[59] Trio Dugong

1.3K 201 19
                                        

Perjalanan menuju arena ice skating berlangsung cukup santai. Delyn duduk di depan. Erine dan Oline tentu memilih di belakang berdua.

Musik mengalun pelan dari speaker, tapi lebih sering kalah sama suara Delyn yang dari tadi nggak bisa diam. Tentu aja dia nyerocos bareng Erine. Entah kenapa dua orang ini selalu punya bahan omongan.

Satu topik habis. Muncul topik lain. Habis lagi. Muncul lagi. Oline nggak banyak menimpali. Kepalanya udah keburu penuh sama bayangan di arena ice skating nanti.

Dua orang pemula. Satu lapangan es yang pasti bakalan dihuni manusia lainnya. Dan dirinya yang kemungkinan besar bakal disuruh ngurusin semuanya. Repot.

"Oh iya," kata Delyn tiba-tiba. "Awalnya aku mau ngajak Lily juga."

"Lah terus?" tanya Oline.

"Nggak bisa."

"Kenapa?" Erine ikut penasaran. Padahal bakal makin rame kalau ada Lily juga. Bakal rame untuk mereka, dan sengsara untuk Oline pastinya.

"Ke gereja."

"Oh."

Erine mengangguk pelan. Masuk akal, hari minggu, waktunya untuk ibadah tim sebelah. Dua detik kemudian alisnya berkerut. Sebentar.... Ia menoleh ke kursi depan. Lalu ke samping. Lalu ke kursi depan lagi.

"Kalian berdua memang nggak ke gereja?"

"Udah tadi pagi."

"Lagi males."

Jawaban Oline dan Delyn keluar bersamaan.

Mobil langsung hening. Sang sopir mobil online pun sampe ikut menoleh ke Delyn.

Delyn menoleh pelan ke belakang. Oline menoleh pelan ke depan. Tatapan mereka ketemu sepersekian detik. Lalu sama-sama berpaling. Nggak kenal.

Erine menatap keduanya bergantian. Alisnya naik sebelah. "Kontras banget ya jawaban kalian."

"Aku jujur," bela Delyn.

"Justru itu masalahnya."

Delyn langsung mendecak. Keras. "Ya ampun. Sekali aja aku jujur malah dimarahin."

"Karena yang kamu jujurin salah." Erine lanjut mengeluarkan petuahnya. Untung dia gak ikut golongan yang tiap jumat wajib ke masjid, kalau nggak mungkin dia bakalan jadi Delyn ke dua.

"Astaga." Delyn menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi. Terdzolimi. Sangat.

Oline ikut menggeleng. "Delyn, kalau males jangan dibiasain."

"Siapa yang bilang dibiasain?" sahut Delyn nggak terima. Baru sekali loh dia absen. Sekali yang ketahuan. Delyn nyengir tanpa menoleh ke belakang.

"Kamu barusan."

"Itu fitnah."

"Kamu literally baru bilang lagi males." Oline memutar matanya malas.

"Itu kan hari ini," bela Delyn lagi.

"Besok?"

Delyn diam sebentar. Kelihatan mikir. Atau pura-pura mikir. Sulit dibedakan. "Belum tahu juga." Dua jarinya langsung terangkat membentuk huruf V. Bangga. Seolah baru mengeluarkan jawaban paling pintar sedunia.

"Delyn."

"Oke, oke." Delyn mengangkat kedua tangan. "Aku akan merenungkan hidupku."

"Bagus," tandas Oline.

"Nanti."

"DELYN."

"Oke, sekarang." Delyn langsung meringis. Tapi cuma dua detik. Habis itu nyengir lagi.

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang