80 - yh lovenpis

15 2 1
                                        

Hellen terbangun karena pengunguman pendaratan pesawat oleh Pilot. Dia melihat ke luar jendela pesawat. Daratan luas terhampar di bawahnya.








 
 
Beberapa saat lagi mungkin pesawat akan segera landing. Namun Hellen tiba-tiba teringat sesuatu. Dengan segera dia mengambil tas punggungnya yang kebetulan dia pangku.
 









 





 
 
Hellen dengan segera membuka dan mencari sesuatu di dalam. Namun aneh. Dia tidak kunjung menemukan apa yang dia cari. Hellen rasanya akan membongkar semua isi tasnya saat itu juga namun ada orang dalam pesawat yang berdeham menunjukan rasa risih dengan suara grasak-grusuk yang ditimbukan Hellen. Hellen berhenti lalu mencoba mengeluarkan semua satu persatu.














 
Namun tidak ada. Buku catatan Kenneth yang tertinggal padanya sejak lama, yang tidak dia kembalikan hingga akhirnya dia temukan semalam. Hellen berniat mencurinya. Saat dia selesai packing dan waktu masih tersisa untuk dia pakai tidur, tidak dia manfaatkan sedemikian namun dia pakai untuk menulis apa yang ingin dia tulis disana - yang ternyata tidak sengaja berakhir sebagai ungkapan hatinya yang tidak bisa dia sampaikan.











 






 
Hellen meringis kesal. Kalung Kelinci yang dia tinggalkan pada Kuko merupakan tanda ada sedikit sekali bagian darinya yang dia ingin tinggalkan disana. Dan buku catatan yang dia curi dari Kenneth merupakan tanda ada sedikit sekali bagian dari Kenneth yang dia bawa diam-diam tanpa harus merugikan Kenneth.




 





Hellen menepuk dahinya beberapa kali dengan pelan. Tak perlu takut ada yang melihat, dia di kelas bisnis.









  

 


pake acara ketinggalan anjir, pasti dibuang Bibi - Hln












 

  
Tapi karena keteledorannya, dia hanya bisa meninggalkan sesuatu darinya tanpa membawa apapun dari sana. 












Berlin, Germany.









Hellen berjalan dengan berat hati sambil menggeret kopernya keluar ke area tunggu bandara. Langkahnya terhenti saat melihat seorang pria tinggi yang berdiri dengan coat hitamnya.








Tak ada lagi tatapan usil seperti biasanya, tak ada lagi muka ngeselin yang paling Hellen kesali. Pria itu hanya berdiri di sana dengan tatapan prihatinnya. Dia diam, tak seperti biasanya.









Hellen benci hal itu. Dia sudah berjanji takkan menangis, Namun tetap saja gagal. Dia diam mematung dengan air matanya yang menetes dikala manusia yang berdiri di depannya berjalan ke arahnya dan langsung menariknya masuk ke pelukannya.














 




 

Tak ada kata apapun yang keluar dari mulut Hellen, dia hanya sibuk menangis.








































Hellen tak mengucapkan apapun lagi, hanya sibuk menangis di pelukan kakaknya. Hizkia sendiri terlalu bingung harus mengucapkan apa.










"Mama sama Papa gak marah kan sama gua?" Tanya Hellen seiring tangisnya mereda.












"Ngapain marah? Lo gak salah." Jawab Hizkia.













VIRAGO [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang