"Pergi dari Indonesia atau kau akan mati menderita." Itu seruan yang mengerikan, tetapi kenapa masih banyak yang bertahan di negeri ini?
Santoso merelakan beasiswanya demi menjadi musuh pemerintah, alhasil ia harus meninggalkan Indonesia. Hanya ada...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Akhirnya Tidak Ada yang Menang
===
Di ruangan dengan dua AC itu satu bangku panjang memenuhi pusat, kursi-kursi kayu mengelilingi berantakan. Rapat berlangsung sejak beberapa hari kemarin dan masih mencari solusi terbaik. Husein selaku presiden yang menjabat memimpin rapat. Ia membawa perwakilan tiga orang dari lembaga khusus yang ia bentuk untuk mengatasi krisis ekonomi. Salah satu anggotanya adalah Santoso, duduk di samping Husein. Di belakangnya Arumi menemani. Sesekali Santoso menoleh ke belakang, sekadar melempar senyuman pada sang istri agar tidak merasa diasingkan.
Rapat itu juga dihadiri lima penguasa bisnis negeri. Bidang perbankan, tembakau, perminyakan dan tambang serta perwakilan perusahaan multinasional bidang makanan. Kelimanya berada di ambang kehancuran yang tidak pernah dibayangkan raksasa bisnis seperti mereka.
"Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian," Husein membenarkan posisi duduknya, menyenggol siku Santoso karena terlalu lama tersenyum pada Arumi di tengah rapat. "Santoso di sini tidak hanya selaku anggota yang saya tugaskan menangani krisis di Indonesia, tapi ia mempunyai solusi dari kantong pribadinya."
Senyuman Santoso menghilang. Bila berhadapan dengan para penguasa, rautnya menyiratkan dingin yang tak biasa.
Sebelum panggung disediakan untuknya, Santoso meneguk minum yang disediakan di rapat ini. "Seperti yang kita tau, beberapa bank terpaksa tutup. Namun, setelah peninjauan ulang, ada beberapa bank yang saya kira harus dipertahankan. Bank-bank tersebut memodali perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Bila tidak ada modal dari bank tersebut, perusahaan tidak bergerak." Santoso berdiri, membagikan kertas berisi perjanjian tertulis yang ia buat.
Orang-orang berdasi yang hadir di rapat itu membaca kertas yang Santoso berikan sembari mendengarkannya melanjutkan berbicara. "Dengan dana pribadi istri saya, beliau bersedia membantu meminjami modal kepada berbagai sektor untuk membangkitkan krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Kita sudah meminjam terlalu banyak ke luar negeri, malu bila meminjam dana kembali."
"Akan tetapi WMF mau mengutangi Indonesia 130 triliun karena ketua WMF kenal dekat dengan Anda, Pak Santo," sela seseorang. Namanya Lim, pemilik bank swasta ternama Indonesia yang berada di ambang kebangkrutan. "Anda sendiri yang bilang utang sebanyak apa pun pada Indonesia tidak akan bisa menanggulangi krisis ini. Kenapa mau mengusulkan utang lagi?"
"Lho, saya hanya mengenalkan ketua WMF, Mr. Richie pada mantan presiden. Bukan memaksa WMF menggelontorkan dana. Tapi siapa sangka ternyata mantan presiden tertarik dengan utang itu?" Santoso bersilat lidah, pura-pura tidak bersalah. Ia kembali duduk di tempatnya setelah kertas-kertas yang ia bagikan habis.
"Waktu itu kita dihutangi WMF. Selaku yang berhutang, kita sadar diri harus mau diatur. Ada beberapa aturan dari perekonomian Barat yang mau tidak mau diterapkan di Indonesia oleh WMF. Aturan Barat itu tidak cocok dengan sistem perekonomian kita. Tapi utang kali ini berbeda, kita sendiri yang akan mengelola aturan tersebut tanpa campur tangan negara lain."