76 - petak ungpetz

33 2 7
                                        

Kenneth berhenti di depan rumah Hellen. Langit mulai berubah jadi warna biru gelap. Kenneth mengernyit menatap rumah Hellen dari depan sini. Namun dia lalu berdiri tepat di pagar.











"Selamat sore!" Serunya. Nihil, tidak ada yang menjawab








"Sore!" Seru Kenneth lagi. Saking gak sabarannya dia, dia mengguncang pagar.









"Pak Darto! Bi Ijah!" Panggil Kenneth dengan kencang dari luar pagar yang terkunci.








Kenneth mengernyit. Dia melihat ke pos satpam yang dekat dengan pagar. "Pak Darto!" Seru Kenneth.









"Pak Darto! Bi Ijah!" Panggil Kenneth sekali lagi.










"Hellen!" Kenneth memberanikan diri memanggil nama Hellen.






Namun tak ada jawaban. Jantung Kenneth mulai berdegup. Kenneth mengernyit, kenapa dia seaneh ini. Dia kembali mengguncang pagar sambil berseru-seru memanggil nama Bi Ijah dan Pak Darto.











Tak ada jawaban.










Tapi Kenneth tidak putus asa. Dia mundur beberapa langkah, mendongak melihat bagian atas pagar. Tiba-tiba dengan nekat manusia itu melompat naik ke atas pagar, lalu turun di bagian dalam rumah.







Tak peduli walau lukanya masih nyeri-nyeri sedikit. Kenneth berlari mencapai pintu rumah di bagian depan. Dengan segera Kenneth mengetuk pintu rumahnya.










"Selamat sore!" Sapanya.







"Selamat sore! Halo? Ada orang di dalam? Hellen? Bi Ijah? Pak Darto? Siapapun itu? Halo?" Panggil Kenneth sambil mengetuk pintu. Belum ada jawaban.











Kenneth mundur, lalu segera berlari ke arah pintu samping. Dia mengetuk berulang-ulang kali dan memanggil. Namun tidak ada suara. Hanya semangatnya masih ada. Dia beralih ke area belakang rumah. Walau ada satu pembatas yang harus dilompatinya lagi, tetap Kenneth lakukan. Dia mengetuk pintu belakang sambil memanggil-manggil.










Tapi tidak ada suara. Kenneth kembali ke pintu depan. Dia mengetuk beberapa kali namun situasinya masih sama. Dia lalu mundur beberapa langkah, berdiri di bagian depan rumah.











Kepalanya tengadah menatap salah satu jendela yang dibuat berbalkon itu. Dia melihat dengan sebuah kernyitan terukir di kedua alisnya. Bertanya-tanya, apakah memang ada seseorang yang dia cari di dalam sana.














Namun tak ingin menyia-nyiakan waktu lebih lama, Kenneth melihat sekitarnya, mencari kerikil kecil. Dia mengambil itu lalu melemparnya ke jendela kamar Hellen.






"Lennn!" Panggil Kenneth sembari meletakan kedua tangannya di dekat mulut membentuk corong agar suaranya makin kencang.








 
Tidak ada jawaban, perasaan aneh mengungkungnya, mencekat sesuatu di dadanya, membuat semuanya berkecamuk di dalam diri Kenneth sekarang. Kernyitan tidak kunjung hilang dari dahinya, namun begitu juga dengan harapannya untuk melihat Hellen hari ini. Dia tidak menyerah.










VIRAGO [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang