31

17.4K 2K 338
                                        

Guys, maafkan keterlambatan update. Terima kasih yang sudah menanyakan dan menunggu. Tenang, Author tidak hilang diculik kok meskipun tukang bakso lewat lima kali di depan rumah.

2.200 kata di bab ini dan kalau boleh 220 vote dan 220 komentar untuk fast update.

200 kata di bab ini dan kalau boleh 220 vote dan 220 komentar untuk fast update

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Patah Hati dan Doa Tuhan

===

"Kami akan menghubungi Anda segera setelah Mr. Santoso kembali dari cutinya." Hiro menutup satu telepon. Di tangan kanannya, telepon lain menunggu diangkat. "Halo dengan Kenneth William, di sini dengan asisten pribadi Mr. Santoso ada yang bisa dibantu?" Belum satu detik ia berbicara, telepon lain berdering. "Oh... sungguh? Kami akan segera menghubungi kembali untuk konfirmasi selanjutnya. Ya... ya, terima kasih."

Hiro tidak tahan lagi. Ia mencabut kabel telepon sehingga tidak ada lagi telepon yang berdering di ruangan kerja Santoso. Kurang lebih ada tiga puluh panggilan seharian ini. Semua berkaitan dengan pekerjaan, serta tawaran kerja sama. Menjadi Santoso tidak mudah, dan Hiro antara salut serta kesal dengan atasannya itu karena melimpahkan pekerjaannya pada Hiro selagi cuti.

"Kami-sama, pinjamkan aku kekuatan untuk menghajar bosku sendiri." Hiro menarik napas dalam, menyatukan kedua tangannya di dada bak berdoa. "Memang sepenting apa? Itu hanya satu perempuan. Kau jadi gila mengambil cuti dadakan!" gerutunya sembari mengambil kunci mobil.

Bunga lily serta kudapan kue berhias stroberi cantik di atasnya Hiro pilih sebelum menuju apartemen Arumi. Santoso sibuk mengurus visa serta dokumen yang diperlukan untuk kembali ke Indonesia, jadi ia menitipkan pula tugas pribadinya menyenangkan hati Arumi pada Hiro.

"Hiro?" sapa Arumi melihat Hiro di depan apartemennya dengan bunga lily serta sekotak kue.

"Mr. Santo memintaku membawakan bunga serta kue." Hiro menyerahkan keduanya bersamaan, Arumi agak kesulitan menampanya.

"Oh, terima kasih. Apa Santo yang menyuruhmu membeli bunga lily juga?"

Hiro mengangkat bahu. "Tidak, itu ideku saja. Mr. Santo tidak menitipkan pesan spesifik terkait bunga. Aku melihat dirimu tampak cocok dengan lily."

"Bunga lily itu simbol kematian."

Hiro mundur, lalu membungkuk sembilan puluh derajat. "Maaf, Miss," ucapnya sungguh-sungguh. "Tolong jangan beritahu Mr. Santo tentang ini."

Arumi tertawa, bisa-bisanya pria di depannya ini tidak tau tentang bunga lily. Rasanya tak mungkin Hiro tidak mengetahui. Bunga lily hadir di tiap acara pemakaman, tapi kondisi rambut Hiro serta kemejanya yang agak berantakan membuat Arumi memaklumi. Mungkin pria ini tidak bisa berpikir jernih akibat kerjaan menumpuk.

"Tidak apa-apa, terima kasih telah berusaha."

Hiro kembali berdiri, tidak lagi melakukan ojigi sembilan puluh derajat. "Aku tidak mengerti kenapa Santoso cinta mati denganmu." Hiro menyipitkan matanya, menelisik. "Kau bukan wanita super cantik, berkaki jenjang, berkulit gelap, meskipun matamu bagus... oh, astaga. Santoso akan menghajarku kalau tau aku memujimu." Dipukul sendiri mulutnya karena salah berbicara.

Tanda SeruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang