Di ruang tunggu latihan yang tenang dan sedikit rusuh di ujung yang lain, para member Generasi 12 JKT48 sedang berkumpul sekitar 20 menit sebelum latihan dimulai. Ruangan itu biasanya penuh dengan tawa dan obrolan santai, tetapi kali ini suasananya terasa sedikit berbeda. Ada ketegangan yang tak bisa dijelaskan, terutama bagi Oline..
Oline, yang sedang duduk di sofa sambil asyik dengan ponselnya, merasa ada yang aneh. Sejak tadi, dia merasa ada yang mengamatinya, seolah pasang mata itu tak pernah lepas dari dirinya. Perasaan itu semakin mengusik, dan akhirnya dia memutuskan untuk melemparkan pertanyaan.
"Moren, kamu kenapa sih ngeliatin aku gitu banget?" Oline menoleh dengan ekspresi bingung, matanya menatap Moreen yang sedang duduk di sebelahnya. Mungkin dia penasaran, atau mungkin dia juga merasa tidak nyaman dengan tatapan yang begitu intens.
Moreen terdiam sesaat, lalu senyum tidak enak mulai muncul di wajahnya. "Oline, bibir kamu bagus banget. Aku suka lihat bibir kamu." Mata Moreen berbinar-binar, nada suaranya terdengar lebih manja daripada biasanya.
Oline memutar matanya malas. Gak terkejut sama pengakuan Moreen. Anaknya emang selalu merhatiin bibirnya kalau mereka lagi duduk deketan.
Sadar akan sesuatu, Oline melirik ke sekeliling ruangan, tiba-tiba merasa canggung. Perasaannya langsung campur aduk. Dalam kebingungannya, matanya tanpa sengaja melirik ke pojok seberang tempat duduknya, tepatnya ke sofa yang tak terlalu jauh, tempat Erine duduk.
Erine sedang duduk dengan tatapan kosong, namun ada sesuatu yang tajam di balik matanya-sesuatu yang membuat Oline merasa ada sesuatu yang akan menimpanya. Tapi Oline mencoba bodo amat, kalau Erine saja bisa dekat-dekat member lain tanpa batasan, kenapa dia nggak?
"Masa? Emang bibir aku kenapa?" tanya Oline, mencoba mencairkan suasana dengan sedikit canda, meski hatinya tak bisa bohong kalau perasaannya mulai tidak nyaman. Dia agak takut sih sebenarnya, kalau-kalau Erine menganggapnya lain.
Dengan langkah cepat dan tiba-tiba, Oline maju sedikit, menjadikan dirinya dan Moreen berada dalam jarak yang sangat dekat-mereka kini benar-benar berhadapan,
Moreen membelalak kaget, dia dorong jidat Oline gitu aja.
"Oline, jangan gitu," Kesal Moreen, dia kaget banget tadi "Nanti aku khilaf, terus nanti di-amuk Erni." Bisiknya di akhir. Sengaja menggoda.
Oline tertawa geli, meskipun dia sendiri merasa ada ketegangan yang meningkat di udara. "Biar kamu puas liatinya" jawab Oline dengan canda, mengabaikan kerisauan yang mulai muncul dalam dirinya.
"Ih, Moreen takut!" Sahut Nachia dengan suara menggoda, seperti ingin mengolok-olok. Dia duduk disebelah Moreen sisi yang lain, jadi dia dengar obrolan keduanya.
Namun, bagi Erine, semuanya sudah terasa cukup. Suasana yang penuh dengan candaan dan tatapan yang penuh makna itu membuat hatinya semakin sesak. Perasaannya yang sudah tidak karuan sejak tadi, kini benar-benar tak tertahankan. Ada yang salah, dan dia merasa seperti bagian dari dirinya yang hilang di tengah canda tawa itu.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Erine berdiri dari tempat duduknya, matanya menyiratkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar kecewa.
Dengan langkah yang cepat dan tegas, Erine berjalan menuju pintu. Tidak ada yang menghentikannya. Tidak ada yang berani. Mereka seolah terdiam seketika saat dia melangkah keluar dari ruangan. Beberapa saling tatap bingung.
"Erine kenapa? Kok kayaknya kesal gitu?" Tanya Nachia menatap pintu yang sudah tertutup.
"Gak tau, Erni kalo lagi badmood nyeremin. Aku gak berani deketin," timpal Moreen, "Sana Lin tanyain," imbuh Moreen lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
Fiksi PenggemarBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)