30

17.9K 2K 314
                                        

Sejujurnya agak geli, penulis se-action ini harus menghadapi Santoso yang sebucin itu. Terima kasih telah berusaha vote dan comment ya. Author sangat mengapresiasi usaha kalian semua.

Tidak ada taget ya karena besok sudah hari Jumat✌️

Tidak ada taget ya karena besok sudah hari Jumat✌️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kesabaran yang Habis

===

Perlu kurang lebih delapan jam perjalanan dari New York ke Alaska dengan helikopter. Delapan jam bergelut dengan bising helikopter tidak sebanding dengan tujuh tahun menunggu tanpa kabar. Helikopter itu mendarat di sebuah tanah luas dengan salju meleleh yang berceceran. Santoso mengenakan sepatu bot khusus mendaki serta jaket paling tebalnya untuk beradaptasi.

Semakin jauh ia masuk ke dalam hutan, semakin tebal salju yang menutupi kakinya. Setelah sejauh tiga kilometer berjalan, ia tiba di sebuah rumah kecil seperti tak berpenghuni. Tetapi rumah itu kokoh, batu bata dengan semen terbaik, beserta kayu pohon ek sebagai pondasinya.

Santoso mengetuk pintu rumah itu lima kali tanpa henti. "Buka, Han. Dingin!" ujarnya dan semenit kemudian seorang pria bertubuh jangkung membuka pintu.

Johan tidak banyak berubah, hanya tingginya bertambah beberapa senti. Rambutnya masih sama pendeknya, mungkin pria itu mencukurnya teratur. "Gue udah bilang temuin gue kalau situasinya penting. Jadi, sekarang apa kasusnya? Perang nuklir?"

Santoso menerobos masuk. Ia menaikan suhu ruangan di penghangat ruangan. "Bukan," erangnya menahan dingin. "Keluarin wasiat Soeryo."

Mata Johan membesar, ia menutup pintu rumah kasar. "Mau berburu harta karun? Kalau prediksi gue bener soal bank Swiss, Soeryo mendam hartanya di bank Swasta dan cuma Arumi yang tau kuncinya. Gue coba retas data perusahaan—"

"Kita nggak lagi mecahin misteri," bantah Santoso dan semangat Johan seketika menghilang. Gerakannya membuka brangkas terhenti. "Gue mau kawin."

"Hah?" Johan terperangah. Ia bukan orang sembarangan sekarang. Ia salah satu penguasa internet dunia, bersembunyi di Alaska sebagai peretas yang jasanya diperebutkan banyak badan intelgen. Tidak lagi ia tunduk pada misi tak manusiawi. Kini ia duduk manis, menanti misi tertinggi, memilah mana yang ia suka. 

"Lo gangguin kerjaan gue cuma gara-gara mau kawin? San, satu server atau satu komputer gue eror aja internet seluruh dunia down. Gue nggak ada waktu buat ngawinin elo."

Kendati sudah bertahun-tahun tidak berada di Indonesia, Johan masih fasih berbahasa Indonesia. Lengkap dengan aksen Betawi yang kental.

"Cepet keluarin wasiatnya!" Santoso memaksa. 

Johan membuka kuci brangkas dengan sandi panjang. Tidak hanya wasiat Santoso, ada pula barang-barang antik, lukisan mahal sampai dengan senjata api di dalam brangkasnya. "Nih." Johan melempar map tersebut. "Awas aja lo gangguin gue lagi pakai hal nggak penting."

Tanda SeruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang