Tepokan barusan masih nyisa rasa perih, tapi suasananya justru jadi pelan. Ketegangan yang tadi sempat naik lagi perlahan turun. Oline cuma ngelus pinggangnya sendiri sambil manyun kecil, sementara Erine masih duduk di pangkuannya, napasnya berat karena habis nangis, marah, dan malu campur jadi satu.
Beberapa detik mereka cuma saling tatap tanpa suara. Oline udah gak bercanda lagi, sorenya tenang, ngeliatin wajah Erine yang masih bengkak tapi mulai adem. Pelukan tadi masih kebentuk, masih sama hangatnya, dan perlahan bikin sisa ledakan emosi Erine lumer sendiri.
Dan di titik ketika semuanya mulai diam lagi, bukan canggung, tapi capek yang akhirnya tenang, Erine akhirnya buka suara duluan. Suaranya seret, kecil, kayak akhirnya nemu keberanian setelah semua keributan tadi.
"...Maaf."
Oline nunduk dikit. "Hm?"
"Maaf," ulang Erine, kali ini lebih pelan. "Aku... aku egois banget ya akhir-akhir ini." Dia nyengir kecut,
"Aku nggak mikirin perasaan kamu. Aku marah karena hal-hal kecil yang seharusnya biasa aja. Aku marah cuma gara-gara kamu upload foto kita, padahal kamu gak salah apa-apa. Aku cuma... takut, Line. Aku salah, aku harusnya nggak perlu saparno itu."
Oline diam, tapi matanya melembut.
Erine lanjut, suaranya makin pelan tapi tulus, "Terus aku juga minta maaf soal Delyn. Aku tahu kamu liat kami sering bareng. Tapi sumpah, Line, itu gak ada maksud aneh. Aku cuma..." dia tarik napas panjang, "Aku cuma pengen orang gak terlalu fokus ke kita. Aku tahu banyak yang mulai ngeramein konten kita lagi. Aku takut, kalau terus keliatan deket, nanti ujung-ujungnya teori nggak jelas itu muncul lagi."
Dia ngangkat pandangan, ketemu mata Oline. "Padahal aku sendiri yang gak tahan kalau harus ngejauh kayak gini. Aku selalu nggak suka kalau kamu deket banget ke yang lain. Tapi aku malah ngelakuin itu. Aku minta maaf,"
Oline masih diam, ekspresinya lembut, tapi ada sesuatu di matanya yang rumit. Dia angkat tangan, nyeka sisa air mata di pipi Erine.
"Jadi kamu bikin jarak biar aman, tapi kamu sendiri juga ikut sakit?"
Erine senyum pahit. "Kira-kira gitu, ya."
Oline geleng pelan, jempolnya masih usap pipi Erine. "Dasar bodoh," katanya pelan, tapi nadanya penuh kasih. "Kamu pikir aku segitu lemahnya? Kamu pikir aku gak siap sama semua omongan orang? Aku selalu ada buat kamu Rin, kalau kamu takut tentang hal diluar sana yang bahkan belum tentu terjadi, aku selalu ada,"
Erine ngehela napas panjang, matanya mulai berkaca lagi. "Aku cuma gak mau kamu diserang. Aku tahu gimana kerasnya netizen. Aku tau mereka banyak yang sering nyalahin kamu. Aku gak mau kamu kena efek karena aku...Karena konten-konten tentang kita."
Oline langsung potong dengan suara yang pelan tapi tegas, "Erine, aku tahu resikonya dari awal. Aku tahu kamu juga capek nyembunyiin semua ini. Tapi jangan bikin aku ngerasa kayak cuma aku yang ngejar kamu."
Erine kaget.
Oline lanjut, suaranya masih halus tapi dalem banget,
"Aku ngerti kamu pengin lindungin aku. Tapi kamu juga harus percaya, Rin... aku ada karena aku mau ada. Bukan karena kamu ijinin."
Erine gak bisa nahan senyum kecil, antara malu, sedih, dan lega semua numpuk jadi satu. Dia nyandarin dahinya ke hidung Oline, suaranya kecil banget, "Aku beneran minta maaf, Line. Aku nyusahin kamu terus ya."
Oline nyengir dikit, nyenggol ujung hidung Erine, "Nyusahin, iya. Tapi kamu juga yang bikin aku betah."
Erine ketawa kecil, suara pelan tapi keliatan banget itu ketawa yang tulus, ringan, tanpa beban atau kepura-puraan, walaupun masih terdengar sengau karena habis nangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
Fiksi PenggemarBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)