33

17.7K 1.9K 235
                                        

Disclaimer. Chapter ini kembali kita masukan sedikit sejarah, maaf kalau bosan 🙏 dan udah dikasih sejarah, Arumi sama Santoso berantem lagi. Eh. Hehehe.

Di chapter sebelumnya ada yang bisa mencapai 260 vote. Chapter ini bisa nggak ya? 260 vote dan 200 comment supaya bisa update cepat sebelum Jumat?

 Chapter ini bisa nggak ya? 260 vote dan 200 comment supaya bisa update cepat sebelum Jumat?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rumah

===

Perjudian bukan hal tabu bagi para petinggi negara. Seruan-seruan ditegakan mengenai bahaya dampak berjudi tetapi yang paling banyak melakoni adalah penegak hukum sendiri. Ini tidak hanya terjadi di negara Indonesia, tetapi di negara mana pun, tentu akan ditemukan pegawai pemerintah yang menyalah gunakan aturan. 

Natasha bergabung pada satu lingkaran permainan. Isinya pejabat dari berbagai negara, termasuk satu orang yang ia incar. Menteri Ekonomi di Thailand, Boo-Mee. Pria gempal itu kerap berjudi, hobi yang ia geluti tiap akhir pekan hingga melupakan anak serta istri. 

"Nona Natasha, senang rasanya bisa berjumpa," sapa Boo-Mee, mengeluarkan semua hartanya malam ini untuk taruhan. "Bagaimana kabar Rusia?"

"Semakin dingin, semenjak orang yang aku cintai tidak lagi berada di sana." Tidak mau kalah, Natasha juga mengeluarkan semua hartanya untuk bertaruh. Namun, ia tak berpegang pada keberuntungan, ia pintar. Tau bagaimana cara bermain agar bisa menang. 

"Siapa laki-laki yang bodoh itu, eh?" Boo-Mee mengocok dadu lebih dahulu. "Mau aku kenalkan dengan pemuda di Thailand? Kau ini wanita Rusia yang menyukai pria Asia, 'kan?" Boo-Mee mengaduh pelan melihat hasil kocokan dadunya yang tidak seusai keinginannya. 

Dadu pun diserahkan pada peserta lain yang berada di meja yang sama dengan mereka. Selagi menunggu giliran, Natasha membalas. "Pria Asia punya pesona sendiri. Suatu saat, ketika aku sudah pensiun, aku ingin menjadikan Asia tempat istirahat terakhirku." 

"Mau coba membeli rumah di Thailand? Aku bisa usahakan harga terbaik," bujuk Boo-Mee, menjetikan jari. "Kalau kau tidak punya uang besar, kau bisa menyicil. Suku bunga di Thailand sekitar 6% pertahun. Jadi anggaplah harga rumah di Thailand seratus juta bath. Jika kau menyicil satu tahun, bunga yang perlu kau bayar hanya enam juta bath. Aku bisa mengusakan kau menempatinya tanpa perlu DP."

Natasha bergumam, berpura-pura tertarik dengan satu dagu disangga oleh jemarinya. Dua buah dadu diserahkan padanya. "Suku bunga di Jepang hanya 2% pertahun," Natasha mengocok dadu lalu melemparnya di meja. Angka satu dan tiga muncul. "Suku bunga di Thailand 6% pertahun. Kalau aku jadi orang Thailand, aku akan meminjam uang dari Jepang."

Boo-Mee mengintip sisa kartunya lantas bertanya. "Kenapa mau meminjam uang dari Jepang?"

"Bayangkan," Natasha mengeluarkan kartu As hati. "Aku meminjam uang di Jepang sejumlah 6.000, satu tahun suku bunga hanya 2% jadi aku hanya mengembalikan 6.120. Uang itu aku bawa ke Thailand untuk aku putarkan. Aku pinjamkan uang 6.000 tersebut kepada warga Thailand dengan bunga 6%. Mereka mengembalikan 6.360. Dari 360 dikurangi 120, aku untung 240. Singkatnya meminjam uang untuk dipinjamkan."

Tanda SeruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang