Tak biasanya ruangan kerja yang biasanya rapi sudah penuh kertas, laptop terbuka, dan daftar lagu yang ditempel di papan whiteboard.
Melody duduk di kursi utama, sementara Shani berdiri di samping papan, memegang spidol hitam dan tablet berisi rekaman latihan trainee.
Pembahasan berlangsung cukup panjang dan sudah berhari-hari. Dan inilah puncaknya. Keputusan akhir untuk pemilihan final, mulai dari setlist utama, transisi antar lagu, hingga unit song.
Melody menarik napas sebentar. "Oke, untuk unit song... kita butuh satu lagu nostalgia yang vibe-nya intimate tapi nggak terlalu menguras tenaga vokal. Unit ini harus bisa jadi titik ceria tapi santai di tengah show."
Shani mengangguk. "Pilihan kita di list ada empat. Tapi belum ada yang klik, ya? Kalo dari kakak prefer yang mana?"
Melody memandangi daftar lagu nostalgia yang terpampang. Sesaat kemudian matanya berhenti pada satu judul. Ia tersenyum kecil—senyum yang memunculkan memori lama.
"Shan," panggilnya pelan.
Shani mengalihkan perhatian. "Ya, kak?"
Melody mengambil spidol dari tangan Shani dan menulis perlahan di papan, Kimi to Boku no Kankei — Hubungan Kau dan Aku.
Shani otomatis mengangkat alis. "Lagu itu?"
Melody mengangguk. Suaranya lebih lembut dari sebelumnya, seperti mengenang sesuatu yang personal.
"Lagu itu jarang dibawain, tapi punya power. Dan... itu unit song pertama aku waktu debut setlist—duet bareng Nabilah."
Shani mengangguk pelan. "Bener. Itu salah satu momen paling memorable waktu itu. Chemistry-nya kuat banget."
"Dan aku rasa," lanjut Melody, "ini saat yang tepat untuk munculin lagu itu lagi. Fans bakal senang, trainee dapat tantangan, dan setlist punya warna yang berbeda."
Shani mengambil tablet, membuka beberapa video latihan trainee. "Vibenya intimate, tapi bukan romansa murahan. Gerakannya clean, fokus ke ekspresi, ke trust antara dua performer."
Melody menatap Shani. "Jadi menurutmu siapa yang cocok bawain?"
Shani tidak menjawab langsung. Ia menurunkan tablet, bersandar pada meja, dan tiba-tiba... tersenyum semringah.
Senyum yang Melody kenal baik—senyum aku sudah tahu jawabannya. Melody langsung ikut tersenyum tipis. "Sudah kepikiran ya?"
Shani mengangguk mantap. "Banget. Ada dua orang yang kalau dipasangin di lagu ini... setlist langsung auto heboh. Chemistry mereka natural, stage presence mereka saling ngangkat, dan—" ia menahan tawa kecil, "—mereka itu penglaris alami. Fans tuh kalau lihat mereka berdiri sebelahan aja udah gaduh."
Melody tahu persis siapa yang dimaksud, tapi tetap bertanya. "Dua orang itu...?"
"Kakak tau yang aku maksud?" Tanya Shani agak heran.
Melody mengangguk. "Gini-gini aku mantan member legend juga. Kopal-kapal sih udah tamat," sahutnya ceria.
Shani ikut tergelak, "Iya kan, udah kenyang ya kak,"
Melody mengangguk. "Ada banyak sih yang cocok, yang punya Chemistry untuk due juga banyak. Tapi... Kalo yang jarang-jarang ngasih moment tiba-tiba dapat moment-"
"Bakal heboh," sambung Shani.
Dua orang dewasa menuju tua itu saling pandang penuh arti,
Shani akhirnya menyebutkan, dengan percaya diri penuh."Erine dan Oline."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
Fiksi PenggemarBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)