39

16K 1.8K 118
                                        

Terima kasih yang sudah update menunggu! Di chapter ini nggak ada romance tapi ada Johan sama Arumi. Masih belum ada target vote dan comment, karena akan update Jumat depan. Perlu hati-hati merangkai kata supaya enak dibaca dan nir kesalahan baca (meskipun sepertinya masih ada kesalahan), jadi mohon koreksi dan masukannya. Selamat membaca!

Hari Itu, Rakyatlah Pemenangnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari Itu, Rakyatlah Pemenangnya

===

"Indonesian president, accepted offering from WMF, World Monetary Fund. The conduct of monetary and exchange rate policy under the program has begun to deliver important results...."

Sudah lama Arumi tidak melihat presiden Indonesia. Dahulu pria itu disegani banyak orang. Pada tayangan berita yang diputar di televisi tabung, presiden itu duduk, menunduk. Pria berkacamata di sampingnya bersidekap, menunggu sang presiden selesai menandatangani surat perjanjian pemberian dana sebesar 130 triliun rupiah. 

Pria berkacamata itu adalah Mr. Richie, yang tempo hari bertaruh dengan Santoso di Underneath. Atas kemenangan Santoso dipertarungan itu, Richie bersedia membantu Indonesia dengan menggolontorkan dana pinjaman cukup besar. Namun, tetap dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi Indonesia. 

Bila usia Arumi masih tujuh belas dengan duka mendalam kehilangan keluarga, ini tontonan memuaskan. Orang yang digadang-gadang memerintahkan pembunuhan keluarganya, menunduk tidak berdaya demi mendapatkan utang triliunan. Tetapi, umurnya kini sudah 24. Kedewasaan menampanya bertahun-tahun, kendati keikhlasan masih harus ia asah. Tidak dipungkiri ia sedikit puas, melihat berita Indonesia terpuruk tidak berdaya, namun ia bersalah merasakan kepuasan itu.

Dimatikannya televisi, kembali pada kesibukannya dengan peta negara Swiss di atas nakas. Yang bersalah adalah petinggi negara, tidak seharusnya rakyat biasa turut menerima karma. Arumi memperkuat tekadnya, ia akan membantu Indonesia dengan apa yang ia punya. Warisan Soeryo Diningrat, khusus untuknya.

"Ayo," ajaknya bersemangat kepada Johan yang sudah jenuh menunggu di depan kabin. "Kita udah tiga kali istirahat, awas aja kalau sampai lo minta istirahat lagi," keluhnya meringkasi peta yang masih dibaca Arumi. 

Dua sekawan itu kembali bercerita. Kisah mereka bukan dikejar, melainkan mengejar. Sebuah harta karun menanti digali. Hanya Arumi yang bisa mengetahui harta itu berlandasan kode bank Swiss. Ternyata bukan bank tempat penyimpanan uang pada umumnya. Melainkan bank dalam bahasa Inggris yang bisa diartikan pula sebagai tepian sungai.

Siapa yang menyangka harta itu ditimbun rapih di salah satu tepian sungai Ticino yang mendekati pegunungan Alpen. Sepuluh tahun lalu, kala umurnya masih empat belas tahun, Soeryo mengajak Arumi berdua saja pergi ke negara Swiss. Menghabiskan akhir pekan di negara lain bagai menghabiskan Sabtu malam di salah satu mall Jakarta. Beralasan liburan di pegunungan Alpen, Soeryo memberi tahu Arumi di mana brangkas warisannya berada. 

Tanda SeruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang