"Pergi dari Indonesia atau kau akan mati menderita." Itu seruan yang mengerikan, tetapi kenapa masih banyak yang bertahan di negeri ini?
Santoso merelakan beasiswanya demi menjadi musuh pemerintah, alhasil ia harus meninggalkan Indonesia. Hanya ada...
Target kemarin terlalu tinggi ya. Kita turunkan. Apakah bisa 700vote dan 100 komentar di BAB ini untuk update sebelum Jumat depan?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kita Bukan Anjing, Kita Serigala
===
Gate tidak takut kematian. Bila hari ini ia meninggalkan dunia, maka biarlah. Itulah yang menjadikannya tak menunda-nunda segala keinginannya, menjadikannya pribadi yang spontan.
Biasanya, penjara memberikan fasilitas khusus pada calon narapidana hukuman mati. Apa pun itu dikabulkan sebelum eksekusi. Makanan, barang mewah ataupun hal-hal konyol lainnya. Gate tidak meminta apa pun, baginya semua sudah ia rasakan.
"Nona Agatha, pengacara Santo ingin menemui Anda sebelum eksekusi." Sipir penjaga membuka sel, mempersilakan Gate keluar menuju ruangan temu antara narapidana dan pembesuk.
"Apa lagi?" tanya Gate malas, ia melirik kepada sipir penjaga yang berdiri di dekatnya. "Aku butuh privasi. Tidak usah curiga aku akan kabur dibawa Santo, sebentar lagi aku mati."
Walaupun sempat ragu pergi, sipir itu akhirnya menuruti permintaan Gate. Ruangan itu biasanya bisa diisi sampai beberapa orang tapi hanya mereka berdua di sana. Terasa lenggang dan tenang.
"Aku akan menjaga Nadine sementara, Arumi senang sekali. Katanya dia mau anak perempuan."
Gate mendengus. "Kalau aku mati, aku akan sampaikan kepada Tuhan supaya kau tidak diberkati anak perempuan, Santo. Bisa-bisa kau tidak membiarkan anak perempuanmu menikah."
Santoso mengangkat bahu. "Mungkin aku akan mengizinkannya di umur 40 tahun."
"Jadikan saja dia biarawati sekalian," ketus Gate. "Hanya itu yang mau kau sampaikan, bukan? Aku mau kembali."
"Terima kasih, sungguh." Santoso menelan ludah mengatakannya. Bertahun-tahun mereka menjalin sebuah hubungan rumit, bahkan hidup dan mati mereka lalui, tapi jarang terdengar satu ucapan terima kasih atau maaf. "Terima kasih atas semuanya. Kau bukan anjingku lagi, Gate. Kau bebas."
Bersamaan dengan itu pula, tali yang melingkari leher Gate sebagai penanda anjing paling setia itu lepas. Harusnya Gate berlari sejauh mungkin, tapi tidak. Gate hanya diam di tempatnya, memikirkan kata-kata.
"Aku menjadi anjingmu bukan atas paksaanmu. Kalau aku mau bebas darimu, sudah aku lakukan sedari dulu. Lagipula aku ini salah satu petinggi di Bratva, aku punya pasukan untuk melawanmu, Santo. Tidak perlu merasa kuat. Kau bukan apa-apa tanpaku." Gate meluruskan kakinya yang panjang, meregangkan ototnya walau borgol membatasi gerak kedua tangannya.
"Kau benar," balas Santoso. "Aku bukan siapa-siapa tanpamu, tanpa Underneath, bahkan tanpa Soeryo yang gila itu. Aku tidak akan bisa berkuliah dan mendapatkan anak gadisnya jika tidak menjilatinya mati-matian."