Jeonghan menatap sinis pria bermata bulat yang duduk diseberang nya. Ia juga menatap orangtuanya dengan pandangan bosan. Sial sekali, ia harus terjebak pada acara perjodohan ini berkedok makan malam.
"Jadi, bagaimana? Kapan pernikahan nya dilaksanakan?" Kata-kata tersebut membuat Jeonghan jengkel setengah mati. Hei, dia tidak ingin perjodohan ini. Dasar orangtua kolot, batinnya mencaci maki orang-orang yang ada pada tempat tersebut. Rasanya Jeonghan ingin sekali memaparkan bahwa ia sudah mempunyai pacar dan ini juga bukan lagi jaman Siti Nurbaya yang harus ada perjodohan-perjodohan begini.
"Bulan depan bisa. Lagipula lebih cepat lebih baik, bukan?" Jeonghan menghela nafas kasar mendengar perkataan sang ibu. Tangan nya mengepal, ia benci seperti ini.
"Tentu saja, lebih cepat lebih baik. Seungcheol kau setuju kan?" Nyonya Choi menoleh ke arah sang anak dan ia tersenyum gemas saat sang anak mengangguk sembari tersenyum lembut kepada sang ibunda. Jeonghan yang melihat hal tersebut hanya bisa menahan diri untuk tidak berteriak kepada laki-laki bermata bulat tersebut.
"Jeonghan?" Panggilan tersebut membuat Jeonghan mengalihkan perhatian nya kepada sang ibu yang kini menatap nya geli. Jeonghan yang melihat tatapan sang ibu hanya bergumam jengkel, menahan diri sebaik mungkin agar tidak merusak citra nya sebagai anak yang sopan.
"Jadi, bagaimana Jeonghan? Kau setuju?" Tidak ada pilihan lain selain menganggukkan kepala nya dengan pasrah. Terima atau tidak, perjodohan ini tetap akan berjalan dan Jeonghan tidak bisa menghindar begitu saja.
Jeonghan menatap sekilas ke arah Seungcheol, laki-laki yang dijodohkan dengan dirinya dan ia segera memalingkan wajahnya ketika Seungcheol menatap diri nya dengan senyum yang terbingkai di bibir.
Malam itu dilalui dengan lancar, penuh kehangatan dan tawa. Namun, tidak untuk Jeonghan, ia jengkel. Mata tajam nya terus melihat Seungcheol bagaikan musuh, musuh yang memporak-porandakan dirinya.
....
Hari yang ditunggu-tunggu semua orang pun tiba, kecuali Jeonghan, justru ia berharap bahwa hari ini tidak akan terjadi.
Jas hitam dengan sedikit sentuhan corak emas, melambangkan kemewahan terpasang pas di tubuhnya, ia menatap dirinya dalam cermin, berdiri gagah seolah siap menyambut hari istimewa ini, muka nya terkesan datar, tidak ada senyuman, hati nya berteriak, 'aku tidak ingin pernikahan ini, sialan.'
"Jeonghan, ayo" Tegas, tidak ada bada basi sama sekali. Ayahnya berjalan berdampingan dengan Jeonghan, tidak ada percakapan antara keduanya. Hanya seperti dua orang yang tidak saling kenal. Lagipula, Jeonghan juga malas berbicara, ini bukan keinginan nya. Membayangkan hal yang akan terjadi kedepan saja membuatnya geli dan jijik setengah mati.
Suara musik yang mengalun lembut menyadarkan nya dari pikiran bodoh nya, ia menatap pintu gereja yang terbuka dan menampilkan segerombolan anak-anak yang berjalan dengan keranjang kecil penuh bunga, ditengah-tengah ada Seungcheol yang berjalan anggun dengan baju jas putih disulam dengan emas di samping nya, mewah dan indah. Namun, Jeonghan hanya menatap datar pria tersebut, tidak ada kekaguman sedikitpun dalam dirinya pada pria itu melainkan rasa muak dan jijik.
Seungcheol tersenyum tipis dibalas Jeonghan dengan tatapan malas, ia memalingkan muka ke arah ayah Seungcheol dan tersenyum formal tanda hormat.
"Aku serahkan Seungcheol padamu, anak yang akan menjadi pendamping hidup mu. Tolong jaga dia dengan baik" ucap papa Choi dengan tersenyum ketika menyatukan tangan mereka berdua dan menatap Jeonghan berharap.
"Aku berjanji akan menjaganya dengan baik, papa tidak usah khawatir. Aku akan melindungi dan menyayangi nya sepenuh hatiku" ujar Jeonghan menatap Seungcheol dengan senyum tipis, senyum yang dipaksakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crack Pair/Seungcheol Bottom/Uke
RomanceCuma imajinasi saya doang tentang Seungcheol uke STOP PLAGIARISME. KALAU MAU TENAR PAKE KARYA SENDIRI JANGAN PAKE KARYA ORANG LAIN. HARGAI KARYA ORANG DENGAN TIDAK MEMPLAGIAT KAN NYA.
