EXTRA CHAPTER?

11.4K 798 45
                                        

Sebelum membaca, sekadar mengingatkan 6 Juni pukul 06:00 WIB akan dibuka pre-order kedua Tanda Seru. Yang ketinggalan, masih dapat kesempatan. Tanda Seru nantinya akan tersebar di Gramedia/toko buku offline kesayangan kalian semua, tapi tidak sekarang. Jadi selamatkan arsip ini lebih dahulu!

===

FARAZ

===

Di masa kini...

Diam merupakan sikap. Terutama bagi para kaum seperti keluargaku yang tidak lepas dari sorot kamera meskipun kami bukan selebriti. Rumor mengenai dosa ayahku yang menjadi pematik kerusuhan tahun 1998 dahulu kami atasi dengan diam. Membiarkan opini yang bersuara mengisi sejarah yang hilang. Kami berharap itu berlalu seperti kasus-kasus remeh yang dibiarkan mangkrak di kejaksaan.

Mengapa rumor bagai sesuatu yang abadi? Yah, mungkin saja karena itu tak mendapatkan jawaban pasti, oleh sebab itu rumor terus berjalan mencari jawaban. Kalau sudah jadi jawaban pun akan ditinggalkan, bukan? Manusia lebih suka ketidak pastian. Aku kira itu juga berlaku untuk sebuah hubungan.

Semakin tak pasti, semakin abadi. Aku takut Larisa pergi jadi aku biarkan hubungan kami seperti terbelenggu dalam ketidak pastian yang mungkin baginya mengasyikan.

"Kami belum menyerah! Aksi kamisan ini akan berlangsung. Catatlah para calon sejarahwan. Bahwa di Indonesia, ada sebuah masa yang sengaja ditutupi. Kami tidak bisa mengungkapkan itu, kami hanya bisa menyadarkan bahwa masa itu ada!" Larisa berbicara dengan pengeras suara, menunjuk teman-teman sejurusannya di Ilmu Sejarah yang hadir di aksi demo hari ini. Kemudian pengeras suara itu ia kembalikan lagi kepada Ibu Marta.

Aku menatap matanya yang menyala, tangannya mengepal tinggi, suaranya lantang menyumbang sorakan para demonstran. Larisa tidak hanya korban sebuah rumor mengenai kejahatan ayahku yang tidak pasti, ia juga mungkin korban dalam hubungan yang aku ciptakan sendiri. Karena tidak mungkin aku yang menjadi korban. Meskipun pada akhirnya aku yang patah hati, aku tidak akan membuat keadaan seolah akulah yang harus dikasihani. Aku tidak butuh simpati.

Mika bilang, bila aku mau mengerti penderitaan rakyat, coba bayangkan posisimu sebagai rakyat. Jadi aku memejamkan mata sejenak, membayangkan aku berada di posisi Ibu Marta. Kehilangan anak sulungnya, tanpa tau di mana jasadnya. Bertahun-tahun mencari keadilan namun pemerintah tidak kunjung mendengar. 

Tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan berada di posisi seorang ibu. Aku bukan wanita, apa pantas aku membayangkan luka yang diderita seorang ibu yang kehilangan anaknya? Lagi pula, jika aku berada di posisi Ibu Marta, aku akan berjuang sampai mati, meski yang aku lawan para polisi. Tapi aku tidak menghakimi Ibu Marta. Pasti ada banyak hal kenapa ia tidak bertindak nekat sepertiku.

Aku tidak akan menggunakan cara Mika untuk paham penderitaan rakyat. Aku tidak pernah kelaparan, seumur hidupku selalu berlebihan. Tapi aku akan berada di posisi rakyat dengan caraku sendiri tanpa perlu aku menjadi mereka. 

Beberapa orang memberiku jalan menuju podium utama. Semakin dekat dengan podium, rasanya jantungku semakin berdegup sangat kencang. Lalu jantungku mencelos seperti jatuh begitu saja ketika tiba di depan podium dengan Ibu Marta yang masih melakukan orasinya. 

Podium itu tidak megah, tidak pula tinggi, tampak dibuat dadakan dengan bahan utama kayu. Saat aku berdiri di samping podium, bahkan tinggi Ibu Marta yang naik ke atas podium sama dengan tinggiku. "Maaf, Bu. Tapi saya harus berbicara."

Aku yakin Ibu Marta mengenaliku. Setidaknya jika ia tidak mengenaliku, ia tau ayahku. Wajahku dengan Ayah cukup mirip. Akan jadi sangat mirip jika DNA ibuku tidak mengambil alih dalam bentuk hidung.

Tanda SeruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang