[9] Perasaan Yang Berbeda

3.1K 276 22
                                        

Ruang latihan kini sunyi. Beberapa jam lalu, ruangan ini penuh dengan canda, tawa, dan suara sepatu yang bergesekan dengan lantai. Para member tengah mempersiapkan penampilan mereka untuk acara malam tahun baru di luar kota. Namun kini, sebagian sudah pergi mencari makan, beberapa masih mengobrol di pojokan, sementara yang lainnya entah ke mana.

Nala duduk bersandar di sudut ruangan, menghela napas panjang. Di hadapannya, Oline tampak sibuk membereskan barang-barangnya. Namun perhatian Oline tertarik saat Nala tiba-tiba bergumam, "Salah terus, salah lagi..."

"Ada apa, Nal?" tanya Oline, menghentikan kegiatannya.

Nala mengangkat wajahnya, matanya memancarkan keraguan. "Kamu lihat kan kehebohan soal foto kita?"

Lin tertawa kecil. "Ooh, yang diedit itu? Foto yang mereka bilang kita lagi bareng Erine sama Nina?"

Nala mengangguk pelan, wajahnya tampak kusut.

"Ya udahlah, Nal. Mau marah-marah kayak gimana pun gak bakal ada habisnya. Itu internet, kamu tahu sendiri." Oline mencoba meredakan ketegangan, tapi Nala tetap terlihat gelisah.

"Tapi tetap aja, Lin. Aku gak nyaman. Mereka berlebihan," ujar Nala, kali ini nadanya lebih serius.

Lin menatap temannya dengan penuh perhatian. "Mulai risih ya?" tanyanya lembut.

Nala terdiam sejenak, seperti sedang merenung. "Aku gak risih kalau itu nyata," katanya akhirnya. "Tapi kan itu gak nyata, Lin. Mereka cuma bikin-bikin aja. Kenapa harus dibuat-buat, kalau nyata apa adanya aku gak masalah. Kamu sendiri gak risih?"

Lin tersenyum tipis. "Aku sih enggak. Aku anggap aja itu bentuk kebahagiaan buat mereka, meski cuma khayalan. Kalau ada yang risih, mungkin itu Erine. Dia kan yang paling sering kesel soal yang kayak gini."

Nala menghela napas lagi. "Mungkin kamu benar. Tapi tetap aja, rasanya gak nyaman."

"Dinyamanin aja sih,"

"Mana bisa??"

Oline menepuk bahu Nala, mencoba menenangkan. "Kita gak bisa kontrol apa yang orang lain pikirkan atau lakukan, Nal. Fokus aja sama yang penting, latihan dan penampilan kita. Sisanya? Biar mereka dengan dunia mereka sendiri."

Nala tersenyum tipis. Meski hatinya masih sedikit berat, ucapan Oline berhasil menenangkan pikirannya. Mereka berdua pun beranjak pergi, meninggalkan ruang latihan yang kini benar-benar sepi. Di luar sana, dunia terus berputar, lengkap dengan segala riuh rendahnya.

Dan di balik panggung, mereka hanya bisa melakukan satu hal, tetap berjalan, meski sering kali harus menelan kerikil-kerikil kecil di sepanjang jalan.

...

"Aku dari tadi nyari kamu,"

Oline duduk di sofa pojokan di ruang santai, salah satu tempat favoritnya setiap selesai latihan. Kehadiran Erine yang tiba-tiba mengagetkannya.

Oline menoleh saat mendengar suara Erine. "Aku dari tadi disini padahal, gak kemana-mana."

"Iya, aku kira kamu tadi jalan di belakang aku. Ternyata gak ada," jawab Erine sambil duduk di samping Oline, menyerahkan bungkusan cemilan yang baru ia beli. Tanpa basa-basi, ia menggigit salah satu keripik.

Suasana sejenak hening hingga Erine menunjuk seseorang tak jauh dari mereka. "Nala kenapa?" tanyanya, yang melihat muka Nala yang kusem banget.

Oline hanya melirik sekilas. "Dia kesel sama foto kita yang diedit."

"Oh, foto yang katanya couple itu?"

Oline mengangguk, tanpa minat melanjutkan pembicaraan.

"Berarti aku gak sendiri dong," ujar Erine dengan nada setengah lega.

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang