Soonyoung mendapati Jihoon berdiri depan kaca dalam waktu yang lama. Kebiasaan wanitanya saat sedang berpikir keras. Keduanya telah kembali ke rumah utama Kwon. Setelah perbincangan dengan sang ayah tadi, banyak masukan yang harus keduanya mulai pikirkan. Tapi Soonyoung telah merencanakan untuk memikirkan secara matang nanti, setelah Ujian Kompetensi mereka terlaksana. Masih sangat jauh memang, namun menurut Soonyoung tidak ada salahnya merencanakan mulai sekarang.
Ia melingkarkan lengannya diperut Jihoon, mengistirahatkan kepala di bahu wanitanya. "Apa yang sedang kau pikirkan?"
Jihoon membiarkan tubuhnya bersandar sempurna pada Soonyoung, ia kembali menghela napas berat. Tangan mungil itu terangkat membelai bagian samping kepala prianya. "Hanya merasa aneh? Seperti.. apa aku benar-benar sudah berada difase ini?"
Soonyoung terkekeh kecil. "Namanya hidup, beginilah kita sekarang"
"Aku merasa seperti masih banyak hal yang harus kulakukan"
"Tentu saja. Masih banyak hal yang harus kita lakukan. Untuk dirimu sendiri, untuk diriku sendiri, dan untuk kita di masa depan" Soonyoung memutar tubuh Jihoon dengan tangan masih merangkul pinggang favoritnya. "Aku tidak pernah membatasi segala kegiatan yang kau sukai kan? Kecuali hal-hal yang membahayakan dirimu" anggukan didapat Soonyoung. "Begitupun setelah menikah nanti"
Jihoon berjinjit, lengannya melingkar sempurna pada leher Soonyoung. Merebahkan kepalanya di samping kepala prianya. Membiarkan pelukan hangat itu menyelimuti hatinya yang masih bertanya.
Jihoon tahu pasti, Soonyoung tidak terburu-buru. Lelakinya itu hanya membicarakan rencana jangka panjangnya. Benar, memang masih banyak hal yang harus mereka lakukan. Soonyoung hanya ingin dirinya mengerti dan membantu disetiap langkah keduanya.
.
.
.
Sesuai janjinya, hari ini ia menerima permintaan Eunbi untuk bertemu. Jihoon duduk disalah satu kursi bar and resto di kawasan tengah kota. Maniknya menatap lurus pada gadis berambut coklat caramel yang bahkan sudah hampir 10 menit berdiam diri didepannya.
"Aku tidak punya banyak waktu, Eunbi-ssi"
Cengkraman pada ganggang cangkirnya semakin erat. Eunbi menatap ragu pada manik Jihoon.
"Apa kau keberatan jika aku sedikit bercerita?" Kening Jihoon mengerut bingung, suara Eunbi nampak lenuh ketakutan. Sebelah alisnya terangkat, mempersilahkan Eunbi melanjutkan pembicaraan.
"A.. aku.. kabur ke Korea.." ragu, Eunbi tiba-tiba ragu. Pelan ia mengangkat lengan kanan kemejanya. Kulitnya penuh dengan lebam dan goresan. Dilanjut lengan kirinya dan ia melepas masker wajahnya.
"Siapa?" Lirih, tapi tegas. Tubuh Jihoon sedikit gemetar. Rasa marah, dan takut muncul begitu saja.
"Mantan kekasihku" Eunbi dengan tubuh bergetar menahan tangisnya dalam diam. "Maaf Jihoon, maaf" gadis itu terus meracau. "Aku tidak bermaksud kembali ke Korea, tapi aku takut jika terus disana. Maaf, maafkan aku. Maaf"
"Tuan Lee?"
"Tidak! Jangan! Eomma Appa tidak tahu. Aku tidak ingin mereka tahu.. hiks.. maaf.. "
.
.
.
Eunbi membawa Jihoon ke hotel tempatnya tinggal untuk sementara. Tubuhnya bergetar hebat saat Jihoon melihat dengan jelas seluruh bekas kekerasan yang tertinggal. Lebam, luka gores, hingga luka pukul ada disana. Punggung, perut, dada, kaki, paha, bahkan dekat kelamin juga terlihat banyak lebam.
“Berapa kali kau melakukannya?” Jihoon tidak bodoh, dia calon dokter. Dari bekas luka yang tertinggal di area kelamin Eunbi, Jihoon tahu bahwa wanita itu beberapa kali melakukan dengan mantannya. Manik Eunbi bergetar panik, jemarinya berkeringat dingin dan tanpa sadar ia melangkah mundur. “Kutanya sekali lagi, berapa kali kalian melakukannya?” Eunbi menggelengkan kepalanya, karena ia sungguh tidak menghitungnya. “Dengan pengaman?” lagi-lagi Eunbi menggeleng. “Kau tidak menggunakannya atau tidak tahu?” Jihoon mulai marah, bibir Eunbi terus bergetar hebat. “JAWAB!”
“A.. aku.. tidak tahu.. tidak.. ingat.. Tidak” Jihoon menghela napasnya berat. Eunbi mulai meringkuk dan meracau hebat. Ia menatap Eunbi dalam diam, otaknya berpikir keras. Bagaimana caranya membuat laki-laki bajingan itu jera. Tuhan, Jihoon bahkan berjuang sendiri menyembuhkan traumanya. Kini Eunbi datang dengan kondisi trauma yang sama.
Bohong jika Jihoon baik-baik sama melihat itu semua, bohong jika Jihoon mampu berpikir jernih menganai kejadian yang dialami Eunbi, bohong jika Jihoon tidak menahan tangisnya. Beberapa kali ia bergetar saat mendengar cerita Eunbi tentang bagaimana malam panjang yang penuh kesakitan dialami oleh gadis itu. Bagaimana laki-laki bajingan itu menyentuh Eunbi dengan paksa. Dan bagaimana Eunbi kehilangan martabatnya pertama kali dengan cara yang tidak manusiawi.
Jihoon pernah mengalami itu. Jihoon pernah mengalami malam suram itu. Jihoon juga pernah mengalami bagaimana rasa ingin mengakhiri hidup pada saat itu. Dan Jihoon tidak pernah lupa rasanya. Tapi kenapa? Kenapa disaat dirinya mulai melupakan rasa sakit itu, mulai mencari kebahagiaan, dan mulai menata masa depannya, hal ini justru terjadi. Ingatan yang ia coba lupakan dan pendam jauh-jauh itu secara otomatis muncul lagi.
.
.
.
Malam itu Jihoon meminta Eunbi merekam semua bekas luka dan cerita ia alami sebelumnya. Jihoon mencoba melakukan visum, dan meminta Eunbi memancing laki-laki brengsek itu untuk mengikutinya ke Korea. Karena jika tidak, mereka tidak akan bisa melaporkannya di Korea.
Ia memperhatikan dirinya saat mandi. Berkaca dan menatap maniknya sendiri yang bergetar panik. Beruntung Soonyoung belum pulang saat dirinya tiba tadi. Kepalanya menjadi penuh. Ia ingin menyelesaikan sendiri, tapi ia butuh bantuan. Ia ingin meminta bantuan Wonwoo tapi mereka butuh bantuan laki-laki untuk perlindungan. Ia ingin meminta bantuan Mingyu, tapi Soonyoung pasti marah jika tidak dilibatkan. Jika ia meminta bantuan Soonyoung, bohong bila ia tidak khawatir. Bagaimanapun Soonyoung dan Eunbi pernah memiliki cerita masa lalu. Jika ia melibatkan Tuan Lee dan ibu Eunbi, masalah ini akan semakin panjang dan bisa jadi mempengaruhi kesehatan mereka.
Ia hembuskan napas beratnya berkali-kali. Rasa sesak itu timbul kembali. "Ya Tuhan,, bagaimana inii"
.
.
.
YOU ARE READING
Drama (Squel of Mask) GS
FanfictionJihoon tidak ingin menebak apa yang terjadi antara dirinya dan Soonyoung. Dia tidak cukup percaya diri untuk menjadi prioritas Soonyoung selamanya. Mungkin kebekuan di hatinya telah mencair, tapi bukan berarti ia mampu percaya seutuhnya pada Soonyou...
