"Pergi dari Indonesia atau kau akan mati menderita." Itu seruan yang mengerikan, tetapi kenapa masih banyak yang bertahan di negeri ini?
Santoso merelakan beasiswanya demi menjadi musuh pemerintah, alhasil ia harus meninggalkan Indonesia. Hanya ada...
Terima kasih 80K-nya! Cerita ini tidak akan berjalan semestinya tanpa dukungan kalian.
Kalau boleh minta lagi 260 vote dan 200 comment buat update cepat bisa nggak ya 👉👈 enggak juga nggak apa-apa guys. Cerita ini tetap update Jumat.
2.400 kata untuk bab ini. Ditunggu sekali vote dan komentar kalian untuk meramaikan <3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Calon
===
Rumor dan angin hampir serupa, sama-sama berembus cepat. Dan akan mereda hilirnya dengan sendirinya. Ketika jajaran menteri mengumumkan nama Santoso muncul, rumor si Tukang Jagal itu disebarkan dari negara seberang Indonesia sampai dari benua yang jauh dari Asia. Tukang Jagal yang pernah menjagal pengiriman kokain ratusan kilo dan berhasil memenangkan pengadilan untuk menghukum mati dalang penyelundupan. Pengacara sombong yang menolak kasus remeh penceraian dan hanya menerima kasus pembunuhan, sengketa politik dan ekonomi bangsa. Pria muda yang tak memiliki belas kasih pada kakek tua tersangka pencabulan yang dihukum nyaris seumur hidup.
"Jajaran menteri kali ini agak kacau," ujar seorang pria berjas batik dan rekan sejawat di sampingnya mengangguk. "Bayangkan tiba-tiba ada anak muda yang umurnya dua kali lebih muda dari kita diangkat untuk jadi penegak hukum negara Indonesia? Apalagi katanya dia dari luar negeri. Tau apa hukum di negara kita," cemoohnya membuat orang-orang di sekitarnya bersemangat.
"Pasti dia orang borjuis yang hidup nikmat dari kecil, dikuliahkan oleh orangtuanya yang berkecukupan. Saya jadi penasaran, dia bisa masuk kabinet Indonesia lewat jalur tangan siapa." Rekannya membalas antusias. "Paling dia kembali ke Indonesia karena di luar negeri tidak begitu laku atau tersandung kasus yang mengharuskan kabur."
"Wah, lama sekali. Saya udah nggak siap mau kerja!" Obrolan dua pria paruh baya itu terhenti kala seorang laki-laki berteriak di belakang mereka. Beberapa orang tertawa mendengar ucapan laki-laki muda berkulit coklat mengkilat itu. "Itu kenapa ada biduan segala? Pelantikan itu harusnya sakral! Datang, bersumpah, lalu pulang langsung kerja," gerutunya.
"Semangat sekali, Pak David. Baru kali ini ya bekerja di kementrian?" Seseorang pun menyahuti.
"Iya. Saya jadi orang beruntung dari daerah Timur yang bisa masuk ke jajaran menteri tahun ini." Laki-laki berambut agak hitam legam itu bernama David. Punya mata besar dan senyuman merekah lebar yang manis.
Sayangnya, senyuman manis miliknya itu sudah ada yang punya. "Maaf ya suami saya agak... pecicilan." Perempuan berkulit putih dan bermata kecil tersebut mencubit pinggang David. "Jangan malu-maluin. Kalau lo nggak cocok sama obrolan orang-orang di sini tinggal diem aja, apa susahnya sih?"
"Nggak bisa, mulut gue gatel kalau nggak nyerempet orang yang rese," David berganti mencubit dagu sang istri. "Lo inget nggak calon menteri yang dimaksud? Mantan pengacara terkenal dari Amerika Serikat?"