"Pergi dari Indonesia atau kau akan mati menderita." Itu seruan yang mengerikan, tetapi kenapa masih banyak yang bertahan di negeri ini?
Santoso merelakan beasiswanya demi menjadi musuh pemerintah, alhasil ia harus meninggalkan Indonesia. Hanya ada...
Terima kasih achievement vote dan comment-nya! Tidak ada target ya karena sudah mau hari Jumat. Lengah sedikit tiba-tiba sudah 110K? Padahal additional part merayakan 98K lagi diketik 😭
Panjang sekali chapter ini 2.600++ Selamat membaca!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pamer
===
Santoso membuka pintu Ford Mustang hitamnya yang terparkir di halaman gedung DPR. Mobil yang paling mengkilat dan harganya paling tinggi dibandingkan mobil-mobil lain yang berada di sana.
"Wallahi!" ucapnya kaget ketika mendapati David ikut masuk ke dalam mobilnya, duduk di kursi penumpang di sebelah kemudi.
"Wah, gila. Jadi ini rasanya naik Mustang." Mata David berbinar mengamati tiap sudut mobil Santoso. Bagai anak kecil yang baru menemukan mainan baru. David mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil. "Ini anti peluru? Lo modif sendiri?"
"Ngapain masuk mobil gue?" Santoso menepis tangan David yang hendak mengelus dashboard mobilnya.
Mengabaikan pertanyaan Santoso, David pun mengenakan sabuk pengaman. "Nebeng temen yang bawa kendaraan pribadi. Ayo, jalan," titah David seenaknya, menunjuk jalan kosong di depan mereka.
"Gue bukan temen lo," tolak Santoso. Bahasa mereka berubah, tidak lagi seformal ketika berada di ruangan rapat atau kala pelantikan menteri. Meski telah lama tidak tinggal di Indonesia, dan hanya sesekali berkunjung, bahasa Indonesia serta bahasa daerah Santoso masih lancar.
Santoso melajukan mobil, ia harus tiba di tempat yang dituju wakil presiden kurang dari satu jam walau ia ingin sekali menendang David keluar mobil. Saat mereka melintasi ketua KPK yang sedang mengobrol dengan ajudannya, David sengaja membuka kaca mobil.
"Halo, Pak. Saya duluan ya, nebeng mobil Pak Santo," sapanya sengaja mengeraskan suara. Setelah kaca mobil ditutup, David tertawa keras. "Paling habis ini lo diperiksa sama petugas pajak. Mobil lo bagus, jam tangan lo juga mahal. Kalau ada apa-apa, kelar hidup lo."
"Gue nggak takut diselidikin. Bahkan dari hasil proses korupsi di Indonesia sama gaji gue jadi pengacara, lebih tinggi gaji gue." Sebenarnya, gajinya menjadi menteri bahkan tidak menyentuh setengah gajinya menangani satu kasus sebagai pengacara. Tetapi Santoso memperkuat keinginannya, bukan gaji yang ia kejar dari jabatan menteri.
Mereka tiba di bengkel pesawat lima puluh menit kemudian. Seseorang yang masih mengenakan seragam bengkel menunjuk lantai tiga sebuah gedung, tempat wakil presiden itu berada. Berita Thailand membiarkan nilai tukar uangnya mengambang bebas terlalu mendadak. Tidak ada persiapan, kendati ada beberapa tanda di awal seperti merosotnya ekonomi Thailand beberapa akhir ini.
"Oh, Santo dan David, mari masuk," ajak Husein membuka lebar pintu ruangannya yang tengah dihuni Menteri Teknologi dan Sains, Pak Mantri. "Saya sedang berdiskusi dengan Mantri mengenai rencana penyediaan pesawat terbang terbaru di Indonesia."