“Maaf aku gak dengerin penjelasan kamu dulu,” Ucap Oline pelan sambil mengeratkan pelukannya. Dia gak mau berantem lagi sama Erine. Cukup sudah uring-uringan nya belakangan ini. Capek hati, capek fisik.
Erine masih duduk di pangkuan Oline, tubuhnya kaku menahan emosi yang kembali naik ke permukaan. Jadi selama ini semua berawal dari kebohongan Delyn? Dan Oline percaya begitu saja tanpa mencari tahu lebih lanjut? Kesal, kecewa, dan lelah bercampur jadi satu dalam dadanya.
Erine meremas ujung kaus Oline dengan gemas. "Oline, kamu tahu nggak betapa marah dan kecewanya aku?" suaranya terdengar bergetar menahan amarah yang sudah ia pendam selama seminggu terakhir.
Oline menunduk, merasa bersalah. "Aku tahu, Rin. Aku benar-benar minta maaf." Ia mengeratkan pelukannya, seakan takut Erine akan benar-benar pergi jika tidak menahannya sekarang.
"Kenapa sih kamu nggak percaya sama aku? Kenapa kamu lebih percaya sama omongan orang lain daripada nanya langsung ke aku?" lanjut Erine, nadanya masih sarat emosi.
Oline menghela napas panjang. "Aku... aku nggak tahu. Mungkin karena aku panik? Mungkin karena aku takut? Aku nggak pernah melihat kamu dekat dengan Lana sebelumnya dengan maksud lain, dan pas Delyn bilang latihan undergirls nggak ada, terus Delyn juga bilang kamu pergi sama Lana, aku pikir kamu sengaja bohong."
"Dan kamu memilih untuk marah tanpa kasih aku kesempatan buat jelasin?" tanya Erine sinis.
Oline semakin merasa bersalah. "Aku salah, aku tau aku salah... Makanya aku minta maaf, Erine." Suaranya lembut, penuh penyesalan. "Aku janji nggak bakal langsung percaya omongan orang lain tanpa memastikan dulu ke kamu. Please... jangan marah lagi. Aku nggak suka jauh dari kamu." Nada suaranya terdengar tulus, bahkan sedikit manja. Oline berusaha mengeluarkan segala jenis kemampuan bujukannya. Yang pasti dia beneran menyesal.
“Erine…” suara Oline terdengar hati-hati, mencoba membuka percakapan kembali setelah keheningan yang terasa mencekam. Diamnya Erine, membuat jantung Oline malah gak karuan. Dag dig dug duarr. Dia takut, terdiamnya Erine membawa mereka pada hal yang tidak dia inginkan.
“Hmm?” Erine mendesah pelan, masih enggan menatap Oline langsung.
“Kamu masih marah?”
Erine akhirnya mendongak, menatap Oline tajam. “Jelas.”
Oline menelan ludah. “Aku kan udah minta maaf…”
Erine mendengus kesal, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Minta maaf doang gak cukup, Lin. Kamu nuduh aku tanpa bukti, hanya karena percaya sama kata-kata Delyn!”
Oline menghela napas. “Aku tau aku salah… aku nyesel, beneran.”
“Tapi kamu gak langsung percaya waktu aku jelasin, kan?” suara Erine bergetar, ada emosi yang tertahan di sana. “Kamu bahkan gak ngasih aku kesempatan buat jelasin."
Oline terdiam. Dia tahu Erine benar. Saat itu, dia begitu terpengaruh oleh kata-kata Delyn bahwa undergirls tidak ada latihan dan Erine pergi bersama Lana.
Tungguuuuuu aaajjaaa Delyyynnnnnn!!! Oline siap buat perhitungan
Gara-gara semua itu, ia lebih memilih percaya tanpa mendengarkan sisi cerita dari Erine. Dan akibatnya, hubungan mereka jadi kacau selama seminggu penuh.
Erine berdiri tiba-tiba, membuat Oline sedikit tersentak.
“Gini ya, Oline… kalau kita ini beneran ada hubungan, harusnya kepercayaan kita ke satu sama lain tuh lebih kuat. Tapi kalau kamu gampang aja percaya sama omongan orang lain dan malah nuduh aku, aku gak tahu bakal kayak apa hubungan kita kedepannya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
ФанфикшнBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)