77 - oleng dikit

17 2 3
                                        

"Non Hellen gak pamit ke Den Kenneth kah? Waduh Den, jangan marah ya. Mungkin Non Hellennya malu karena Den Kenneth kan punya pacar. Yang lalu Non Hellen cerita ke bibi si gitu." Bi Ijah memberikan informasi yang kemudian disesalinya karena merasa diri sudah membocorkan sesuatu yang harusnya dia diami saja.



 

Jantung Kenneth seolah akan berhenti saat itu juga. Mendengar informasi tambahannya semuanya makin parah. Tapi Kenneth malah mencoba menanyakan pertanyaan lain yang bisa membantunya saat ini.









 

 

"Tapi Hellen bakalan balik kesini kan Bi?" Bukan terdengar seperti pertanyaan melainkan permohonan.
















Bibi di seberang sana terdengar seolah gasping. "Kalo yang itu, Bibi gak tau Den. Soalnya-" Lagi-lagi ucapan Bi Ijah menggantung. Seolah terlalu berat untuk dikatakan.











 
"Soalnya apa Bi?" Tanya Kenneth tidak sabaran.


 

 

  



 





"Rumah udah dijual. Semua barang-barang mereka juga udah dikirim balik kesana. Jadi yah..." Bi Ijah menggantungkan kalimatnya, mengisyaratkan Kenneth untuk menyimpulkan informasi barusan sendiri.










 

Boom!






 




Kenneth terdiam sesaat. Informasi Bibi terlalu berat. Walau dia sudah menebaknya, tapi sebisa mungkin dia menghindari memikirkan jawaban itu. Hening sesaat. 


     

 







 
"Kapan Hellen balik ke Berlin Bi?" Kenneth bertanya sembari mengusahakan agar suaranya tidak bergetar.

 








 

"Lupa persisnya kapan. Tapi kalo gak salah malam itu Non Hellen pulang katanya dari rumah sakit udah penuh darah tuh sebadan-badan. Dia nangis-nangis semaleman, Mamanya nelpon Bibi sama Bapak nyuruh anterin dia ke bandara besok subuhnya. Tapi kalo gak salah sebelum ke bandara dia minta mampir di rumah sakit dulu Den. Bibi bingung dia gak ngasih tau jengukin siapa disana."




Air mata mengumpul di pelupuk mata Kenneth sembari dia menatap bangunan gelap di hadapannya. Rasa bersalah dan seribu satu perasaan lainnya menggerogotinya.




 

 
 


Tak terdengar suara Kenneth. Hanya suara dari deru napasnya yang agak kesusahan berjalan dengan baik.




 
   
 


  
 

"Den Kenneth?" Panggilan Bi Ijah beberapa detik setelah hening kemudian menyadarkan Kenneth.





 
 
 
 


   
 
Kenneth berusaha menetralkan suaranya. "Iya Bi. Makasih banyak ya Bi Ijah."



  





 
 
"Iya Den Kenneth."


 
      
 



  
 
  
Kenneth hendak pamit, tapi satu pertanyaan yang masih mengganjal di hatinya kembali bergejolak. " Tapi Bi Ijah, Hellen beneran baik-baik aja kan? Hellen gak kenapa-kenapa kan?" Tanya Kenneth lagi dan lagi.


    

 

 



  
     
"Kalo sehat sih setau bibi sehat-sehat aja Den. Cuman ya gitu, dia banyak murung. Sampai pas Bibi sama Bapak nemenin nganterin dia ke bandara, dia banyak nangis di jalan." Jawab Bi Ijah jujur.


   
 



  

 
  
  
 

Kenneth mengucap wajahnya kasar dengan tangan kirinya dan meninggalkan tangannya di sana menutupi area matanya sembari tangan kanannya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinga.





 
 
 

  

"Oh, okedeh Bi Ijah. Makasih banyak ya Bi. Maaf Kenneth udah ganggu waktunya."

 



 


  
 

"Iya Den."


 





  

"Kenneth pamit dulu ya Bi, salam ke Bapak. Makasih selama ini udah baik ke Kenneth. Bibi sama Bapak sehat-sehat disana dan sukses terus ya."


 





  
 
"Aduh den jangan gitu, Bibi jadi sedih kangen Non Hellen sama Den Kenneth nanti. Den juga nanti kalo ketemu Non Hellen salamin ya, baik-baik sekolahnya."




 


 

  

"Siap Bi."





 





 

"Okedeh Den."



 
 
  

    

  
 

Dan sambungan telpon pun terputus.







Kenneth menaroh kedua tangannya di kepala sambil menatap bangunan di hadapannya. Lagi. Semua perasaan di dalamnya bercampur aduk. Tidak tau harus bagaimana.






VIRAGO [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang