Bab-49

40.9K 2.1K 2
                                        

Sekarang, Mysha sedang berada di balkon, seorang diri, menatap bangunan-bangunan tinggi yang ada di sini.

Kemarin malam, dia sudah menemui Edwin, menanyakan bagaimana kesehatan pria itu. Dia sudah berbincang banyak hal, yang tentunya tentang kesehatan pria itu.

Pria itu tak bertanya tentang kehamilan nya. Tapi, Edwin sempat mengelus perutnya dengan lembut.

"Panas banget, apa tidur siang dulu? Tapi, belum minum susu. Buat susu dulu deh, " ujar Mysha, lalu berjalan masuk, menuju dapur, untuk membuat susu.

Namun, langkah Mysha harus terhenti saat melihat seseorang yang sedang sibuk dengan gelas dan susu hamilnya, pria itu tampak sedang memanaskan air untuk susu hamilnya.

Merasa diperhatikan, pria itu mendongakkan kepala nya, dan tampak terkejut saat melihat Mysha berdiri tak jauh dari nya.

"Ah, saya hanya ingin membuat kan kamu susu hamil, " ujarnya pelan.

Mysha yang mendengar itu, mengerjapkan matanya pelan, dan juga merasa terharu, sungguh.

Apa pria itu yang selama dia disini yang membuatkan susu hamilnya? Karena, Mysha sadar, dia akan mendapatkan susu hamil di atas meja setiap hari dengan keadaan yang masih panas. Seolah tahu kapan dia meminumnya.

Mysha pikir , yang membuat itu bibi nya, tapi pria yang masih belum berani ia panggil papa itu.

"Saya pikir, kamu belum mau keluar, " ujarnya.

Ya, hari ini memang pertama kali nya keluar kamar, setelah sebelumnya mengurung diri. Walaupun, kemarin dia juga keluar tempat Edwin, tapi hanya sebentar dan hanya itu tujuan nya.

"Jadi, selama ini, papa yang membuat kan aku susu? "

Pertanyaan yang Mysha berikan membuat Roberto mengerjap kaget, dan Mysha bisa melihat raut terharu dari pria itu.

"Pa-pa? " tanya Roberto pelan.

"Iya, aku bingung mau manggil apa. Boleh aku panggil papa?" tanya Mysha, sambil jalan mendekat, dan mulai meraih gelas dengan susu hamil itu, mulai meneguk nya, namun tersentak saat merasakan masih begitu panas, hingga membuat lidah nya mati rasa.

"Panas, " keluh Mysha, sambil mengibaskan tangan nya di dekat lidah.

Roberto yang berada di samping Mysha berdecak. "Air nya belum lama mendidih, seharusnya kamu bisa merasakan dulu."

" Biasanya juga bisa langsung minum, "Keluh Mysha.

"Ya karena sudah lama disiapkan,dan itu juga diantar kedalam kamar. Kenapa ceroboh sekali, seperti ibu mu!"Kesal Roberto.

Mysha yang tadinya kesal, karena di marahi mendadak tersenyum.

" Jadi, ibu juga ceroboh?"

Mysha tak tahu, harus berterimakasih atau tidak pada air panas yang telah membuat lidah nya mati rasa itu, atau tidak. Karena, air itu, dia jadi bisa berbicara dengan ayah kandung nya.

Sejujurnya, Mysha dari kemarin ingin berbicara dengan pria itu, tapi ia bingung harus memulai dari mana. Selain itu, dia juga kesal pada pria itu, kenapa tidak mengajak nya berbicara?

"Hmm, dia juga ceroboh. Sudah mau mengobrol dengan saya? "

"Papa tahu, seharusnya papa yang mengajak aku ngobrol dulu, bukan aku. " Mysha mengatakan itu , sambil melipat tangannya didada.

"Saya ingin sekali, tapi saya takut di tolak, " ujar Roberto dengan jujur.

"Aku tidak mungkin menolak, karena terlalu banyak hal yang ingin ku tanyakan. Boleh sekarang ku tanyakan? " ujar Mysha, pelan.

Mysha(21+) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang