"Minum dulu, " ujar Lena, sambil menyerahkan segelas air pada Mysha.
Mysha tentu menerima gelas yang berisikan air dari Lena itu, untuk diminum nya.
Dia tak tahu, dirinya benar-benar haus, atau gugup saat merasakan tatapan seorang pria tua yang rentah di seberang sana.
Itu suami baru bibi nya, wah. Mysha tak menyangka, setelah pamannya meninggal, dan bibi tak menikah lagi. Karena, dulu Mysha pikir wanita yang membesarkan nya ijin ini, tak akan mau memulai kehidupan baru lagi. Tapi, ternyata tidak.
Tapi, kenapa pria itu, tak berhenti menatap nya, dan Mysha juga bisa melihat raut terharu yang pria itu berikan kepada nya, bahkan matanya juga berkaca-kaca.
"Itu, suami baru bibi? " tanya Mysha, dengan berbisik.
Tentu, ia tak berharap suaranya terdengar oleh pria itu. Sedangkan sang bibi yang mendengar pertanyaan Mysha itu, awalnya tercengang, sebelum tertawa dengan pelan.
"Mysha. Jaga bicara mu, " ujar Lena memperingati.
"Tapi, dia sia--"
"Berapa usia kandungan mu? " Lena, sudah terlebih dahulu memotong pertanyaan yang akan Mysha berikan kepada nya.
"Ha? " kaget Mysha, sebelum melihat ke arah perutnya yang telah membesar itu.
Setelah itu, Mysha melihat Lena dengan gugup. "Ma-af, aku tidak melanjutkan kuliah ku dengan benar, malah berbuat sesuatu hal yang buruk, " ujar Mysha, lalu menundukkan kepalanya.
"Disini, bibi cuma bertanya tentang usia kehamilan mu, sayang. Bibi, tak menyalahkan mu. Ini takdir sayang, " ujar Lena dengan lembut. "Jadi, berapa usia nya, Mysha? " Lena kembali mengulang pertanyaan nya.
"5 bulan, Bi, " ujar Mysha dengan jujur, Lena yang mendengar itu, menganggukkan kepala nya, mengerti.
"Dia, baik-baik saja kan, kalau mendengar sesuatu yang mengejutkan? " tanya Lena dengan cemas.
Mysha yang mendengar pertanyaan Bibi nya itu, mengerutkan dahinya tak mengerti. "Maksudnya? "
"Dia akan baik-baik saja, kan? Kalau ibu nya mendapatkan sesuatu berita yang bisa dikatakan besar ini? " ulang Lena.
Entah kenapa pertanyaan ulang dari Lena itu, membuat jantung Mysha berdetak lebih cepat. Berita besar apa?
"Bi, ayah mana? " tanya Mysha dengan cepat. Sekaligus dengan raut paniknya.
Memang, sedari tadi saat dia datang ke arah apartemen yang disinggahi oleh Bibi nya, dia tidak melihat keberadaan ayahnya. Apa ayah nya baik-baik saja ? Tidak terjadi hal buruk kan dengan nya, sungguh Mysha dilanda oleh rasa cemas.
"Bi, mana ayah?! " ulang Mysha, dengan nada sedikit membentak.
Lena yang mendengar nada panik Mysha itu, menarik nafas pelan. Lalu, segera bangkit dari duduknya, berjalan menuju sebuah ruangan di apartemen ini. "Kamu ingin bertemu ayah Edwin? Kalau iya, kesini lah! " ujar Lena kepada Mysha.
Mysha yang mendengar ucapan bibi nya itu, segera bangkit dari duduknya untuk menghampiri sang Bibi.
Ternyata, Mysha diajak untuk memasuki sebuah kamar, di mana di sana Mysha bisa melihat keberadaan ayahnya, yang terbaring lemah. Namun, menatapnya dengan penuh kehangatan.
"Ayah mu beberapa waktu lalu menjalankan operasi, dan sekarang sedang dalam masa pemulihan. Dia merindukan mu. Jadi, silahkan ke sana, " ujar Lena memberitahu.
Mysha yang mendengar itu, menganggukkan kepala nya, lalu berjalan menuju sang ayah. Mengenggam tangan nya, untuk di cium.
"Ayah, Mysha rindu, " ujar Mysha dengan serak. Menciumi tangan sang ayah tiada henti nya.
Sedangkan Edwin, hanya mengelus rambut sang putri dengan lembut. Menyalurkan rasa kasih yang di miliki nya.
Kegiatan berbagi cinta dan kasih itu tak luput dari perhatian seorang pria, yang sekarang menghapus air mata yang mengalir di pipi nya sendirian.
Lena menyadari kehadiran pria itu, dia tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Dia tak bisa memberikan fakta itu sekarang. Dia begitu peduli dengan kehadiran anak yang sedang Mysha kandung.
Menarik nafas kasar, Lena memutuskan untuk keluar kamar, membiarkan Mysha dan Edwin melepas rasa rindu nya.
Sekalian, dia harus memberikan pengertian pada pria itu, apa kondisi yang sekarang dihadapi, harus penuh hati-hati.
***
Bima mengendarai mobilnya dengan cepat, tak peduli dengan pengendara lain. Sekarang, dia hanya sedang dilanda oleh rada bingung.
Bingung dimana dia harus mencari Mysha, saat dia tidak mengetahui siapa orang terdekat wanita itu. Tempat dimana Mysha akan mencari pelindung dirinya.
Bima hanya tahu Mysha mantan Rendy, dan tak mungkin wanita itu kesana untuk mencari perlindungan. Terlebih mereka hanya sepasang mantan kekasih yang saling memanfaatkan, tanpa adanya cinta.
Teman kampus wanita itu? Bima rasa mereka tak sedekat itu. Kenapa Bima tahu, bahkan di saat Bima sering tak masuk kampus, teman-tamanya itu, tak mencari keberadaan istri nya itu.
Lalu, siapa yang harus Bima temui, sebagai petunjuk dalam menemukan istri kecilnya?
Ayah dan Bibi wanita itu? Tidak mungkin. Bima saja, masih belum menemukan keberadaan dua orang itu
Padahal, Bima sudah mengarahkan bawahannya untuk mencari, tapi tetap saja tak bertemu.
Lalu, bagaimana cara Mysha menemukan nya, saat wanita itu tak memiliki apapun.
Sial! Bima tak mengerti kenapa kejadian ini bisa terjadi. Apa alasan wanita itu pergi, meninggalkan nya, setelah kebahagiaan yang mereka ukir kemaren bersama.
"Sudah ketemu? " tanya Bima to the point, saat salah satu bawahannya, menghubungi nya.
"Tidak ada rekaman yang kami dapat, Pak. Hanya rekaman saat Nyonya berada di lantai bawah, keluar dari apartemen. Karena, setelah Nyonya keluar, CCTV mendadak mati, pak. "
Penjelasan yang diberikan bawahannya itu mendengus. "Cari baik-baik, temukan istri saya dalam kondisi yang sehat! "
Setelah mengatakan itu, Bima segera mematikan panggilan nya, lalu melemparkan ponsel nya kebelakang.
Setelah itu, Bima mengacak-acak rambut nya dengan kasar. Melampiaskan rasa pusing yang ia terima.
Bima berjanji, pada dirinya. Siapapun yang membuat istrinya meninggal nya pergi, akan mendapatkan balasan yang setimpal nanti nya.
Bima tampak nya memang mendendam, saat melihat tangan pria itu, mencengkam stir mobil dengan kencang nya.
Dengan masih mengendarai mobil nya, Bima menyusuri pinggir jalan, berharap sang istri di sana.
Namun, harapan yang Bima pinta tidak terwujud, karena sampai malam. Tak ada satupun kabar bahagia yang Bima dapatkan.
Siapa orang dengan power tinggi, menutupi keberadaan Mysha, kenapa orang-orang Surya tak menemukannya sana sekali.
Merasa tak mendapatkan hasil, Bima kembali ke apartemen dengan perasaan jenuh, bahkan di perjalanan pulang, pria itu hampir mencelakai banyak orang.
Tapi dia tak peduli, dia lebih peduli dengan keberadaan istri nya dan anak mereka, yang masih dilindungi oleh perut istri nya.
Setelah sampai di apartemen, Bima langsung menjatuhkan dirinya di sofa, menghirup banyak banyak wangi istri kecilnya itu, karena memang disini kegiatan mereka sering dilakukan.
Tidur, nonton, ciuman, dan bercinta tadi. Sebenarnya masih banyak, tapi hanya itu yang bisa Bima katakan.
T. B. C
KAMU SEDANG MEMBACA
Mysha(21+)
ChickLitSemua orang tahu, seberapa tak suka nya Sabrina Mysha dengan dosennya yang bernama Bima Wiratama Surya. Karena pria itu selalu menatap tajam kearah nya ditengah jam perkuliahan berlangsung. Dan, karena satu kondisi, dia harus menjebak dosennya itu...
