44

15.6K 1.6K 150
                                        

Guys, sepertinya aku tidak bisa update Jumat secara konsisten ya akhir-akhir ini. Semoga kalian memaafkan Author dan tetap mau order Tanda Seru ketika open PO nanti 💸💸💸 

Semua tentang update Tanda Seru perihal PO dan seru-seruan, akan terus di-update di Instagram: yourbrainwasher dan Tiktok: _brain_washer_ 
Oh, sama di saluran WhatsApp juga yang bisa kalian akses di bio akun Wattpad ini 

Semua tentang update Tanda Seru perihal PO dan seru-seruan, akan terus di-update di Instagram: yourbrainwasher dan Tiktok: _brain_washer_ Oh, sama di saluran WhatsApp juga yang bisa kalian akses di bio akun Wattpad ini 

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kiss Me Like The Winner

===

Sidang dilangsungkan secara terbuka, wartawan serta jurnalis siap mengambil posisi. Bagai bintang utama dalam sidang ini, ketika Gate tiba dengan dua penjaga di belakangnya, belasan lensa langsung menyorotinya. Penggambaran yang agak berlebihan tetapi ini kenyataannya. Beberapa wartawan kagum dengan kecantikan dan tubuhnya, tidak menyangka wanita yang lebih pantas berlenggak-lenggok di panggung peraga busana ini memilih menjadi bandar narkoba.

"Ternyata Kapolri Feri hebat, bisa menangkap penjahat kelas kakap, internasional lagi." Selentingan terdengar, membuat Gate tersenyum kecut. Jika ia tidak menyerahkan dirinya, tentu Feri tidak bisa menangkapnya. 

Gate duduk di kursi tersangka, di tengah ruangan dan siap dihakimi. Di sisi kirinya ada orang-orang yang kontra dengan dirinya. Beberapa pengacara dengan seragam toga hitam serta dasi putih khas pengacara. Sementara di sisi kanan diisi oleh Santoso. Sendirian, tanpa ditemani asistennya Dewina karena jabatannya dilengserkan. Namun, ada satu yang masih setia. Jaya duduk terpisah di kursi penonton, hanya berjaga. Lagi pula, dengan membayar atasan Jaya, Santoso bisa mendapatkan pengawalan khusus. Apa pun bisa dilakukan aparat, asalkan ada bayarannya.

"Saudari, Agatha." Hakim memanggil. "Dua orang anak buah Anda membantu Anda membawa tanaman ganja dari Indonesia ke kapal khusus. Hal ini ternyata sudah dilakukan selama lebih dari lima tahun ke belakang." Jemari Hakim membalik kertas di hadapannya. "Atas dakwaan tersebut, dua anak buah Anda yang merupakan WNI dijerat hukuman 10 tahun penjara, denda 1,5 miliyar karena mengedarkan narkoba golongan satu."

Tidak hanya anggota Bratva, Gate juga beraliansi dengan penduduk Indonesia setempat dalam bisnis ganjanya. Beberapa penduduk menyetujui lahan mereka disewa untuk menanam tanaman ganja. Tanah Indonesia subur, menghasilkan ganja-ganja berkualitas. Apesnya, kedua penduduk itu ikut terseret karena tidak kebal hukum. 

"Saudari Agatha kami kenakan pasal berlapis, dikarenakan telah memproduksi, mengedarkan dan mengkonsumsi narkoba pada pasal 114 ayat 2 dan 112 ayat 2 Undang-undang No. 35 dengan vonis hukuman mati." 

Setelah hakim berbicara, waktunya Santoso beraksi. Dibenarkan krah kemejanya lalu berdiri dengan ujung-ujung jarinya menyentuh meja. "Lima tahun Saudari Agatha berbisnis ilegal, menikmati hasil panen di Indonesia tanpa pajak. Selama lima tahun itu, kenapa baru terbukti sekarang? Apa yang dilakukan Indonesia lima tahun lalu? Harus menunggu saya dapat jabatan jadi menteri—"

Tanda SeruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang