"Pergi dari Indonesia atau kau akan mati menderita." Itu seruan yang mengerikan, tetapi kenapa masih banyak yang bertahan di negeri ini?
Santoso merelakan beasiswanya demi menjadi musuh pemerintah, alhasil ia harus meninggalkan Indonesia. Hanya ada...
Selamat. Kalian menyelesaikan sampai akhir cerita ini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pertanda dan Seruan
===
Jakarta, Indonesia. 1998. Lapas Kelas III.
Pagi ini kelabu, rintik hujan tak kunjung surut sejak dini hari. Tetapi tidak menyusutkan sedikit pun semangat para wartawan berburu informasi. Mustang hitam Santoso memasuki lapas di pinggir ibu kota. Satu wartawan yang bersiaga segera mengabari teman wartawan lainnya menggunakan telepon umum depan lapas. Mangsa mereka telah tiba.
Sebelum turun dari mobil, Santoso mengencangkan dasi serta merapihkan kemejanya. Fotonya berlibur ke pantai menjadi sorotan seminggu terakhir di koran ibu kota. Luka-luka yang telah mengering di badannya pun segera dikaitkan dengan sang ayah yang mendekam di penjara akibat kasus judi serta KDRT. Simpatisan mulai berdatangan setelah pemecatan secara tidak hormat dirinya sebagai menteri hukum. Sebagian lagi salah fokus dengan tubuh Santoso yang terbalut massa otot tidak biasa.
Penjaga sipir terdepan mengangguk pada Santoso, mempersilakannya masuk. "Mau bertemu siapa, Pak?" tanya sipir tersebut, membawa Santoso melintasi lorong lapas yang pengap tak terurus.
Ruangan besuk itu tidak seperti ruangan besuk penjara yang menghukum Gate. Kursinya reyot, banyak paku mencuat ke segala sisi. Meja di sana lapuk serta bau tidak sedap datang entah dari mana. Satu penjaga pun tiba, membawa sang ayah yang lama tak ia jumpai. Tubuh Djaksa sedikit kurus, kerutan terlihat di sisi matanya. Rambutnya hanya sedikit memutih. Djaksa tidak jauh berbeda. Itulah yang Santoso yakini.
"Santoso, anakku yang paling baik. Pantas saja kamu paling sukses dibandingkan kakak-kakakmu." Dengan kedua tangan diborgol, Djaksa menyentuh wajah putra bungsunya itu. "Kamu sudah menikah? Tega sekali tidak mengundang bapakmu ini. Suri datang?"
"Semua datang kecuali Bapak. Duduk jangan berdiri."
Menuruti perkataan sang anak, Djaksa duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan anaknya. "Bapak bilang sama teman satu sel Bapak kalau yang jadi calon presiden itu anak bungsu Bapak. Napi di sini menganggap Bapak gila. Lihat sekarang! Anak Bapak datang," ucap Djaksa dengan nada tinggi yang dibuat-buat. "Hei! Pak Sipir! Lihat, 'kan?" tanyanya pada sipir yang berjaga di depan ruangan besuk.
"Pak," panggil Santoso, sebelum Djaksa berbicara ke mana-mana. "Aku minta tolong sama Bapak."
"Minta tolong?" beo Djaksa bingung, apa yang bisa ia perbuat dari dalam sel, sementara Santoso jauh lebih mempunyai kehendak bebas. "Apa nggak kebalik, San? Harusnya Bapak yang minta tolong sama kamu mengeluarkan Bapak dari sini. Kakakmu itu si Sabda yang memenjarakan Bapak. Sabda punya uang sedikit saja langsung sok bertindak. Keluarkan Bapak ya, apa gunanya Bapak punya anak pengacara?"