[43] Jauh

2K 272 79
                                        

  
Begitu sampai rumah, Oline langsung masuk kamar tanpa menyalakan lampu utama. Hanya lampu meja kecil di pojok yang menerangi ruangan dengan cahaya kuning temaram. 

Ransel latihan dia taruh asal di lantai. Dia duduk di tepi kasur, menunduk lama.

Pundaknya terasa berat. Tenggorokannya kering. Kepalanya berdenyut pelan — efek begadang, tugas desain yang belum selesai, latihan yang padat, ditambah hari ini yang penuh emosi campur aduk.

Dia rebahan tanpa ganti baju, menatap langit-langit kamar yang kosong. Biasanya, di jam segini, dirinya dan Erine masih saling kirim pesan, entah cuma "udah nyampe belum" atau "jangan lupa bersih-bersih."

Tapi malam ini sepi. Chat terakhir mereka berhenti di percakapan tadi siang. Oline menggulingkan badan ke sisi kiri, menarik bantal dan menutup wajahnya. Bau bedak dan keringat dari latihan masih nempel di jaketnya sendiri. Dia gak punya tenaga buat mandi atau buka laptop lagi.

"Capek banget..." gumamnya lirih, setengah sadar.

Matanya terbuka sebentar, menatap ponsel di meja, layar masih gelap, notifikasi terus muncul tapi tak dibuka. Dia tahu pasti ada DM fans, mungkin ada pesan dari Erine juga. Tapi malam ini, dia gak mau tahu dulu.

Dia memejamkan mata rapat-rapat, tapi pikirannya gak berhenti berputar. Tentang beratnya latihan yang dihantui tugas kuliah, dan terutama tentang Erine. Kenapa bisa sejauh ini? 

Kenapa harus terasa begini... padahal mereka cuma saling sayang diam-diam? Apa cuma dia yang ngerasa kalau hubungan mereka mulai berat sebelah?

Suara deringan ac jadi satu-satunya yang terdengar. Di sela rasa lelah yang menumpuk, Oline akhirnya tertidur, tapi bukan tidur nyenyak. Tidur yang setengah sadar, setengah masih ingin nangis tapi udah gak punya energi buat ngeluarin air mata.

[[[[]]]]
[[[]]]
[[]]

Beberapa hari terakhir, Erine ngerasa ada yang aneh. Bukan tentang latihan, bukan juga tentang jadwal manajemen yang makin padat. Tapi tentang Oline.

Biasanya, Oline selalu datang lebih dulu, suka duduk di pojokan ruang latihan sambil ngemil roti, atau gangguin dia dengan candaan receh sebelum latihan dimulai. Tapi sekarang, hampir tiap kali Erine masuk ruangan, Oline baru datang beberapa menit setelahnya, kadang pas warming up udah mulai.

Dan begitu latihan selesai, Oline langsung ngilang. Gak nunggu, gak ngajak ngobrol, gak ngeluarin candaan random kayak biasanya. Pokoknya langsung ilang gitu aja.

Bahkan chat juga beda. Kalimatnya pendek-pendek, jawabnya lama. Erine tau Oline tipe yg dry text, tapi gak sekedarnya seperti sekarang. Bahkan balasannya kadang cuma emoji, kadang cuma "iya" atau "udah." Erine sampai bingung sendiri, mau marah tapi gak tahu harus marah karena apa.

Hari ini pun sama.

Mereka baru aja selesai latihan koreo buat event minggu depan. Keringat udah bercampur sama rasa lelah, tapi entah kenapa bukan itu yang berat buat Erine. Yang berat tuh... suasananya. Sunyi yang gak biasa.

"Oline udah pulang ya?" tanya Erine ke Levi yang lagi ngelap wajah pakai handuk.

"Kayaknya udah. Tadi langsung cabut abis beres, gak sempet aku ajak makan," jawab Levi santai, tapi Erine cuma bengong.

Langsung cabut lagi.

Dia duduk di lantai, punggungnya nempel ke dinding studio yang dingin. Matanya ngelirik ke arah tempat biasa Oline duduk,  kursi panjang dekat speaker. Sekarang kosong.

Erine nunduk, mainin ujung handuk di pangkuannya. Sebenarnya dia bisa aja langsung ngechat Oline sekarang juga, nanya kenapa akhir-akhir ini cuek, tapi entah kenapa jarinya berat.

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang