67 - kospley subway surf anjay

22 1 1
                                        

Hellen menatap layar ponselnya dengan tangisan. Tersisa opsi nomor darurat. Suatu fitur yang tidak pernah Hellen kira akan dia gunakan dan akan membantunya. Namun kini dengan sisa-sisa kepasrahannya, Hellen menekan opsi itu, berharap ada secercah harapan yang membantunya.




Benar saja.


Tertera satu nomor disana.




Hellen tahu, dia tidak punya pilihan. Hellen menekan nomor itu, mencoba menelpon.




Dalam hati dia kembali berdoa, kali ini lebih kuat dari yang sebelumnya.




Untungnya berhasil. Manusia yang dia telpon di seberang sana mengangkat telponnya.




"Halo?" Suara familiar itu terdengar di telinga Hellen. Dalam sesaat semua harapannya kembali.






Hellen menjawab dengan tangisan yang sedari tadi tidak berhenti darinya. "Ken???? Ken tolongin gua Ken!! Kenneth please gua minta bantu sama lo asal sekali ini aja!! Ken gua dikejar sama cowok gak tau siapa. Tolongin gua."








"Hellen???? Lo dimana??!!" Suara panik dari seberang sana terdengar di telinga Hellen.






"Dekat rumah Della, di-" Suara Hellen setengah terputus, dia terengah-engah berlari dan harus mengambil napas.

"-Di gang setelah lo lewat rumah Della dan belok kiri. Gang satu-satunya di jalan itu." Hellen masih terengah-engah.




Bip bip






Bunyi nada penanda telpon telah putus terdengar di telinga Hellen. Saat itu juga rasanya Hellen akan mati. Namun Hellen tetap berlari. Dia hanya terengah-engah, semua rasa lelahnya teralihkan dengan ketakutannya saat ini juga. Kenneth tidak menunjukkan respon yang cukup menenangkan hatinya.






Hellen tau dia tak punya waktu untuk berhenti lagi, menunggu ponselnya tidak terblokir, lalu memasukkan password dan kemudian berlari lagi. Semua yang Hellen lakukan hanyalah berlari dan berlari. Air mata makin mengucur deras dari pipinya. Semua bayangan tidak mengenakkan muncul di kepalanya. Bagaimana jika dia diapa-apakan? Bagaimana dia harus melawan semua ini? Bagaimana dia harus keluar dari sini? Bagaimana jika dia mati di sini?




Hellen terus menangis.








Gelapnya jalan tidak membuat langkah Hellen memelan, tak peduli mau jatuh atau terperosok atau terantuk, Hellen hanya lari dan lari. Dia terus mengarungi jalan berkelok-kelok, berharap bisa membawanya tiba ke jalan yang lebih besar, ramai, dan lebih terang daripada ini.






Menit-menit berlalu dan Hellen masih berlari, namun lagi - naas menimpanya untuk yang kesekian kalinya hari ini. Kali ini yang paling mengerikan dari semua daftar nasib buruk yang terjadi pada Hellen hari ini. Napas Hellen seolah-olah akan berhenti menatap sisi pagar yang menjulang tinggi, melintang di hadapannya, menutupi akses jalan yang ada - buntu.

Langkah Hellen otomatis terhenti. Hellen menghapus air mata di pipinya. Namun Hellen tidak menyerah saat itu juga. Dia beranjak, kembali ke belokkan terakhir untuk kembali ke percabangan jalan dan kembali melarikkan diri ke jalan lain, namun momen dimana Hellen kembali ke jalan yang tadi dia lalui, motor si pengejar sudah berada di ujung sana, lampunya menyorot lurus dan tegas ke arah Hellen.





Mata Hellen membulat. Dengan segera dia melihat sekitarnya, mencari jalan lain atau setidaknya tempat yang bisa dipanjat dari pagar-pagar pembatas ini. Namun nihil. Hellen berlari ke tempat semula alias ke bagian jalan yang buntu, karena itu tinggal satu-satunya tempat yang tersisa sambil mendongak atau mencari sesuatu yang bisa membantunya memanjat.







VIRAGO [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang