5

1K 150 6
                                        

    Jihoon keluar dari kafe itu dengan perasaan kacau. Dan semakin kacau saat melihat Soonyoung tiba-tiba berada dihadapannya dan memegang pergelangan tangannya kuat. "Kenapa Eunbi ada disini?"

   "Kenapa? Kau ingin menemuinya?" setidaknya Jihoon berhasil menjaga nada suara dan raut wajahnya. Ia tarik tangannya kuat-kuat dari genggaman Soonyoung.

   "Maksudku. Ada apa hingga ia kesini? Apa terjadi sesuatu yang-"

   "Khawatir padanya?" satu sudut bibir Jihoon terangkat. Maniknya menatap tepat pada kelereng Soonyoung. "Apa kau takut aku melukainya lagi?"

    Kini Soonyoung yang menatap Jihoon bingung. Ia tidak paham arah pembicaraan Jihoon. Ia hanya penasaran, mengapa Eunbi tiba-tiba ada disini. Itu saja. Ia mengalihkan pandangannya kearah Eunbi yang masih terduduk disana. Sendirian dan menangis. Kening Soonyoung makin mengerut, mengapa Eunbi tiba-tiba menangis?

   Jihoon menggigit bibir bawahnya sedikit keras. Didepannya, Kwon Soonyoung terus memperhatikan Eunbi yang menangis didalam sana. Dan tanpa disadari genggaman tangan Soonyoung pada Jihoon melonggar, lalu lepas begitu saja.

.

.

.

    Eunbi terkejut saat Soonyoung berdiri dihadapannya. Lelaki dengan rambut hitam legam itu nampak rapi dengan kemeja hitam yang digulung dan nampak senada dengan sneakersnya. Gadis itu buru-buru merapikan dirinya, tidak ingin terlihat kacau dihadapan Soonyoung. Meskipun ia yakin bekas air matanya pasti terlihat jelas.

   "Hai" Soonyoung tersenyum, sedikit basa-basi? "Apa yang kau lakukan disini?"

  "Menemui temanku tadi. Sekaligus bertemu Jihoon" Soonyoung nampak terlalu tenang dihadapan Eunbi. Mirip seperti Jihoon. "Hanya membicarakan beberapa hal dengan Jihoon"

  "Tentang?" dan disinilah keraguan Eunbi kembali muncul.

  "Bisakah aku bercerita padamu?" Soonyoung tersenyum kecil.

  "Tentu, kita teman bukan sekarang?"

  "Ya. Teman" butuh jeda beberapa detik untuk Eunbi menjawab. Teman?

  "Jadi, ada apa?"

  "Perusahaan appa yang Jihoon pegang, kini hampir sembilan puluh persen appa berikan kepada Jihoon keuntungannya. Sedangkan appa sendiri hanya mengambil sisanya. Kesehatan appa dan eomma yang butuh perhatian dan pendidikanku ternyata membutuhkan biaya lebih banyak" Eunbi memperhatikan garis wajah Soonyoung dengan perlahan. Benar-benar menyimpannya dalam memori. Sedangkan lelaki itu masih dengan tenang mendengarkan ceritanya, sama seperti Soonyoung yang dahulu. Pendengar yang baik untuknya. "Aku harus berangkat ke Paris untuk pendidikkanku. Dan ini.. masalah biaya" gadis itu memilih menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Ia benar-benar malu menceritakan ini pada Soonyoung.

   "Jadi kau butuh biaya untuk pendidikkanmu dan orang tuamu? Harusnya kau bilang saja pada kami. Kami pasti membantu"

Kami.

   "Aku merasa tidak enak pada Jihoon. Aku-"

  "Tidak apa, lagipula itu masihlah perusahaan Lee abeoji. Kami hanya membantu mengurus saja" diusapnya pelan bahu gadis itu dengan senyum menenangkan. "Gwenchana, nanti aku bantu bicara pada Jihoon. Oke? Kau tenang saja"

.

.

.

     "Eunbi butuh biaya ternyata" Soonyoung memulai percakapannya dengan Jihoon. Gadis itu terlihat tenang meminum susu putih milik nya di pantry.

Drama (Squel of Mask) GSStories to obsess over. Discover now