Rencana awalnya sederhana. Beli kamera. Pulang. Selesai.
Setidaknya itu yang ada di kepala Oline saat mereka melangkah keluar dari eskalator. Kalau semua berjalan lancar, paling satu jam urusan selesai. Pilih kamera, bayar, pulang.
Praktis. Efisien. Masuk akal. Sisa waktunya bisa dipakai buat ngedate. Makan bareng atau nonton juga boleh. Hari libur yang menyenangkan untuk dihabiskan berdua. Hanya berdua.
Sayangnya Oline lupa satu hal penting. Dia pergi bareng Erine. Dan kalau melibatkan Erine, kata "efisien" biasanya langsung kehilangan makna. Apalagi pas ketemu barang-barang lucu. Sebenarnya Oline juga sebelas-duabelas kayak Erine, bedanya Oline nggak sebar-bar Erine, yang suka khilaf sampai bisa lupa diri. Lupa ingatan, lupa dirinya sendiri.
Buktinya sekarang. Sudah hampir setengah jam mereka muter-muter mall. Dan mereka bahkan belum sampai ke toko kamera. Inget... Tujuan awal adalah beli kamera.
Bukan karena nyasar. Bukan juga karena mallnya terlalu besar. Tapi karena Erine mendadak berhenti di depan sebuah etalase tas. Berhenti total. Seperti patung.
"Oline." panggilnya dengan nada yang kelewat lembut untuk ukuran Erine, yang anaknya nggak soft spoken banget.
"Hm."
"Lihat."
"Nggak." Oline bersedekap, sengaja berpaling. Ini bukan toko tas pertama yang buat Erine berhenti.
"Tapi lihat dulu."
Oline akhirnya noleh, terus ikut ngeliat. Tas. Cuma tas. Tas yang menurutnya nggak ada istimewa-istimewanya. Tas yang hampir mirip tas-tas Erine di lemari kamarnya.
Tapi dari ekspresi Erine, benda itu terlihat seperti artefak langka yang baru ditemukan setelah hilang ratusan tahun. Padahal minggu lalu Erine baru aja beli tas. Daaaaaaannn Oline nggak lupa, dua hari setelah pembelian itu Erine ngeluh bin nyesel kenapa beli tas itu.
Yups siapa yang disalahkan! Tentu Oline, karena nggak ngingetin kalau Erine udah punya tas dengan model yang sama, cuma beda brand.
"Kita kesini buat beli kamera." Ucap Oline final, entah yang keberapa kali.
"Aku tau." Jawab Erine dengan yakin.
"Tapi?"
"Tasnya bagus, Oline."
Oline menatap tas itu lagi. Lalu Erine. Lalu tasnya lagi. Tetap nggak ngerti. Tapi dia memilih mengalah. Kadang hidup lebih tenang kalau nggak mencoba memahami cara kerja otak Erine. Yang lebih sering kehilangan arah.
"Rine."
"Hm?"
"Fokus. Fokus Erine, Fokus."
"Aku fokus."
"Sama kameranya." Ucap Oline dengan lembut, mencoba menyadarkan dari hati ke hati.
"Aku juga fokus sama kameranya."
"Kamu lagi lihat tas."
"Multitasking." Tandas Erine dengan wajah yang sangat yakin.
Oline menghela napas. Mereka bahkan belum sampai toko kamera. Dan dia sudah lelah. Pertanda buruk. Sangat buruk.
Akhirnya dengan perjuangan yang hampir setara menarik anak kecil keluar dari toko mainan, Oline berhasil mengajak Erine pergi dari depan etalase.
Meski begitu, selama perjalanan menuju lantai empat, kepala Erine masih sempat menoleh ke belakang dua kali.
Seperti ibu yang baru ditinggal anaknya merantau. Dramatis, sangat!
Apesnya tuh gini, dari awal kan Erine mau beli kamera, kalau dibiarkan sampe beli tas, ujung-ujungnya Oline juga yang disalahin, karena apa? karena nggak mengingatkan Erine kalau sebelum berangkat ke mall tidak ada agenda membeli tas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
Fiksi PenggemarBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)