, kamu ini suka muncul tiba-tiba banget deh,” keluh Oline sambil memegangi dadanya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang sedikit melonjak karena kaget.
Delyn mendengus pelan. Hanya Oline makhluk di gen 12 yang masih seenak jidat manggil tante. Mau diomelin gimanapun juga gak mempan. Namun pada akhirnya Delyn memilih mengabaikannya.
“Tadi aku lewat terus denger kamu ngomel sendiri. Jadi, udah sadar kalau pacarmu lagi ngambek berat?”
“Ya sadar sih… tapi aku masih nggak tahu kenapa,” ujar Oline jujur.
Delyn menghela napas. “Yakin nggak tahu, atau pura-pura nggak tahu?”
Oline memutar otaknya. Dia mencoba mengingat kembali kejadian semalam dan pagi ini. Tapi semakin dipikir, semakin dia merasa bingung. “Sumpah, aku nggak ngerti, Delyn. Dari tadi malam dia udah jutek, terus pagi ini diabaikan, sekarang malah lebih milih ngobrol sama orang lain daripada aku. Aku udah minta maaf, tapi aku bahkan nggak tahu salahku apa.”
Delyn mengamati wajah Oline yang tampak benar-benar frustrasi. “Oke, aku kasih sedikit petunjuk,” katanya sambil melipat tangan di dada. Delyn jelas sedang menikmati keadaan. “Tadi malem di teater, kamu ngapain aja waktu tampil? Dan waktu setelah show kamu juga ngapain?"
Oline berpikir sebentar. “Ya… aku tampil kayak biasa, nari, mc, terus… oh.”
Delyn mengangkat satu alis. “Oh?”
Oline menelan ludah. Sekarang, beberapa potongan kejadian mulai terhubung dalam pikirannya. Dia ada memeluk member gen 13, kemudian membentuk love dengan member yang lain lagi.
Terlebih, dia juga menghabiskan cukup banyak waktu berbicara dengan anak-anak gen 13 setelah pertunjukan semalam. Bahkan, dia sempat bercanda dan tertawa-tawa dengan mereka, tanpa sadar kalau Erine sudah lebih dulu meninggalkan tempat.
Dan pagi ini, dia juga datang bersama mereka setelah membeli minuman, saat ditinggalkan Erine. Ah bodohnya!! Harusnya dia ngejar Erine bukan malah mampir beli menuman,
Dan mereka tadi bilang dia traktir. Lebih parahnya member-member yang berinteraksi dekat denganya tadi malam adalah member yang dia traktir tadi.
Oh.
Oline langsung menepuk keningnya sendiri. “Sial. Dia cemburu.”
Delyn hanya tersenyum puas. “Akhirnya sadar juga.”
“Tapi kan aku nggak ngapa-ngapain?” protes Oline.
Delyn menghela napas panjang, seolah kehabisan kesabaran. “Oline, kamu itu buaya. Cara kamu ngobrol, ketawa, bercanda—buat orang lain mungkin biasa, tapi buat Erine? Itu bencana. Apalagi kalau kamu lebih banyak habisin waktu sama anak-anak baru daripada dia.”
Oline terdiam. Sekarang semua mulai masuk akal. Tapi dia masih gak setuju, dia gak buaya!
Dia menghela napas panjang. “Jadi aku harus gimana sekarang?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
FanfictionBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)