Setelah Oline mengucapkan kalimat terakhirnya dan keluar dengan senyum kecil, tak ada yang tertinggal selain suara jam dinding yang berdetak pelan dan napas tertahan Erine yang terasa berat.
Dia tetap duduk di ranjang. Diam. Awalnya dia pikir itu yang terbaik. Membiarkan Oline pergi, ngasih waktu untuk sama-sama mikir. Tapi begitu pintu kamar menutup... ruangannya terasa lebih sempit. Lebih sunyi. Lebih kosong. Padahal setiap hari dia berada dikamar itu juga sendiri. Tapi anehnya... Malam ini, setelah Oline melangkah keluar rasanya benar-benar kosong, hampa.
Kakinya tetap diam. Tapi pikirannya berlari ke mana-mana.
Kenapa aku malah diem aja?
Kenapa gak narik dia buat duduk lebih lama?
Kenapa aku biarin dia jalan keluar?
Banyak pertanyaan melayang dalam kepalanya. Saling bersahutan bahkan menyalahkan. Kerumitan itu seolah tak peduli dengan betala lelah fisiknya. Betapa rumit dan tidak ada jawaban.
Satu detik...
Dua detik...
Lima... sepuluh...
Samar dia mendengar suara pintu bawah terbuka dan kemudian tertutup. Dia meneguk ludahnya kasar. Apakah semua ini benar? Apakah tindakannya kali bakal dia sesali? pikiran dan hatinya berperang.
Dan itu rasanya seperti ada suara klik di dada Erine. Sesuatu terbuka. Atau justru patah. Pada akhirnya, dia refleks berdiri. Napasnya cepat, seolah baru sadar. Matanya mencari ponsel, tapi tangannya gemetar. Lalu dia lempar aja ponselnya ke kasur. Tak berguna sekarang.
"Sialan..." bisiknya sendiri. Dan tanpa pikir panjang lagi, dia lari keluar kamar.
Langkahnya terburu-buru, hampir terpeleset di anak tangga pertama. Tapi dia gak peduli. Dia turun, ngelewatin ruang keluarga gelap, langsung ke arah pintu depan.
Dan-BRAKK! Pintu terbuka keras, menghantam dinding akibat tarikanp tangannya dengan tenaganya yang panik.
Di luar, Oline baru menuruni dua anak tangga dari teras depan. Tubuhnya refleks menoleh karena suara pintu tadi.
Dan belum sempat dia bereaksi-
Erine sudah memeluknya dari belakang.
Pelukannya erat. Panas. Gemetar. Wajahnya menempel di punggung Oline, suara nafasnya putus-putus, dan tangisnya mulai pecah. Bukan tangis teriak, bukan jeritan. Tapi tangis yang benar-benar diam-diam menyakitkan. Tangis yang datang dari dasar hati. Tangis yang sudah lama terpendam.
"Oline..." Suaranya serak. "Maaf... maaf ya..." Tangan Erine menggenggam erat jaket yang dipakai Oline.
"Aku gak maksud buat ngejauh gitu aja... aku gak tahu harus gimana... semua orang liatin kita kayak kita aneh... aku takut bikin kamu disalahin... aku juga takut makin terpojok karena pertanyaan-pertanyaan mereka... aku takut bikin semua ini makin rumit..." Dia menangis. Tapi tiap katanya terdengar jelas. Patah-patah, tapi tulus.
"Aku pikir kalau aku ngejauh... semuanya bisa tenang. Tapi malah jadi lebih sakit. Aku nyakitin kamu, aku nyakitin diriku sendiri... aku gak bisa lagi pura-pura semuanya gak penting."
Oline hanya diam. Kaget. Tubuhnya kaku.
Erine menarik napas panjang, masih dari punggung Oline. "Aku takut kehilangan kamu, Line... sumpah. Tapi aku juga takut semua ini... kita ini... dilihat salah. Dianggap salah. Aku bingung harus belain siapa. Tapi sekarang aku gak mau kehilangan kamu cuma karena aku terlalu pengecut."
Kata demi kata Erine tumpah seperti air yang gak bisa ditahan lagi. Semuanya keluar. Seluruh rasa bersalah, seluruh kebingungan, seluruh rindu yang disimpan sendirian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
Fiksi PenggemarBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)