32

16.2K 2K 255
                                        

Senang sekaligus syok bisa dapat 60K! Terima kasih, semua ini tidak akan bisa tercapai kalau tidak ada dukungan kalian. Dan setelah ploting beberapa bagian, ternyata cerita ini agak molor jadi 40++ chapter tapi nggak akan sampai 50 chapter. Semoga saja mentok di 45 (semoga).

Tidak ada target vote dan comment. Tapi boleh banget kalau vote dan comment banyak. Update lagi di hari Jumat. Selamat membaca 2.300 kata di bab ini.

300 kata di bab ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aman

===

Indonesia. Negeri di mana orang-orang tamak dibesarkan dan dibiarkan oleh negara. Dipelihara sejak dini, dipaksa para orangtua yang kekurangan biaya agar mendapat pundi-pundi uang apa pun caranya. Arumi tidak menyangka tidak banyak yang berubah di tempat kelahirannya. Bandara masih serupa, hanya renovasi sedikit di beberapa bagian, sementara bagian lain dibiarkan tak terurus. Namun, dari sekian banyak orang-orang tamak itu, banyak pula orang-orang yang bertahan dengan keimanan. Salah satunya Tarjo. Supir yang memegang teguh agama yang dipercayainya serta selalu membantu sesama.

"Pak Tarjo?" Arumi melepas koper, ia langsung berlari dan memeluk pria yang tampak lebih tua dari terakhir mereka bertemu. Satu-satunya bagian yang tersisa dari keluarga inti Soeryo.

Tarjo membalas pelukannya bagai seorang ayah yang rindu anak perempuannya. Ditepuknya lembut pundak Arumi beberapa kali. "Bapak bersyukur bisa bertemu Dek Wening lagi."

"Arumi," ralat Arumi melepaskan pelukan rindu mereka. "Nama aku sekarang Arumi, Pak. Bukan lagi Wening."

"Oh maaf, Dek. Bapak lupa." Tarjo melirik Santoso. Pria itu teringat bahwa Santoso pernah menceritakan perubahan nama Wening, tetapi Tarjo lupa akan hal tersebut. Terlalu senang bisa bertemu kembali dengan Arumi.

"Aduh," keluh Arumi tiba-tiba. Dilimpahkannya tas besar miliknya pada Santoso. "Aku mau pipis." Kemudian Arumi berlari, tanpa kebingungan tau di mana letak toilet bandara berada. Tidak banyak perubahan selama kurang lebih delapan tahun terakhir. Tidak sulit baginya menemukan toilet, dahulu Arumi kerap mondar-mandir bandara Indonesia nyaris tiap bulan.

"Rumi, barang kamu--" Santoso bingung sendiri membawa tas bermotif bunga sakura milik Arumi.

Tarjo dengan sigap pun mengambil alih. "Biar saya aja yang bawa tasnya, Mas." Santoso menyerahkan tas Arumi kepada Tarjo. Mereka sedikit menepi agar tidak menganggu perjalanan pengunjung lain. "Aman, Mas?" Pertanyaan khas Tarjo, sekadarbertukar kabar atau memperbaharui kondisi terkini.

"Aman, Jo," sahut Santoso. Obrolan keduanya mengalir begitu saja, mengenai perkembangan Indonesia yang mandek, anak Tarjo yang tahun ini mengerjakan skripsi dengan biaya kuliah yang ditanggung Santoso serta hal-hal lucu lainnya. Seperti cara Tarjo menutupi ubannya dengan semir sepatu.

"Mas," Santoso mengihraukan panggilan itu walau rasanya suaranya terdengar familiar. Banyak pengunjung di bandara ini, siapa tau panggilan itu bukan tertuju padanya. "Mas?" Akan tetapi panggilan itu berulang tepat di belakangnya. Tarjo menyenggol lengan Santoso, memaksa Santoso memperhatikan.

Tanda SeruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang