Delyn berhenti mendadak di tengah arena. Oline hampir saja menabraknya dari belakang.
"Hei-"
"Sebentar." Delyn mengangkat satu tangan. Tangannya yang lain sudah merogoh saku, mengeluarkan ponsel.
Erine menoleh. "Kenapa berhenti?"
"Buat vlog."
Hening.
"Hah?" sahut Oline kemudian,
"Mini vlog." Delyn sudah membuka kamera, membolak-balik orientasinya. "Dari tadi aku lupa."
"Lupa atau baru kepikiran?"
Delyn tidak menjawab. Itu sudah jawabannya. Ia mengangkat ponselnya, mencoba menemukan angle yang bagus, lalu menoleh ke keduanya dengan ekspresi sutradara yang baru menemukan visi artistiknya.
"Oke. Karena sekarang kita udah nggak noob-noob banget-"
"Noob?" Oline memotong.
Delyn berhenti. "Apa?"
"Gue noob?" Oline menunjuk dirinya sendiri dengan muka tengil. "Pengucapan anda salah." Lanjutnya dengan wajah yang semakin mengejek.
Delyn menoleh ke Erine. Ekspresinya jelas tak terima, tapi bagaimanapun itu sebuah kenyataan pahit yang harus dia akui.
"IYA-IYA GUE SAMA ERINE!" Delyn akhirnya menyerah, suaranya naik satu oktaf. "PUAS?!"
Oline tergelak, menikmati kekesalan Delyn dengan sangat tidak bersalah.
Erine cuma bisa geleng-geleng pelan. Sudah biasa melihat tom and jerry dua makhluk ini.
Delyn menarik napas panjang, napas orang yang sedang mengumpulkan sisa kesabaran. Menghadapi Oline benar-benar menguras kesabaran.
"Dan berhubung kita masih on point alias masih cantik-cantik belum keringetan," lanjutnya dengan nada yang sudah dipaksa kembali ke frekuensi normal. Jelas-jelas mereka lagi di arena es, yang meluncurnya juga cuman ala kadarnya itu, tidak mungkin sampe keringetan kan! "Kita buat mini vlognya sekarang aja."
"Emang mau buat yang gimana, Del?" tanya Erine.
"Dari awal kita masuk lapangan, meluncur bareng, terus-"
"Kenapa nggak dari pas baru datang tadi?" potong Oline. "Masa kita pura-pura masuk lagi?"
Delyn menoleh pelan. Sangat pelan. Tatapannya seperti orang yang sedang menghitung sampai sepuluh di dalam kepala.
"OLINE." Ia menurunkan ponselnya. "MANUAL. Kalau dari awal, malu-maluin tau! Kan aku sama Erine belum bisa sama sekali tadi itu."
"Emang sekarang bisa?"
"UUUGGGHHH GERAMNYAAAAA AAAAAKU!!!" Delyn sangat berusaha mengontrol volume suaranya, meskipun beberapa orang disekitarnya tetap menolak.
Bahkan seorang anak kecil yang lewat meluncur sempat melirik sebentar lalu pergi lagi.
Oline tetap dengan ekspresinya yang sangat tenang, sangat puas.
Erine mengusap wajahnya pelan. Antara geli dan capek jadi saksi. "Del, maksudnya gimana vlognya?"
Erine menarik tangan Oline, supaya pindah ke belakangnya. Capek dia kalo Oline lagi-lagi buat ulah.
Delyn mengambil napas, merapikan dirinya kembali seperti orang yang baru saja mengahadapi badai.
"Jadi," katanya dengan nada yang sudah turun ke level manusiawi, "Kita mulai dari pintu masuk arena. Jalan bareng. Terus meluncur bareng. Nanti aku yang pegang kameranya, kalian di depan-"
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
Fiksi PenggemarBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)