[25] Karena Kamu

3.1K 287 85
                                        

Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Uap hangat keluar lebih dulu, disusul oleh sosok Oline yang sudah ganti baju lengkap, rambutnya masih basah dan berantakan.

Dia berdiri sebentar di ambang pintu, matanya langsung nyari sosok Erine di dalam kamar.

Erine sedang rebahan di ranjang, membelakangi pintu, selimut setengah menutup tubuhnya, dan dari posisi bahunya, Oline bisa lihat... dia lagi pura-pura tidur. Atau ya, minimal—pura-pura gak peduli.

Mari kembali berjuang, tekadnya. Dia sadar kok dia yang salah. Baik yang merahasiakan tentang sang wakil GM tau hubungannya mereka, maupun matanya yang tadi gak bisa dijaga, plus pikirannya yang melayang brbas.

Oline menarik napas pelan. Hatinya mencelos. Kenapa dalam hitungan menit, kesalahannya langsung bertambah banyak??

Dia jalan pelan ke sisi ranjang, terus duduk di lantai, bersandar di kasur, pas di belakang punggung Erine.

Kepalanya doang yang ada di kasur, natap memelas, gak berani naik. Takut ditendang Erine terus berguling ke keramik.

Keheningan menggantung di antara mereka. Tapi anehnya, bukan keheningan yang bikin canggung. Lebih kayak… jeda yang nunggu salah satu dari mereka buat mulai ngomong lagi. Dan pasti Oline gak mungkin nungguin Erine ngomong duluan.

“Rine…”

Sunyi.

“Maaf, tadi aku…” Oline menggigit bibirnya. “Refleks. Beneran. Aku gak bermaksud…” Oline menggeser posisi duduknya, sekarang lebih dekat. Kepalanya makin maju, “Aku minta maaf.” Dia gak sanggup buat jelasin detailnya. Masa dia ngaku, kan gak mungkin.

Masih sunyi.

“Serius. Aku… tadi kebablasan mikirnya. Aku tahu kamu gak suka kayak gitu. Aku juga gak bangga sih. Cuma—aku gak bisa kontrol pas liat kamu tadi. Maaf banget…”

Masih gak ada suara dari atas kasur. Bahkan gerakan bahu Erine pun hampir gak kelihatan.

Jujur, Oline juga gak tau kenapa bisa kepikiran hal tadi. Dia beneran gak ada niat mikir kesana. Gak berani juga. Pikirannya aja yang jalan sendiri, seenaknya sendiri. Makanya sekarang dia tambah ngerasa bersalah.

Apalagi dia tau, Erine sepertinya mengetahui apa yang kepalanya pikirkan. Daripada semakin jadi beban, Oline memutuskan buat mengakui kesalahan barunya.

Walaupun dia tau kesalahannya makin menumpuk.

MAMA TULUNG! Oline rasanya ingin menjerit. Nah apa sebaiknya minta bantu sama mama Erine?

Oline langsung membuang jauh-jauh ide itu.

Mama Erine!! Ada masalah lain yang menunggunya. DAM!! Oline membenamkan wajahnya ke kasur. Mau nangis. Kepada siapa dia harus minta tolong??

Oline menggigit bibirnya, frustasi, tapi gak nyerah.

“Aku gak pengen kamu ilfeel. Aku juga gak mau kelihatan kayak orang brengsek yang pikirannya jorok terus.” Dia nyandarin pipi kirinya kasur, ganti posisi, ekspresi ngenesnya masih gak berubah, matanya menerawang. “Aku cuma… ya, manusia. Dan kamu… terlalu cantik. Mataku gak sanggung buat berpaling tadi."

Kalimat terakhir itu keluar hampir kayak napas—pelan, tapi penuh rasa.

Erine memutar matanya. Buaya betina kembali bereaksi pikirnya. Apakah Oline pikir dia bodoh? Kalau memang alasannya karena cantik, mata Oline harusnya terpaku ke wajahnya, bukan malah ke arah lain! Dasar buaya!!

"Cuma- aku ke blabasan tadi," akui Oline.

Erine mengerjap pelan di balik selimut, tapi gak membalik badan.

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang