Pagi itu, langit Jakarta masih diselimuti awan kelabu, seolah mencerminkan suasana hati Erine yang sedang tidak karuan. Dia baru saja turun dari mobilnya di depan lobby FX Sudirman, tas selempangnya tergantung di bahu, dan wajahnya terlihat muram. Sebelum dia sempat melangkah lebih jauh, tiba-tiba suara familiar memanggil namanya.
“Erine!” teriak Oline dengan nada riang, sambil melompat keluar dari mobilnya. Dia melambaikan tangan, tapi Erine sama sekali tidak menoleh. Bahkan, dia terus berjalan cepat, seolah tidak mendengar panggilan Oline.
Oline, yang biasanya ceria dan santai, langsung merasa ada yang tidak beres. Dia segera mengejar Erine, langkahnya cepat tapi tetap riang. “Sayang, kamu kenapa?” tanyanya sambil mencoba mengejar Erine yang terus berjalan tanpa menoleh.
Erine tiba-tiba berhenti, lalu menatap Oline dengan tajam. “Kamu tau gak ini lagi di tempat umum?” ujarnya dengan suara tegas, matanya menyala seperti api.
Oline hanya mengangkat bahu, wajahnya polos. “Tau kok,” jawabnya santai, seolah tidak memahami kemarahan Erine.
Erine semakin kesal. Dia tidak bisa memahami bagaimana Oline bisa tetap santai dalam situasi seperti ini. Memang, FX Sudirman masih sepi jam segini, tapi bagi Erine, itu bukan alasan untuk Oline bersikap seenaknya.
Bagaimanapun jam segini belum jamnya orang pada ngemall, tapi tetap aja Erin nggak mau Oline jadi kebiasaan
Tanpa komentar Erine langsung berbalik ngelanjutin jalannya.
Oline terperangah sebentar, tapi dia segera menyusul Erine dan mencoba menyejajarkan langkah mereka. “Kamu kenapa dari tadi malam, loh?” tanyanya sambil berjalan mundur, sehingga mereka saling berhadapan. “Pas selesai theater, kamu langsung pergi gitu aja. Padahal kita udah janjian mau turun bareng. Terus malamnya kamu juga nggak bales chat aku sama sekali, aku telepon nggak diangkat sampai pagi ini. Aku ada salah ya?”
Erine hanya mendelik, matanya menyipit. “IKI IDI SILIH YI!” ujarnya dengan nada tinggi, sambil mendengus kesal.
Oline mengerutkan kening, mencoba memahami apa yang Erine maksud. “Jadi beneran aku ada salah?” tanyanya lagi, suaranya mulai terdengar ragu.
“JIDI BINIRIN IKI IDI SILIH!” Erine kembali melontarkan kalimat yang sama, kali ini dengan nada lebih tinggi.
“Errriiiiinnneeeeee!” Oline memanggil namanya dengan nada memelas, mencoba menarik perhatian Erine.
“Pikir aja sendiri!” Erine membalas, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya.
“Eh-”
Oline hampir saja terjatuh karena kakinya tersandung saat berjalan mundur. Untungnya, Erine refleks menahan tangannya. Tapi, wajah Erine tetap murka, dan dia segera melepaskan pegangan itu.
“Gak usah nyari penyakit! Jalan tuh yang bener!” ujarnya sebelum meninggalkan Oline begitu saja. Marah sih anaknya, tapi tetap aja dia gak mau Oline kenapa-kenapa. Apa gak benjol itu kepala Oline kalo beneran jatoh.
Oline, yang masih kebingungan, langsung mengejar Erine. Tapi Erine sudah terlalu jauh. Dia bahkan berlari menuju lift, dan begitu pintu terbuka, Erine langsung masuk, menekan tombol nomor 7, dan berulang kali menekan tombol untuk menutup pintu lift.
Oline yang baru sampai di depan lift hanya bisa terperangah, menerima tatapan tajam Erine sebelum pintu lift tertutup. Dia terlambat beberapa detik.
“Aku salah apalagi ya, ampunnnnn,” keluhnya dengan cemberut, sambil menunggu lift sebelah turun.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
FanfictionBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)