[57] Problematik!

2.8K 241 32
                                        

Perjalanan keluar area ICE BSD terasa lebih lambat dari biasanya. Arus kendaraan masih padat, klakson bersahut-sahutan, seolah euforia konser belum mau benar-benar selesai. Di dalam mobil, jaket sudah dilepas, rambut masih menyimpan sisa hairspray dan keringat panggung yang belum sepenuhnya hilang.

Oline menyetir dengan tenang, matanya fokus ke jalan. Erine duduk di samping, memeluk tas kecil di pangkuan. Lampu-lampu jalan memantul di kaca depan, membentuk garis-garis panjang yang bergerak perlahan, lalu menghilang.

"Kamu yakin nggak apa-apa nginep?" tanya Oline akhirnya, memecah hening.

"Iya," jawab Erine cepat. "Lebih dekat juga dari sini."

Oline mengangguk. Mobil kembali sunyi. Tapi bukan sunyi yang kosong, lebih seperti ruang yang dipenuhi hal-hal yang belum sempat diucapkan.

Di kepala Erine, nama-nama itu berputar lagi.

Tim Dream.

Tim Passion.

Di atas panggung tadi, semuanya terasa cepat. Terlalu cepat untuk benar-benar dipahami.

"Line," Erine bersuara lagi, ragu-ragu. "Kamu udah kebayang belum... setelah lebaran nanti?"

Oline tidak langsung menjawab. Lampu merah menyala. Mobil berhenti.

"Kebayang apa?" tanyanya.

"Teater." Erine menatap lurus ke depan. "Kita nggak bakal satu show lagi."

Kalimat itu terucap begitu saja. Tanpa tekanan. Tanpa dramatisasi. Justru karena kesederhanaannya, rasanya makin berat, lebih nyesek dari ungkapan yang menggebu.

Oline menghembuskan napas pelan. "Iya." Ucapnya pasrah,

Erine tersenyum kecil, tapi senyum itu berhenti di bibir. "Aneh ya. Kemarin-kemarin kita masih ribut soal blocking, soal tatapan, soal koreo."

"Sekarang ributnya pindah," jawab Oline, suaranya dibuat ringan. "Jadwal tim." Omongannya sih biasa, tapi nelen ludah rasanya udah kayak ada yang nyangkut ditenggorokan,

Erine terkekeh kecil. Hanya sebentar. Setelah itu, diam lagi. Menerawang. Semuanya terlalu tiba-tiba, bener-bener tak terduga.

TIM!

Dari dengungan member senior yang sebelumnya sudah bergelut dengan per-tim-an Jkt48, mereka bahkan mengeluh, persaingan, persirkelan, pergengan, semua akan sangat terasa.

"Aku belum bisa ngebayanginnya." Ucap Oline jujur. Yah sekarang, jujur sejujurnya dia memang masih gak bisa ngebayangin, bukan karena dunia itu asing, tapi pikirannya masih penuh akan jarak untuk mereka berdua nantinya.

Sekarang saja, yang mereka masih menjadi satu, jarak itu sering hadir, lebih dari yang bisa dia tanggung.

Lampu hijau menyala. Mobil kembali berjalan.

"Setelah lebaran," Gumam Erine, kali ini lebih pelan, "Kita latihan sama orang yang beda. MC sama orang yang beda. Panggungnya sama... tapi rasanya nggak."

Oline meliriknya sekilas. "Kamu sedih?"

Erine berpikir sejenak. "Bukan sedih." Ia menggeleng. "Lebih ke... nggak percaya."

Oline tersenyum tipis. "Aku juga."

Rumah Oline menyambut mereka dengan keheningan. Lingkungan sudah sepi, lampu teras menyala redup. Oline memarkir mobil, mematikan mesin. Tapi mereka nggak langsung turun.

Erine menatap dashboard. "Kamu tahu nggak hal yang paling aku pikirin?"

"Apa?"

"Kalau nanti aku nonton show kamu." Erine menoleh. "Sebagai penonton."

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang