Malam itu kamar kos Erine berubah fungsi.
Bukan cuma jadi tempat tidur, tempat rebahan, atau tempat Erine menyimpan koleksi barang-barang yang entah kenapa jumlahnya selalu bertambah setiap waktu.
Malam itu, kamar itu menjadi studio radio dadakan. Wacana live dua tahun lalu itu akhirnya terlaksana.
Sebuah laptop terbuka di meja kecil di depan kasur, yang sebelumnya digunakan untuk mengerjakan tugas. Microphone sudah berdiri dengan posisi yang pas, padahal nggak dipakai. Kabel-kabel menjulur ke sana sini, membuat kamar yang biasanya rapi itu terlihat sedikit berantakan.
Dan tentu saja, penyebab utama berantakan itu adalah satu manusia yang dari satu jam lalu tidak bisa diam.
Oline.
Kalau ada lomba 'manusia paling tidak bisa duduk dengan tenang', mungkin dia sudah dapat piala seumur hidup.
"Duduk yang bener." Kalimat itu keluar untuk ketiga kalinya dalam lima menit.
Oline yang sedang memainkan ujung kabel headset langsung menoleh. "Aku duduk." Jawabnya dengan wajah polos.
"Duduk."
"Iya." Angguk Oline masih dengan ekspresi kepolosan diwajahnya.
"Yang bener."
Oline menatap dirinya sendiri. Dua kaki di atas kasur. Badan bersandar. Tangan santai. Menurutnya, sudah sangat benar. "Yang salah bagian mana?" Wajahnya terlihat bingung penuh tanya.
Erine melirik. "Semua."
"Jahat."
"Realistis."
Oline mendengus kecil. Tidak tersinggung. Sudah biasa. Kalau manusia satu ini tiba-tiba berbicara lembut tanpa nyolot sedikitpun, justru Oline yang akan khawatir. Jangan-jangan sakit. Atau kerasukan. Padahal jelas, Oline lah yang sering buat Erine kayak orang kesurupan.
Tapi sebelum Oline sempat membalas, suara hitungan mundur dari layar ponsel terdengar. Live akan dimulai. Seketika keduanya berubah.
Punggung Erine langsung tegak. Ekspresinya berubah menjadi mode profesional. Padahal nggak keliatan juga. Lagian mereka cuma live mode radio. Mau sambil jungkir balik, ngupil pun nggak ada yang tahu.
Oline hampir terkekeh melihat perubahan itu. Lucu. Sangat lucu.
Padahal tadi masih menyuruhnya duduk yang benar dengan wajah seperti ibu-ibu yang menegur anak kecil.
Sekarang sudah siap menyapa pendengar dengan suara manis. Dasar manusia dua wajah. Tentu saja Oline tidak cukup bodoh untuk mengatakannya dengan keras.
Dia masih ingin hidup.
"Kenapa senyum?" Pertanyaan itu keluar pelan.
Sial. Ketahuan. Padahal Oline sudah berusasha menyenbunyikan ekspresinya "Nggak ada." Jawabnya enteng.
Erine menyipit. Tatapan itu. Tatapan yang selama ini berhasil membuat banyak orang memilih mengaku dosa sebelum ditanya. Tapi Oline sudah terlalu terbiasa.
"Jangan macam-macam."
Nah. Kalimat ini. Kalimat sederhana. Tapi entah kenapa membuat Oline semakin tertarik untuk macam-macam. Aneh memang. Mungkin memang dari sananya. "Emang aku mau ngapain?"
"Kamu pasti punya niat terselubung."
"Fitnah." Tandas Oline tidak terima
"Kamu Oline."
"Itu bukan bukti."
"Justru itu bukti paling kuat."
Oline membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Tidak bisa membantah. Karena sayangnya... benar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
FanfictionBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)