Di sebuah kampung kecil yang dikelilingi oleh ladang sawit, nama Pak Cik Man bukan asing lagi. Dia terkenal sebagai seorang penjinak ular yang handal. Setiap kali ada penduduk kampung terserempak dengan ular, nama Pak Cik Man pasti disebut, dan dia segera dipanggil untuk membantu.
Satu petang, setelah hujan lebat, Kampung Seri Purnama kelihatan sunyi. Pak Cik Man sedang duduk di beranda rumahnya, menghisap rokok tembakau yang sudah separuh habis. Bunyi hujan yang masih menitik dari atap rumah kayu lama miliknya mencipta irama yang menenangkan, namun tidak lama kemudian, dia menerima panggilan dari seorang jiran. Ada seekor ular tedung selar besar yang dikatakan bersarang di bawah sebuah pondok rehat di hujung kampung.
Tanpa berlengah, Pak Cik Man mencapai beg galas kecilnya yang penuh dengan peralatan untuk menjinakkan ular. Sarung tangan kulitnya sudah lusuh, tetapi masih setia menemaninya. Sejak muda, Pak Cik Man telah berkawan dengan ular—bukan hanya menjinakkan mereka, tetapi juga memahami cara mereka bergerak, bernafas, dan menyerang. Ada satu rahsia yang Pak Cik Man simpan dengan baik, satu yang tidak ramai orang tahu. Bukan sahaja dia berani, tapi dia memiliki cara yang luar biasa dalam mengawal haiwan berbisa itu.
Sampai sahaja di pondok rehat yang dimaksudkan, beberapa orang kampung sudah berkumpul. Wajah-wajah mereka ketakutan, terutamanya anak-anak kecil yang turut dibawa untuk melihat dari jauh.
"Pak Cik Man! Cepat, ular besar tu masih ada di situ!" kata Rahman, salah seorang penduduk yang baru sahaja melihat kepala ular tedung muncul sebentar tadi.
Dengan tenang, Pak Cik Man melangkah ke hadapan. Dia menyuruh semua orang berundur dan tidak membuat bunyi bising. Dalam diam, dia berlutut, mengintai ke bawah pondok itu. Di situ, jelas kelihatan tedung selar yang berlingkar dengan matanya yang tajam, bersedia untuk menyerang bila-bila masa.
Namun, bukan panik yang terpancar di wajah Pak Cik Man. Dengan sebatang kayu panjang di tangan, dia mula mendekati ular itu, tapi bukan untuk memukul. Dia mengalunkan kayu itu dengan perlahan-lahan, seperti menari, dan dalam masa yang sama, dia bersiul perlahan—bunyi siulan yang khas dan hanya dia yang tahu.
Ular itu, yang pada awalnya kelihatan agresif, mula melonggarkan lingkarannya. Gerakannya perlahan-lahan menjadi tenang. Warga kampung yang menonton dari jauh terkesima. Mereka pernah melihat Pak Cik Man menangkap ular, tapi tidak pernah melihat sesuatu seperti ini. Seolah-olah Pak Cik Man bercakap dengan ular itu melalui siulan dan gerakan tangannya.
Setelah beberapa minit yang terasa seperti berjam-jam, ular itu akhirnya tidak lagi dalam posisi menyerang. Pak Cik Man, dengan lembut, mendekatkan tangannya ke kepala ular, menekan sedikit dengan kayu untuk mengelakkan ia bergerak terlalu cepat. Dalam satu gerakan pantas, dia menangkap leher ular itu dan mengangkatnya ke udara.
Orang kampung bersorak kegembiraan.
"Pak Cik Man memang hebat!" teriak Rahman dengan penuh kekaguman.
Tapi Pak Cik Man hanya tersenyum. Baginya, ini bukan tentang keberanian atau kemahiran, tetapi tentang penghormatan. Dia selalu percaya bahawa ular—seperti manusia—perlu dihormati, dan dalam kesederhanaan itulah dia menemukan kunci untuk menjinakkan mereka.
"Jangan sesekali takut pada ular," katanya kepada orang kampung, "Tapi jangan pula angkuh. Fahami mereka, dan mereka akan faham kamu."
Sebelum pulang, Pak Cik Man melepaskan ular itu jauh ke dalam hutan, di mana ia tidak akan mengganggu penduduk kampung lagi. Dalam perjalanan pulang, dia tersenyum sendirian, mengetahui bahawa rahsianya masih tersimpan rapi. Siapa sangka, siulan kecil yang dia pelajari dari arwah datuknya bertahun-tahun dulu adalah kunci untuk menjinakkan binatang yang berbisa itu.
Dan begitulah, Pak Cik Man pulang ke rumahnya, duduk kembali di beranda sambil menikmati rokok tembakaunya yang baru. Hujan mula reda, dan kampung kembali tenang—setenang hati Pak Cik Man yang tahu, walau sebesar mana pun cabaran, dengan ketenangan, semua boleh diatasi.
Malam itu, desa kecil di tepi hutan itu diliputi oleh keheningan yang tidak biasa. Biasanya, suara cengkerik dan katak akan memenuhi udara, tetapi malam ini, seolah-olah alam sedang menahan nafas. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma tanah basah setelah hujan lebat. Bulan purnama bersinar terang, memancarkan cahaya keperakan yang membuat bayangan pohon-pohon besar terlihat seperti makhluk hidup yang sedang mengintai.
Pak Cik Man, seorang lelaki tua yang dikenal sebagai pemburu ular handal di desa itu, sedang duduk di beranda rumahnya yang sederhana. Tubuhnya yang kurus terlihat tegap meski usianya sudah menginjak kepala enam. Matanya yang tajam memandang ke arah kegelapan hutan, seolah-olah menunggu sesuatu. Tangannya memegang tongkat kayu yang selalu dibawanya ke mana-mana, tongkat yang sudah menemani puluhan tahun perburuannya.
Tiba-tiba, suara gemerisik daun kering memecah kesunyian. Pak Cik Man menegakkan badannya, indranya langsung siaga. Dia tahu, suara itu bukan berasal dari angin atau binatang kecil. Ada sesuatu yang besar, sesuatu yang tidak biasa.
"Ular besar," bisiknya dalam hati. Dia bisa merasakan kehadiran makhluk itu, seolah-olah alam memberinya isyarat. Sebagai pemburu ular, dia memiliki naluri yang tajam, dan nalurinya sekarang berteriak bahwa ada bahaya yang mengintai.
Dengan langkah hati-hati, Pak Cik Man menuju ke belakang rumahnya. Tongkat kayunya dipegang erat, siap untuk digunakan kapan saja. Di sana, di antara semak belukar yang lebat, dia melihat bayangan panjang meliuk-liuk. Ular itu besar, sangat besar. Tubuhnya yang gelap berkilauan di bawah cahaya bulan, dan matanya bersinar seperti dua bara api dalam kegelapan.
Pak Cik Man menarik nafas dalam-dalam. Dia tahu ini bukan ular biasa. Ular sebesar ini seharusnya tidak ada di daerah ini. Tapi dia tidak punya waktu untuk berpikir panjang. Ular itu sudah meluncur ke arahnya dengan kecepatan yang mengerikan.
Pertarungan sengit pun terjadi. Pak Cik Man mengayunkan tongkatnya, mencoba memukul kepala ular itu. Tapi ular itu bergerak dengan lincah, menghindar dengan gesit. Ular itu kemudian melilit tubuh Pak Cik Man, mencoba melumpuhkannya. Tekanan dari lilitannya begitu kuat, membuat Pak Cik Man hampir tidak bisa bernafas.
Tapi Pak Cik Man tidak menyerah. Dengan tenaga terakhir, dia berhasil memegang kepala ular itu dan menekannya ke tanah. Ular itu mengeluarkan suara mendesis yang mengerikan, seolah-olah marah karena usahanya digagalkan. Pak Cik Man, dengan napas terengah-engah, mengeluarkan pisau kecil dari saku celananya dan bersiap untuk menghabisi ular itu.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Ular itu tiba-tiba berhenti melawan. Tubuhnya yang besar dan panjang mulai mengecil, seolah-olah menyusut. Pak Cik Man terkejut, matanya membelalak ketika melihat ular itu merayap masuk ke dalam seluarnya. Dia mencoba menarik ular itu keluar, tapi dia tidak bisa. Ular itu seolah-olah menyatu dengan tubuhnya.
Sejak malam itu, Pak Cik Man berubah. Dia sering terlihat bercakap sendirian, dan matanya kadang-kadang bersinar seperti ular. Penduduk desa mulai menjauhinya, takut dengan aura menyeramkan yang kini menyelimutinya. Anak-anak kecil yang dulu suka mendengarkan cerita-ceritanya sekarang lari ketakutan ketika melihatnya.
Suatu malam, seorang pemuda desa bernama Amir memberanikan diri untuk mengunjungi rumah Pak Cik Man. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada lelaki tua itu. Ketika dia tiba di rumah Pak Cik Man, dia melihat pintu rumah itu terbuka lebar. Suara bisikan-bisikan aneh terdengar dari dalam.
"Pak Cik Man?" panggil Amir dengan suara gemetar.
Tidak ada jawaban. Amir masuk ke dalam rumah, dan di sana dia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku. Pak Cik Man sedang duduk di sudut ruangan, wajahnya pucat dan kosong. Seluarnya bergerak-gerak sendiri, seolah-olah ada sesuatu yang hidup di dalamnya.
"Amir..." suara Pak Cik Man terdengar parau, seperti bukan suaranya sendiri. "Aku... aku tidak bisa melawannya lagi."
Amir ingin lari, tapi kakinya seperti tertanam di lantai. Dia melihat seluar Pak Cik Man mulai robek, dan dari dalamnya muncul kepala ular yang sama yang pernah dilihat Pak Cik Man di hutan. Ular itu mendesis, matanya menatap Amir dengan penuh kebencian.
Sebelum Amir bisa bereaksi, ular itu meluncur ke arahnya. Amir berteriak, tapi suaranya teredam oleh kegelapan malam. Esok harinya, penduduk desa menemukan rumah Pak Cik Man kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Pak Cik Man atau Amir. Yang tersisa hanyalah seluar Pak Cik Man yang tergantung di dinding rumahnya, dengan bekas liukan ular yang seolah-olah masih hidup.
Sejak itu, desa itu tidak pernah sama lagi. Penduduk desa sering mendengar suara mendesis di malam hari, dan kadang-kadang mereka melihat bayangan panjang meliuk-liuk di antara pepohonan. Mereka tahu, ular itu masih ada, dan siapa pun yang berani mendekatinya akan menghilang tanpa jejak.
YOU ARE READING
Naluri III
DragosteMasih mengisahkan tentang pencarian cinta sang arjuna dengan sesama jenis.
